PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi ini Januar kembali mengunjungi unit Feby. Dia memanfaatkan sisa cutinya untuk menemani cewek itu karena dia tahu Feby sedang kesepian dan tidak bisa ke mana-mana.
Keseharian Feby hanya menonton film dan drama saja. Bahkan dia sudah menamatkan drama China yang episodenya mencapai 30 lebih. Januar mengetahuinya dari Feby sendiri yang mengatakannya kemarin.
Syukurnya Feby tidak begitu memikirkan masalahnya. Dia masih tampak menikmati aktivitasnya sebagai orang gabut selama beberapa hari.
Kondisi Feby saat ini jauh lebih baik dari yang Januar perkirakan. Mungkin dia sudah berdamai dengan keadaan.
“Ada apa kamu pagi-pagi datang ke unitku?” tanya Feby setelah membuka pintu. Matanya menatap Januar malas.
Jika saja tidak mendengar suara ketukan pintu, mungkin saat ini Feby masih rebahan di kasur sambil bermain game di ponselnya.
Tidak ada jadwal membuat Feby terbiasa bermalas-malasan di atas kasur sampai siang. Entah kapan terakhir kali dia breakfast karena akhir-akhir ini dia selalu makan menjelang jam makan siang. Bahkan dia juga biasanya tidak mandi sampai sore. Dia hanya akan mencuci muka dan gosok gigi saja di pagi hari.
Feby benar-benar terlihat seperti pengangguran yang malas. Dan, pagi ini dibuat kelimpungan karena ketukan pintu sudah terdengar sebelum dia mencuci muka dan menggosok giginya.
Secepat kilat Feby melesat ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi sebelum akhirnya membuka pintu unitnya yang sejak beberapa saat lalu terus diketuk oleh tamu tidak tahu waktu.
“Mau sarapan,” jawab Januar dengan tersenyum geli saat melihat penampilan Feby saat ini.
Wajah mengantuk cewek itu masih terlihat jelas. Piyama bergambar kartun We Bare Bears masih membungkus tubuhnya yang tinggi dan ramping. Rambutnya tampak kusut dan dibiarkan tergerai begitu saja. Januar menduga kalau Feby hanya menyisir rambutnya dengan jari saja.
Feby yang sekarang berbeda dengan Feby yang dulu, yang masih mengejar-ngejar Januar. Kalau Feby yang dulu pasti tidak akan menemui Januar dengan penampilan seperti ini. Dia akan menemui Januar dengan penampilan terbaiknya untuk membuat Januar tertarik padanya.
Sementara Feby yang sekarang tampak apa adanya. Dia tidak peduli kalau pun harus menemui Januar dengan penampilan acak-acakan seperti ini.
Itu yang dipikirkan Januar. Padahal sebenarnya Feby sangat ingin berlari ke kamar dan mandi.
Feby memang tidak peduli dengan penampilannya yang seperti ini karena Januar sudah pernah melihatnya, tapi tidak dengan bau badannya. Ini penampilan perdana Feby belum mandi di depan Januar.
Tadi Feby pikir yang datang kalau bukan Nia ya mamanya. Dia tidak berpikir kalau yang akan datang pagi-pagi seperti ini adalah Januar.
Kalau tahu Januar yang akan datang dia pasti akan menyempatkan mandi meskipun mandi bebek, atau paling tidak dia bisa menyemprotkan parfum ke tubuhnya.