Chapter Fourteen: Queencard - 4

196 41 2
                                    

Tidur setelah mabuk memang menyenangkan. Akan tetapi, bangun dari tidur itu yang terasa sangat menyakitkan. Yerim tidak pernah suka masa-masa di mana dia bangun setelah mabuk. Kepalanya langsung diserang rasa sakit yang berlebihan. Baru membuka mata sekali, ia langsung menutupnya lagi. Cahaya lampu yang masuk ke retina membuatnya lelah bahkan setelah istirahat yang cukup. Keinginan untuk bangun segera sirna, Yerim meringsuk ke dalam selimut untuk mencari kehangatan.

Kenyamanan tidak sesuai dengan yang ia ingat. Otaknya yang mulai bekerja, memproses memori yang tersisa. Gambar demi gambar tentang kejadian semalam mulai terlihat, meski mata tertutup, alis Yerim mengerut. Dia kesulitan membedakan tiap ingatan. Dia tidak tahu mana yang merupakan kenyataan atau halusinasi. Sebagian dari gambar itu bahkan terasa terlalu nyata, walau akal sehat menolaknya.

Yerim gagal kembali tidur. Dia tidak mendapatkan kenyamanan yang sama. Dia merasa tidak selesa. Pergerakan tubuhnya terkekang oleh pelukan. Ini bukan yang pertama kali, sehingga dia tahu rasa sempit ini pasti karena seseorang tengah memeluknya. Mau tak mau dia membuka mata. Dia mengintip sedikit, tiba-tiba khawatir dengan memori yang tersisa di kepalanya. Semalam ... bagaimana itu berakhir?

Yerim menemukan dirinya di dalam pelukan Bomin. Pemuda itu memeluknya dengan erat. Satu hal aneh sekaligus melegakan adalah mereka berpakaian lengkap. Baik Yerim maupun pemuda itu, tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda bahwa pakaian mereka pernah dibuka. Itu mengejutkan, namun juga bagus.

Bomin adalah tipe orang yang cukup sulit dibangunkan saat tidur, sehingga pergerakan Yerim yang mencoba mengubah posisi tubuh tidak mempengaruhinya sama sekali. Rasanya sempit, dia sulit bergerak. Tempat ini sudah ia kenali sebagai apartemen Hyunjin walau ia sekarang sepertinya menempati kamar Sungchan. Seharusnya dia bisa meregangkan tubuhnya, namun ternyata kasur itu padat penduduk. Setelah ia memperhatikan lebih jelas, ternyata si pemilik kamar bersama sahabatnya juga tidur di sana. Bahkan untuk kasur King Size, empat orang sangat padat.

Entah bagaimana dia bisa berakhir di sana.

Yerim sudah sepenuhnya sadar. Kepalanya masih berputar, ia tak mau meninggalkan bantal dulu. Sambil menatap langit-langit, dia ingin menyusun ingatannya. Dia ingin tahu apa saja yang dia lakukan sampai bisa berakhir di sana.

Hal yang ia bisa ingat dengan jelas adalah dia minum beberapa gelas sebelum pergi ke toilet sendiri. Penyebab dia minum sedang tertidur sekarang, dia juga ingat bagian itu. Sayang sekali kejadian itu bukan mimpi. Setelah dari toilet, dia ditarik oleh Hyunjin ke belakang gedung klub. Ingatan di bagian itu sudah mulai kabur. Dia ingat terlibat adu mulut, namun bagusnya dia berhasil membuat Hyunjin berjanji membawanya ke kasino kakaknya. Setelah itu ... Yerim tidak yakin lagi dengan ingatannya.

Ia masih punya sedikit bayangan tentang apa yang terjadi semalam. Sesuatu yang dia tak yakini akan dia lakukan. Dia tidak bisa membedakan mimpi dan tidak. Keduanya samar. Lagi, kelanjutan di mana dia bisa berakhir tidur di kamar itu pun juga misteri. Mengapa bersama Bomin? Mengapa di kamar Sungchan? Mengapa masih berpakaian? Semuanya sama sekali tak teringat.

Masih dalam posisi terombang-ambing bersama pikiran, Yerim dikejutkan dengan Sungchan yang tiba-tiba memeluknya. Pemuda itu mendekapnya tanpa peringatan. Matanya masih tertutup, tetapi dia tersenyum. Sudah pasti dia melakukannya dengan sengaja. Tak seperti dirinya dan Bomin yang berpakaian lengkap, Sungchan dan Giselle hanya dibalut selimut.

Yerim dengan segera menjauhkan tangan yang mencoba menyentuh tubuhnya lebih banyak. Daripada pelukan, ia terkesan seperti sedang dilecehkan.

"Ayolah, ini masih pagi Sayang."

Sungchan mencoba memeluknya lebih erat, Yerim segera menyingkirkan tangannya.

Karena ditolak, akhirnya pemuda itu membuka matanya juga.

THE GAMBLER 2: Big League🔞 | TXT & EN-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang