Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Ia Datang

162 1 0
                                        

Mika hanya menghabiskan waktunya menonton drakor, tanpa menggubris banyak pesan yang telah masuk ke dalam ponselnya.

Bahkan nomor Zaki pun sudah ia blokir karena baginya sangat mengganggu ketika sedang menonton drakor.

Tok,, tok,, tok,,

" Mikaaaa!" Teriak Dian dari balik pintu kamar Mika.

Mika yang mendengar suara ketukan tantenya itu langsung beranjak dan berjalan menuju pintu kamarnya.

" Iya Tan?" Sahut Mika ketika knop pintu kamar telah ia buka.

" Tante pergi dulu ya sama Om. Ada urusan sebentar." Ucap Dian yang sudah rapi berdandan layaknya Ibu Pejabat yang cantik dan elegan.

" Lama ga tan?" Tanya Mika dengan wajah penuh tanya.

" Mungkin pulang malam Mik. Kamu sendirian ya? Al juga baliknya malam. Kamu ga apa-apa tante tinggal dulu?" Dian tampak sedikit khawatir karena akan meninggalkan keponakan kesayangannya itu.

Mika tampak berpikit sejenak.

" Hmm ga apa-apa tan. Santai aja!" Jawab Mika yang tidak ingin membuat tantenya khawatir.

" Ya sudah, Tante pergi dulu ya. Kamu kalau mau pergi kemana-kemana kabarin tante atau Al aja. Kalau kamu lapar, tante udah siapin lauk dan sayur dilemari makanan ya. Nanti tinggal panaskan aja kalau kamu mau yang panas." Dian menjelaskan dengan detail dan berakhir mengecup pucuk kepala Mika.

" Hati-hati Tan." Sahut Mika sambil mencium punggung tangan Dian.

Dian dan Omar pergi meninggalkan Mika seorang diri di rumah.

Membuat Mika semakin bete dan ingin pergi saja untuk sekedar mencuci mata.

Kemudiam ponsel Mika ada notifikasi pesan masuk.

Ia langsung melihat pop-up pesan scroll dari atas.

" Janice? Ngapain dia chat aku?" Mika langsung membuka pesan dari Janice.

(Janice: Mika, kamu lagi apa? Aku ganggu ga?)

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Mika membalas pesan Janice, disamping itu Mika juga penasaran ada maksud apa tumben Janice mengirimkan pesan untuknya.

(Mika: Lagi nonton drakor kak, kenapa kak?)

(Janice: Ada yang mau aku bicarakan, pingin ketemu tapi aku sibuk ga ada waktu)

(Mika: Ohh iyaa, lewat chat juga ga apa-apa kak)

(Janice: Jadi gini, belum lama ini Al melamarku buat menikah. Cuma aku masih belum berani jawab Mik dan aku belum siap buat menikah. Aku takut Al marah lagi sama aku seperti yang sudah-sudah, bagaimana ya Mik kira-kira?)

Mata Mika langsung melotot ketika membaca bagian Al melamar untuk menikah.

Ada perasaan kesal dan emosi saat membacanya.

Uhhh kenapa sih? Apakah Mika cemburu?

Hatinya kenapa tiba-tiba menjadi panas?

(Mika: Sekarang begini deh kak, kalau kakak memang ga berniat buat menikah sama bang Al, mending kakak lepasin aja bang Al. Jangan dibiarkan menggantung bahkan mungkin cinta bertepuk sebelah tangan)

(Janice: Maksud kamu apa Mik?)

(Mika: Yaa aku sih cuma menjawab dengan apa yang aku lihat dan aku pandang aja kak. Aku sebenarnya juga ga mau terlalu ikut campur hubungan kakak dan bang Al. Kalau memang kakak cinta dan sayang sama bang Al, ketika bang Al mengajak menikah harusnya kakak senang dong. Bukan malah menghindar terus. Dan kalau memang kakak selalu menolak ajakan bang Al buat menikah, seperti yang aku bilang. Lepasin bang Al. Karena bang Al juga butuh bahagia kak. Bang Al butuh sosok yang mau mengerti dia dan sayang sama dia. Karena usia bang Al juga sudah cukup untuk menikah. Mau sampai kapan bang Al menunggu kakak yang ga ada kepastiannya. Mendingan bang Al mencari perempuan yang memang sudah siap untuk menikah)

Perawat Incaran Om-OmCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang