Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Rasa Yang Tak Pernah Ada

76 1 0
                                        

" Mika, semoga kamu dalam keadaan baik - baik saja sayangku." Gumam Ali sembari meneteskan air matanya.

Matanya menerawang jauh ke langit luas. Ia memandang bulan dan bintang begitu cantik di atas sana.

Dengan angin semilir yang menerpa wajahnya yang telah terkena tetesan air matanya membuat ia semakin merasakan dinginnya angin malam itu.

" Mikaaa, kamu dimana? Kamu sedang apa?" Gumamnya kembali.

Ali tampak sangat tidak bersemangat sekali.

Ia seperti induk kehilangan anaknya, ehhh salah hahahaa seperti anak kehilangan induknya.

Maaf ya Author ikutan galau. Pingin rasanya mengusap - usap dan peluk si Ali. Tapi apa daya, hanya sebuah angan - angan saja, hikss

**

" Bang Ali, aku disini. Aku kangen kamu bang. Apakah kita bisa bertemu kembali bang?" Gumam Mika diwaktu yang bersamaan.

Mika masih saja menatap langit - langit luas. Dengan rebahan di teras bambu, bisa ia nikmati untuk dapat melihat luasnya alam semesta. Sepertinya itu menjadi tempat favorit Mika untuk saat ini.

Ilyas yang baru saja menyelesaikan sholatnya, segera menghampiri Mika kembali. Dengan masih mengenakan baju koko, kain sarung dan pecinya.

" Mikayla, kamu mengapa belum tidur? Ini sudah larut malam. Nanti kamu malah semakin sakit. Kalau semakin sakit nanti kamu ga bisa pulang bertemu dengan keluarga kamu. Bagaimana? Tidur ya, sudah malam. Besok pagi kita ke Pak RT." Ucap Ilyas membuyarkan lamunan Mika kala itu.

" Eh, iya Ilyas. Sebentar lagi aku akan tidur. Tapi untuk saat ini aku masih menikmati suasana disini Yas. Boleh kan?" Tanya Mika.

" Iya boleh, tapi ini sudah malam Mika. Nanti Ibu bangun lihat kamu belum juga tidur, Ibu akan jadi khawatir." Ucap Ilyas begitu lembut membuat Mika nyaman berbicara dengan Ilyas.

Sosok Ilyas hampir menyerupai dengan Ali.

Mika hampir menemukan kepribadian Ali ada pada Ilyas.

Waduhhhhh... Jangan sampai Mika jatuh hati dengan Ilyas nih. Apa kabar dengan Bang Ali? Heemmm...

" Ilyas, kamu bisa mengaji?" Tanya Mika.

" InsyaAllah bisa sedikit - sedikit Mika." Jawab Ilyas.

" Kok sedikit - sedikit? Boleh aku mendengar suara kamu mengaji? Biasanya abang sepupu aku yang selalu melantunkan suara ngajinya, kadang dia juga suka menyanyi. Kalau sudah mendengar suaranya aku baru bisa tidur Ilyas." Ucap Mika menjelaskan pada Ilyas.

" Oh ya? Is he someone special to you, Mika?"

Tanya Ilyas pada Mika kembali.

" Yes, of course. Dia abang sepupu yang sangat baik. Aku dekat banget sama dia, dari kecil hingga saat ini. Bahkan aku juga telah di jodohkan dengan dia. Dan saat ini aku kangen mau bertemu dengan dia Ilyas." Air mata Mika menetes di pipi. Matanya memerah dan terasa panas.

Ilyas yang melihatnya menjadi iba. Ingin ia mengusap air mata Mika namun ia tidak cukup nyalinya untuk sampai kesitu.

" Yang sabar ya. Semoga kamu cepat bertemu dengannya. Aku akan membantu kamu." Ucap Ilyas begitu yakin.

Membuat Mika langsung tersenyum.

" Oh ya, ayo buruan!" Pinta Mika.

" Buruan apa?" Tanya Ilyas bingung.

" Ihh, ayo tunjukan suara kamu. Aku mau mendengarnya." Pinta Mika kembali.

" Ohh hehe, oke. A'udzubillahiminasyaitonirojim bismillahirohmanirohim.. Iżā waqa‘atil-wāqi‘ah, Laisa liwaq‘atihā kāżibah, Khāfiḍatur rāfi‘ah.... " Ilyas akhirnya melantunkan ayat suci Al-quran nya surat Al-Waqiah.

Perawat Incaran Om-OmCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang