" Ali, Tante Dian. Kok kalian ada disini? Ali sakit ya?"
Suara yang tidak asing terdengar pada indera pendengaran Ali dan Dian.
Dengan kompak mereka menoleh ke arah sumber suara tersebut.
" Haiii Janice." Sapa Dian kepada Janice. Mereka saling berpelukan karena cukup lama mereka tidak bertemu.
Ali hanya melihat Janice dengan sekilas, karena masih kesal dalam hatinya ketika mengetahui pacar yang ia cintai pergi dengan laki-laki lain.
" Ali sakit tante?" Tanya Janice kembali dengan penasaran.
" Iya Jan, insyaAllah besok sudah diperbolehkan pulang. Kamu kenapa jarang main ke rumah?" Sahut Dian yang langsung mempersilahkan duduk disebelah Ali.
Ali duduk terhimpit antara mamanya dan Janice. Sangat tidak mengasyikan sekali, terlihat raut wajah Ali yang tadi ingin menikmati suasana di sore hari harus musnah seketika karna kedatangan Janice.
" Hehehee iya tante, aku sibuk kerja. Ali juga kebetulan dinas terus."
Janice menjawab dengan nada pelan dan lirih sambil sesekali melirik wajah Ali yang sedikit asam.
Belum sempat menjawab percakapan Janice, ponsel Dian berdering.
Segera ia merogoh ponsel yang berada di dalam tas jinjing warna putih tulang.
" Hallo iya Pa?" Rupanya Omar yang telah menelponnya.
" Ohhh iyaa, tunggu ya mama kesitu." Ucap Dian kemudian disusul terputusnya panggilan suara itu.
" Al, mama ke tempat papa dulu ya. Kamu tunggu disini aja ditemani Janice. Ga apa-apa kan Janice?" Ujar Dian yang tampak terburu-buru ingin segera menghampiri Omar.
Ali mengangguk pelan. Disusul anggukan Janice.
" Iya tante, aku akan temani Ali." Sahut Janice.
" Terima kasih ya Janice, nanti tante kesini lagi kok. Ini ada perlu sebentar." Dian segera berjalan menjauhi Ali dan Janice.
Tinggalah Ali dan Janice berdua ditemani suara gemercik air dari kolam ikan.
Kedua nya membisu. Janice kemudian berdehem pelan.
" Al, kamu masih marah ya sama aku? Kamu sakit apa sayang? Sejak kapan kamu sakit? Kok ga info ke aku kalau kamu di rawat?" Janice akhirnya membuka pembicaraan supaya tidak canggung dan sepi layaknya kuburan.
Ali hanya diam membisu tidak menghiraukan ucapan dari Janice.
Janice segera berpindah posisi berjongkok dihadapan Ali dan menumpukan kedua tangannya ke kedua lutut Ali.
" Bangun ga? Malu dilihatin banyak orang." Pinta Ali dengan segera dan berusaha menyuruh Janice untuk berpindah duduk menjadi disebelahnya.
" Habisnya kamu ga jawab pertanyaan aku. Aku kangen banget sama kamu sayang." Janice sedikit melembutkan suaranya agar Ali menjadi iba.
" Bukannya kamu yang sibuk ga pernah ada waktu buat aku? Kamu selalu sibuk jalan dengan laki-laki lain! Makanya kamu lupa sama aku." Ali tampak meluapkan segala uneg-uneg yang ada di hatinya.
" Ya ampun sayang, kamu yang selalu dinas terus sampai ga ada waktu buat aku. Dan laki-laki yang kamu maksud itu cuma saudara jauh aku." Janice menjelaskan dengan seksama agar Ali kembali ceria dan semangat lagi kalau bersamanya.
" Ya namanya pekerjaanku begini. Mau ga mau ya kamu harus paham konsekuensinya. Sejak awal kamu juga tau kan? " Ali tidak ingin profesinya disalahkan oleh Janice.
Janice diam menunduk.
" Yakin itu laki-laki saudara kamu walaupun jauh? Saudara bisa juga jadi pacar asal kamu tau." Ali menambahkan kemudian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perawat Incaran Om-Om
RomanceMikayla adalah Perawat Gigi. Ia telah dikhianati oleh pacarnya sendiri yang berselingkuh dengan teman seangkatan perawat. Pacarnya adalah seorang anggota Polri. Namun cintanya kandas menjelang 2 tahun sebelum pernikahannya. Namun ia mengakhiri hubun...
