PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sambil membawa semangkuk bakso dan es kelapa di atas nampan, Feby melangkah santai menuju salah satu meja yang masih kosong.
Wajahnya terlihat datar. Tatapannya hanya fokus ke depan. Dia tidak memperhatikan sekitarnya, termasuk pada Januar yang sedang duduk di meja yang baru saja dia lewati.
Feby menyadari keberadaan cowok itu. Dia memang sengaja tidak menyapa atau menghampirinya seperti yang biasa dia lakukan karena sakit di hatinya masih belum hilang. Dadanya masih sesak mengingat perlakuan Januar meskipun itu sudah terjadi beberapa jam lalu.
Akhirnya Feby berada pada titik di mana dirinya tidak bisa memaafkan Januar begitu saja. Biasanya dia bisa dengan mudah memaafkan dan melupakan apa yang Januar lakukan padanya.
Penolakannya, kata-katanya yang menyakitkan, dan sikap abai Januar, semua itu masih bisa Feby toleransi. Dia hanya akan merasakan sakit sebentar lalu bersikap seperti tidak terjadi apa-apa beberapa jam kemudian. Dirinya sudah kebal dengan itu semua.
Namun, tidak dengan ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Apalagi status hubungan mereka sudah berpacaran. Feby merasa Januar kali ini sudah keterlaluan.
Di mejanya, mata Januar mengikuti sosok Feby yang berlalu begitu saja di depannya. Cewek itu sama sekali tidak mau meliriknya padahal Januar yakin Feby menyadari keberadaannya karena mejanya tepat berada di sebelah jalan yang baru saja dilewati cewek itu.
Tatapan Januar tidak lepas dari cewek itu. Dengan sorot mata tajam, dia mengiringi Feby yang tengah berjalan menuju meja yang masih kosong dan bersih, tanpa adanya gelas dan mangkuk kotor di atasnya. Cewek itu duduk di sana seorang diri.
Januar cukup heran karena biasanya Feby selalu bersama temannya yang bernama Era. Dia jarang ke kantin sendiri. Hanya saat ingin bergabung dengan meja Januar saja dia ke kantin sendirian.
Dan, kini cewek itu lebih memilih duduk sendirian dibanding ikut bergabung dengan meja Januar seperti yang biasa dia lakukan saat punya niatan mengganggu Januar.
Entah kenapa Januar merasa tidak suka melihat Feby mengabaikannya seperti ini padahal sebelumnya dia menganggap kehadiran Feby layaknya gangguan.
Mungkin karena terselip rasa bersalah di hati Januar hingga membuatnya merasa seperti itu. Tidak mungkin kan dia mulai menganggap keberadaan Feby penting dalam hidupnya?
“Tumben si Feby nggak nyamperin lo?” tanya Navy yang masih belum tahu kalau Feby tengah marah pada Januar dan mendiamkannya hingga saat ini.
Kejadian tadi pagi hanya diketahui Januar dan Elgar saja. Mereka belum menceritakannya pada Navy dan Damar karena menurut mereka, kedua teman mereka itu tidak perlu tahu. Tidak penting juga untuk kelangsungan hidup mereka.
Lagi pula, bagaimana mau menceritakannya kalau sejak tadi kepala Januar mumet. Selama pelajaran dia hanya tiduran di bangkunya saja.
Beberapa kali dia melirik kontak Feby berniat mengiriminya pesan berisi permintaan maaf, tapi urung karena itu hanya akan semakin memperlihatkan jika dirinya bukan laki-laki gentle.