" Mika? Kamu ngapain makan sendirian disini? Sudah malam loh. Nanti kalau tiba - tiba ada yang datang menemani tapi bukan manusia bagaimana?" Goda Ali pada Mika yang tampak asyik melahap makanannya.
" Biarin aja, mendingan ditemani yang bukan manusia dari pada harus ditemani sama manusia!" Sahut Mika dengan entengnya.
" Lah kok begitu? Kalau benar ada yang datang bagaimana?" Lagi - lagi Ali menggoda Mika yang tidak sedikitpun menoleh kearahnya.
" Biarin aja, aku ajak berteman. Dan aku suruh dia nanti buat menakut - nakuti orang - orang yang munafik." Ujar Mika dengan sedikit kesal.
Ali mengernyitkan dahinya hingga berkerut.
" Munafik? Siapa yang munafik?" Ali bertanya dengan wajah sedikit serius.
" Ya banyak lah di dunia ini yang munafik. Aku ga bisa jabarin satu - persatu." Tegas Mika.
Ali mengangguk pelan.
" Ohh iya, besok aku dinas ke Semarang selama tiga hari. Kamu ga apa - apa kan dirumah sendiri?" Tanya Ali untuk memastikan apakah Mika akan baik - baik saja selama dirumah sendiri.
" Iya santai, udah biasa aku mah apa - apa sendiri." Jawab Mika dengan santai.
" Yakin?" Tanya Ali kemudian.
" Iya bang, udah deh jangan bawel aku lagi nikmatin makanan. Aku lapar!" Mika masih saja melahap makanan nya dengan lahap.
" Okay kalau begitu, jangan terima Zaki ya kalau dia minta main ke rumah?" Perintah Ali.
" Memang kenapa?" Tanya Mika.
" Kan tempo hari kamu hampir dilecehkan Mik, masa kamu mau membuka peluang buat dilecehkan lagi? Waspada itu penting." Seru Ali dengan tegas seraya memberikan peringatan kepada sepupu kesayangannya itu.
" Iya iya."
" Apalagi aku melihat dia..... "
Ali langsung menutup mulutnya untuk tidak jadi melanjutkan pembicaraannya. Karena belum saatnya Mika mengetahui ini. Dan belum cukup banyak bukti untuk Ali berikan kepada Mika. Karena Mika pasti tidak akan percaya dengan berita yang tidak banyak bukti, yang ada ia akan mengira bahwa pemberi informasi mengada - ada dan bohong.
" Melihat dia apa?" Kali ini Mika langsung menolehkan pandangannya ke arah Ali.
" Ga jadi Mik. Udah ya aku mau siap - siap buat berangkat besok. Jangan tidur malam - malam ya. Good Night!" Ali langsung membalikkan tubuhnya dan langsung berjalan meninggalkan Mika yang masih penuh tanda tanya dalam otaknya.
***
" Kak, bagaimana Mika merepotkan kamu tidak?" Tanya Naila pada Dian.
Keduanya sedang memasak di dapur untuk membuat menu makan siang.
" Alhamdulillah Nai, Mika aman. Palingan sesekali berantem sama Al. Maklum lah ya." Sahut Dian yang sedang memotong - motong kentang.
" Bagaimana tentang perjodohan apakah dilanjutkan?" Tanya Naila kembali.
" Sepertinya gagal Nai, soalnya Janice menerima lamaran Ali." Jelas Dian pada adik satu - satunya.
" Ohh begitu ya. Ya sudah ga apa - apa kak. Mungkin memang mereka tidak berjodoh." Sahut Naila yang seperti nya agak kecewa, karena ia berharap untuk Mika menikah dengan Ali karena Naila cukup paham dan mengerti sifat dan sikap Ali. Ia ingin Mika mendapatkan laki - laki yang tepat dan terus menyayangi Mika sampai kapan pun.
" Ehh jangan salah Nai, Allah punya rencana lain. Manusia hanya bisa berencana namun Allah yang menentukan. Siapa tau menjelang pernikahan Janice dan Al tiba - tiba ada kendala atau bahkan gagal." Ucap Dian dengan asal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perawat Incaran Om-Om
Storie d'amoreMikayla adalah Perawat Gigi. Ia telah dikhianati oleh pacarnya sendiri yang berselingkuh dengan teman seangkatan perawat. Pacarnya adalah seorang anggota Polri. Namun cintanya kandas menjelang 2 tahun sebelum pernikahannya. Namun ia mengakhiri hubun...
