76. Calon Suami?

4.8K 362 8
                                        

Nia kembali mengunjungi apartemen Feby tepat setelah lunch dengan perwakilan pihak brand untuk membahas masalah yang sedang mereka hadapi saat ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nia kembali mengunjungi apartemen Feby tepat setelah lunch dengan perwakilan pihak brand untuk membahas masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.

Pertemuan tadi bisa dibilang lancar karena pihak brand mau bekerja sama dengan baik. Mereka percaya dengan semua yang dikatakan Nia, atau mungkin pura-pura percaya agar masalah ini cepat selesai.

Nia berpikir seperti itu karena dia hampir tidak pernah menjumpai ketulusan di dalam bisnis. Jika tidak keuntungan, ya kerugian.

Nia langsung menuju kulkas setelah memasuki apartemen Feby. Dia mengambil air dingin dari dalam kulkas lalu meminumnya tanpa permisi pada si tuan rumah yang sedang menonton film di ruang tengah.

Hingga saat ini Feby masih belum Nia perbolehkan menonton siaran nasional, jadi dia memutuskan untuk menonton Netflix selama mengurung diri di apartemen.

“Gue tadi udah ketemu pihak brand. Mereka bilang mereka nggak tahu menahu soal modus pelecehan yang dilakuin fotografernya. Itu murni niat dari fotografernya sendiri yang didukung beberapa kru. Dan, mereka semua yang terlibat udah dipecat.”

Nia berjalan menghampiri Feby. Dia duduk di sebelah Feby yang kini mengecilkan volume televisinya dan beralih fokus menatapnya.

“Mereka beneran nggak tahu atau cuma lepas tangan?” tanya Feby sinis.

Biasanya kan memang begitu. Jika bawahannya bermasalah, atasannya akan lepas tangan, pura-pura tidak tahu padahal sebenarnya tahu.

Nia mengedikkan bahu. Dia hanya berusaha berpikir positif terhadap mereka. “Yang pasti mereka ada di pihak kita. Mereka tadi juga minta maaf atas kejadian nggak mengenakkan yang lo alami selama kerja sama dengan mereka. Sebagai gantinya, pihak kita nggak perlu bayar penalti atas berakhirnya kontrak kerja sama ini.”

Entah mereka benar-benar tidak tahu modus sang fotografer atau sedang lepas tangan, yang pasti sejauh ini dukungan mereka cukup menguntungkan. Nia banyak terbantu dengan keberpihakan mereka pada Feby.

“Kenapa mereka pilih ada di pihak kita?” tanya Feby heran. Dia pikir mereka akan balas menyerangnya.

“Mereka kan bisa dibilang perusahaan baru, belum begitu gede. Kalau mereka dukung fotografer itu, nama perusahaan mereka yang bakal terancam. Apalagi sekarang dukungan lebih banyak mengarah ke lo. Mungkin mereka cuma pengin cari aman. Kita bisa manfaatin dukungan mereka itu buat membersihkan nama baik lo.

"Gue tadi juga udah minta rekaman CCTV-nya sama pihak sana, dan pihak sana bersedia ngasih. Itu bisa jadi bukti mutlak tindakan kurang ajar fotografer itu sama lo. Kalau perlu, kita buat konferensi pers. Pihak brand juga nggak keberatan buat ikut speak up biar menguatkan klarifikasi lo.”

“Sebenarnya gue nggak pengin memperpanjang masalah ini. Gue cuma pengin fotografer itu minta maaf dan ngakuin kesalahannya di depan publik. Tapi kalau dia nggak ada niatan buat minta maaf, ya udah kita buat konferensi pers sama pihak brand. Rekaman CCTV itu juga udah cukup buat membersihkan nama baik gue tanpa pengakuan fotografer itu.”

Shilly-ShallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang