PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Raut kecewa terpampang jelas di wajar Feby. Matanya menatap sendu pada mobil Januar yang belum juga melaju setelah dirinya turun.
Entah apa yang cowok itu lakukan hingga membuang-buang waktunya selama beberapa menit padahal waktu terus berjalan. Bisa saja Maretta sekarang sudah menunggunya.
Feby memutuskan untuk tidak peduli. Dia melangkah sedikit menjauhi mobil lalu meraih ponselnya dari dalam saku seragam. Dia berniat memesan taksi online.
Meskipun Januar tadi menyarankannya untuk meminta jemput Aprilio, tapi Feby tidak akan melakukannya. Dia tidak mau merepotkan Aprilio. Kemungkinan jam segini Aprilio juga sudah berangkat.
Tidak lama setelah itu mobil Januar mulai melaju menjauhinya. Rasa sesak terasa mencengkeram dada Feby saat melihat kepergiannya.
Dia benar-benar kecewa pada Januar. Rasanya masih tidak menyangka Januar tega menurunkannya di pinggir jalan. Apalagi itu dilakukannya demi cewek lain.
Sakit yang Feby rasakan karena diturunkan di pinggir jalan ini lebih menyakitkan dari penolakan-penolakan yang Januar lakukan sebelumnya. Dia merasa dibuang.
Ucapan cowok itu yang menyarankan Feby untuk memutuskannya juga tidak kalah menyakiti hati Feby.
Menghela nafas berat, Feby mengalihkan pandangannya dari mobil Januar yang kini terlihat sangat kecil. Dia kembali menatap layar ponselnya. Dia harus segera mendapatkan taksi sebelum semakin siang.
Feby jadi menyesali tindakannya sendiri yang masih mencoba menebeng pada Januar. Sekarang lihat ending-nya, dia ditelantarkan begitu saja di pinggir jalan.
Kalau saja tadi dia langsung memesan taksi online pasti saat ini dia sudah sampai di sekolah. Bukan malah terdampar di trotoar seperti ini.
Saat tinggal sedikit lagi pesanannya selesai, suara klakson mobil tiba-tiba terdengar. Feby refleks mendongak.
Ternyata itu bukan suara klakson mobil Januar, tapi mobil seseorang yang masih satu habitat dengan Januar. Orang itu kini keluar dari mobil dengan gaya bak model iklan mobil.
Feby hanya bisa geleng-geleng kepala. Pantas saja cowok itu sukses menjadi buaya. Orang penampilannya saja sangat mendukung kelakuan berengseknya itu.
“Ngapain lo di situ?” tanya Elgar sembari berjalan mendekati Feby.
“Nunggu taksi.”
“Apa nggak kurang jauh? Rumah lo kan nggak di daerah sini.”
Ekspresi sendunya kini sirna. Dia tidak ingin menunjukkannya di depan Elgar.
Yang terlihat sekarang adalah Feby yang baik-baik saja seolah kejadian barusan tidak begitu mempengaruhinya padahal sebenarnya dia sangat terpukul dengan sikap Januar terhadapnya.