Zaki memejamkan matanya, dan merasakan penyesalan karena telah menjamah Mika tanpa izin.
Saat ingin berjalan keluar Kafe, Ali menghentikan langkahnya didepan Zaki.
“Lo hutang penjelasan ke gue, bro.” Ucap Ali seraya melanjutkan langkah kakinya keluar Kafe dengan terus menggandeng Mika.
Tampak raut wajah Zaki kebingungan.
Mika segera keluar Kafe menyusuri jalan arah parkiran. Mika dan Ali memasuki mobil.
Dengan wajah kebingungan dan mata sudah memanas pertanda Mika ingin menangis meledak dengan kencangnya, tiba-tiba saja Ali membuyarkan perasaan Mika saat itu.
“Kamu kenapa sih, Mik? Kenapa tiba-tiba langsung mengajakku pulang? Aku lagi asyik-asyik dansa juga sama Amira. Malah aku shock tiba-tiba saja kamu menarik tanganku.” Sungut Ali yang sedang sibuk menghidupkan mesin mobil dan akan segera memasang sabuk pengaman.
Tanpa panjang lebar ternyata air mata Mika tumpah juga tak bisa terbendung lagi.
“Hwaaaaaaaaa.. Bang Aliiiiiiiiiiiii....” Tangis Mika disertai rengekan manja. Mika menutupi wajahnya yang telah memanas bercampur dengan luberan air mata. Basah dan makin basah.
“Lah, kamu kenapa sih, Mika?” Ali menoleh kearah Mika dan manatap tajam matanya.
Mika tidak menjawab, ia tetap menangis terisak semakin menjadi.
Ali tidak menanyai Mika lagi, ia langsung mendekat dan memeluk Mika untuk menenangkan Mika yang sudah banjir air mata.
Tangis Mika sedikit mereda. Ya, Mika selalu diperlakukan baik oleh Ali. Ali sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Mika selalu dijaganya sejak kecil.
Mika selalu benar-benar dibuat nyaman olehnya.
“Sssstttt.. Sudah, sudah. Jangan menangis lagi. Nanti make up nya luntur semua jadi jelek deh. Kan hari ini kamu cantik banget. Masa dandanannya dirusak begini. Jelek ah, tuh kan jelek!” Ledek Ali terkekeh dan sedikit mendongakkan wajah Mika ke atas supaya terlihat olehnya.
“Ih, menyebalkan!”
“Ya, habisnya tiba-tiba menangis nggak jelas. Memangnga kamu kenapa? Diapain sama Zaki?” Ali tampak penasaran ingin sekali ia mendapatkan info kenapa Mika bisa sampai menangis seperti ini.
“Aku ditembak sama Zaki.”
“Nah, terus?” Ali sedikit mengernyitkan dahinya dengan rasa penasaran.
“Memang di tembaknya pakai senapan?” sambungnya kembali.
Mika merengek kembali layaknya anak bocah yang sedang dimanja.
“Lah, ditanyain juga.” Imbuh Ali lagi dan lagi.
“Nggak lah, Bang. Kalau pakai senapan ya aku mati.”
“Terus?”
“Iya, aku ditembak sama dia.”
“Kamu terima?”
Mika mengangguk perlahan tanda mengiyakan pertanyaan Ali.
“Hahaha bagus dong, lalu apa yang kamu tangisi, Mikayla sayang.” Pipi gembul Mika seketika dicubit keras oleh Ali.
“Ih, sakit!”
“Ya sudah ceritakan ke abang, apa yang sudah membuat kamu sampai menangis seperti ini?”
“Zaki menciumku Bang Ali, Hwaaaaaaaaaaaa.” Ungkap Mika dan dilanjutkan kembali menangis histeris memeluk tubuh kekar Ali.
“Yassalam, hanya gara-gara itu kamu menangis, Mika? Hahahhaaa lucu banget ah kamu ini.” Ali menertawakan Mika seraya mengusap-usap punggung Mika yang masih berbalut dengan gaun berwarna hitam elektrik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perawat Incaran Om-Om
RomanceMikayla adalah Perawat Gigi. Ia telah dikhianati oleh pacarnya sendiri yang berselingkuh dengan teman seangkatan perawat. Pacarnya adalah seorang anggota Polri. Namun cintanya kandas menjelang 2 tahun sebelum pernikahannya. Namun ia mengakhiri hubun...
