9. Tetangga Unit

7.9K 530 25
                                        

Ting!Lift berdenting setelah sampai di lantai tujuan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ting!

Lift berdenting setelah sampai di lantai tujuan. Pintu besi itu perlahan terbuka. Tampak seorang cewek cantik berada di baliknya. Seseorang yang kini sedang tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Ekspresinya menggambarkan dengan jelas bagaimana perasaan hatinya saat ini.

Bagaimana dia tidak bahagia kalau pada akhirnya dia bisa tinggal berdekatan dengan gebetannya.

Kakaknya sudah mengizinkannya. Begitu pula orang tuanya yang menyetujui keinginan Feby untuk pindah ke apartemen kakaknya meskipun mamanya tampak sedikit berat membiarkan Feby meninggalkan rumah.

(Flashback on.)

Sembari mengumpulkan nyali, Feby menikmati makan malamnya dalam diam. Dia ingin mengungkapkan keinginannya untuk tinggal bersama kakaknya pada kedua orang tuanya nanti setelah makan malam selesai.

Kini dia sedang merangkai beberapa alasan yang bisa membuat orang tuanya setuju untuknya tinggal di apartemen kakaknya.

Garpu dan sendok yang kini Feby letakkan di atas piring kosong menandakan jika dia telah menghabiskan makan malamnya. Pandangannya kini hanya tertuju pada kedua orang tuanya yang duduk di depannya. Dia menatap mereka bergantian.

Jantungnya sudah berdetak cepat sejak beberapa saat lalu. Dia takut tidak diizinkan, atau paling parah diinterogasi oleh papanya karena tiba-tiba ingin pindah.

“Mmm... Ma, Pa, aku boleh nggak, pindah ke apartemen kakak?”

Di bawah meja, kedua tangan Feby saling meremas, gugup.

“Lho kenapa kok tiba-tiba pengin pindah ke sana?” tanya Mama terkejut.

“Aku pengin nyari suasana baru, Ma. Bosan di rumah,” jawab Feby beralasan.

“Emang kakak kamu ngizinin kamu tinggal di sana?” tanya Papa, karena dia tahu Maysha tinggal di apartemen bukan hanya ingin lebih dekat dengan kampus, tapi juga karena dia ingin meminimalisir war di antara dirinya dan Feby yang sering terjadi hanya karena hal sepele. Namun, sekarang Feby malah berniat menyusul tinggal di apartemen.

“Ngizinin, kok.”

Tatapan Papa mengisyaratkan seolah dia ragu dengan ucapan Feby. Dia sangat mengenali kedua anaknya. Pasti si adik telah melakukan sesuatu hingga kakaknya mengizinkannya.

“Kamu kan bisa sekali-kali main ke sana, By. Nggak perlu pindah segala.”

“Tapi, aku penginnya tinggal di sana, Ma. Nanti kalau aku udah bosan, aku balik ke sini lagi, kok,” ucap Feby meyakinkan mamanya agar mengizinkannya.

“Gimana bisa bosan di rumah kalau waktu kamu di rumah aja cuma sebentar,” sahut Papa.

Waktu yang Feby habiskan di luar rumah memang lebih banyak dibanding di rumah. Bahkan saat weekend sekalipun.

Selain karena sistem full day yang sekolahnya terapkan, kegiatannya sebagai model sekolah juga membuatnya jarang ada di rumah.

Bibir Feby mengerucut mendengar ucapan papanya.

Shilly-ShallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang