66. Menampung Mantan

6.6K 448 14
                                        

Entah apa yang Feby pikirkan hingga dia akhirnya memilih membawa Januar ke apartemennya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Entah apa yang Feby pikirkan hingga dia akhirnya memilih membawa Januar ke apartemennya. Dia hanya tidak tahu harus memulangkan cowok itu ke mana. Tidak ada informasi sama sekali tentang tempat tinggal cowok itu.

Di sisi lain, Feby juga sudah lelah karena pulang selarut ini. Dia ingin cepat-cepat istirahat kalau saja tidak dititipi beban seberat ini.

Feby menghentikan mobilnya di depan lobi gedung apartemen lalu melangkah menghampiri salah satu security yang sedang berjaga malam ini untuk membantunya memapah Januar.

Feby tidak kuat kalau harus melakukannya sendiri karena tubuh Januar sangat berat. Cowok itu juga sedang dalam keadaan tidur sekarang. Tubuhnya akan terasa lebih berat daripada saat dia setengah sadar tadi.

“Maaf, Pak, bisa minta tolong bantu papah teman saya? Teman saya lagi mabuk berat,” ucap Feby meminta tolong pada security bernama Bagus.

“Bisa, Mbak. Ayo.”

Mengingat ini bukan pertama kalinya Bagus melakukan itu—membantu penghuni apartemen yang sedang mabuk menuju unitnya—dia sama sekali tidak keberatan melakukannya. Dia langsung mengikuti Feby menuju mobilnya yang terparkir sembarangan.

Tepat setelah Feby membuka pintu belakang, Bagus terkejut hingga bola matanya membesar melihat siapa yang ada di sana. Selama dia menjadi security di gedung apartemen ini, dia sama sekali belum pernah melihat orang itu pulang dalam keadaan mabuk seperti ini.

Ini baru pertama kalinya. Anehnya, orang itu juga sedang bersama seseorang yang Bagus ketahui sebagai penghuni baru apartemen ini.

Apa mereka sudah sangat dekat, ya, sampai Januar bisa pulang dalam keadaan seperti ini bersama tetangga barunya itu meskipun mereka baru bertetangga belum genap seminggu?

“Lho, Mas Januar?!” gumam Bagus terkejut.

Feby tidak merasa aneh dengan reaksi Bagus karena Bagus mungkin memang mengenal Januar mengingat Januar pernah tinggal di apartemen ini.

“Mari saya antarkan sampai ke unit Mas Januar,” ucap Bagus sebelum membantu mengeluarkan Januar dari dalam mobil Feby.

“Unit Januar? Dia masih tinggal di sini?” Feby menatap Bagus dengan mengerutkan dahi.

Sebenarnya itu bisa saja terjadi karena Feby sendiri tidak tahu apa yang membuatnya sampai berpikir kalau Januar sudah tidak tinggal di unitnya yang dulu.

Bagus menggaruk kepalanya mendengar pertanyaan Feby. Sepertinya cewek itu juga dalam pengaruh alkohol sampai tidak menyadari kalau Januar masih tinggal di sebelah unitnya sampai detik ini.

“Kayaknya mbak ini juga mabuk,” gumam Bagus lirih sampai Feby tidak bisa mendengarnya.

“Pak, kok malah natap saya kayak gitu? Kenapa? Ada yang salah?” tanya Feby saat mendapati Bagus sedang menatapnya menyelidik.

Shilly-ShallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang