73. Pemotretan

3.8K 415 20
                                        

Feby membuka aplikasi WhatsApp

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Feby membuka aplikasi WhatsApp. Pesannya dari tiga hari yang lalu belum dibalas oleh Januar. Dia juga tidak pernah bertemu lagi dengan cowok itu sejak Januar memergokinya makan siang dengan Andreas.

Apa cowok itu marah karena mengira Feby sedang membuka hati untuk orang baru?

Seharusnya Feby tidak perlu peduli, sayangnya dia tidak bisa. Dia kepikiran, takut jawabannya saat itu membuat Januar salah paham dan berpikir macam-macam tentangnya.

Feby hanya bisa menunggu balasan cowok itu karena dia gengsi harus mengirim pesan atau menelepon Januar duluan.

Feby tidak tahu kalau tepat keesokan harinya, Januar pergi ke Flores menemani omnya untuk mengecek perkebunan kopi di sana.

Dia tidak marah ataupun menghindari Feby. Dia hanya terlalu sibuk untuk sekedar mengganggu Feby seperti biasanya.

"Yang nggak berkepentingan, tolong keluar ruangan. Syuting akan segera dimulai!" ucap salah satu kru dengan suara keras.

Hari ini Feby ada syuting iklan untuk produk body wash dan body scrub. Dia ditemani Nia selaku manajernya.

Kini mereka duduk di ruangan yang akan menjadi tempat syuting sambil menunggu kru menyiapkan semua keperluan syuting.

Meskipun mendengar suara kru itu, tapi Nia tidak berniat beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa dirinya termasuk orang yang diperbolehkan tinggal di ruangan karena modelnya yang akan syuting. Siapa tahu Feby nanti membutuhkan dirinya.

"Mbak, tolong keluar. Selain kru dan model, tidak diperkenankan tinggal di ruangan." Kru tadi kembali bicara saat melihat Nia tidak kunjung beranjak pergi.

"Tapi--"

"Nggak apa-apa, lo tunggu di luar aja. Tolong sekalian bawa barang-barang gue, ya," potong Feby meyakinkan Nia.

Nia tampak enggan meninggalkan Feby, tapi akhirnya dia pergi juga dengan membawa barang-barang pribadi Feby. Kini tinggal Feby bersama para kru dalam ruangan itu.

Seorang wanita yang Feby perkirakan umurnya beberapa tahun di atasnya langsung menghampirinya setelah Nia pergi. Dia mengarahkan Feby ke ruang ganti dan menyuruh Feby memakai handuk karena shoot pertama adalah dirinya mandi di bawah shower sambil memakai body wash yang dia iklankan.

Feby melepas pakaiannya dengan menyisakan strapless bra dan celana pendek lalu memakai handuk.

Saat mematut dirinya di cermin untuk melihat penampilannya, Feby merasa handuk yang dia pakai ini terlalu pendek. Panjangnya bahkan tidak sampai setengah paha.

Membuka pintu, Feby menyembulkan kepalanya ke luar. Dia memanggil Ami--nama wanita tadi-yang ternyata masih menunggunya di depan ruang ganti.

"Maaf, Mbak, handuknya nggak ada yang lebih panjang dari ini?" tanya Feby dengan menampilkan tubuhnya keseluruhan di hadapan Ami untuk menunjukkan kalau handuk yang Ami berikan terlalu pendek.

Shilly-ShallyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang