Semuanya pun keluar dari tempat yang selama ini menjadi tempat tinggal Jung woo di desa itu, lalu gadis kecil yang tadi mengantarkan mereka mendekat.
"Tabib woo mau kemana?"
"Yi, aku harus pergi ke istana karena ada pekerjaan."
"Apa artinya tabib woo tidak akan kembali?"
"Aku pasti kembali, kau tenang saja." Ucap Jung woo tersenyum dan gadis kecil itu ikut menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Yang mulia?" Jaemin lantas melihat kearah renjun.
"Saya akan satu kuda dengan tabib Jung woo."
"Baiklah." Ucap jaemin mengerti lalu diapun naik keatas kudanya dan Jung woo membantu renjun naik ke kuda lebih dulu baru dia menaiki dan mereka menunggangi kuda itu, tapi baru beberapa kilo berjalan kuda yang dikendarai Jung woo dan renjun kehilangan keseimbangan dan membuat baik Jung woo ataupun renjun terjatuh dari kuda itu. Membuat semuanya berhenti bahkan jaemin langsung tergesa turun lalu memastikan kondisi keduanya.
"Apa baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja yang mulia. Bagaimana denganmu renjun?"
"Kakiku sakit, tapi bukan hal yang buruk." Ucap renjun lalu mencoba berdiri tapi tak bisa membuat jaemin menggendongnya dan karena renjun kaget diapun mengalungkan tangannya pada leher jaemin sampai jaemin menurunkannya secara perlahan dibawah pohon lalu mengecek keadaan kaki renjun yang benar-benar luka.
"Saya ada beberapa obat. Saya akan mengobatinya." Ucap Jung woo lalu diapun langsung membuka tas yang sejak tadi disandangnya lalu diapun mengobati kaki renjun.
"Maaf yang mulia." Jaemin menatap datar pada bomin.
"Kenapa kudanya bisa seperti itu?" Datar jaemin.
"Sepertinya ada yang telah mengerjai kuda itu dengan sengaja yang mulia." Ucap bomin.
"Kita tak bisa berhenti disini, terlalu berbahaya. Kau bersama dengan bomin." Ucap jaemin melihat Jung woo dan Jung woo hanya mengangguk tanda mengerti lalu jaeminpun kembali menggendong renjun menuju kudanya.
"Yang mulia?" Jaemin lantas melihatnya.
"Obat itu mungkin akan membuat Renjun mengantuk." Membuat jaemin melihat renjun begitu pula sebaliknya.
"Tak masalah, yang penting kita tak berhenti disini." Ucap jaemin datar lalu diapun menaikkan renjun ke kuda lebih dulu diikuti dengan dirinya yang naik lalu memegang tali kemudi kuda itu dan berjalan lebih dulu dengan kecepatan sedang. Sedangkan renjun berusaha menahan rasa sakit kakinya, karena walaupun sudah diobati rasa sakitnya tetap akan terasa. mau bersandar dia tak enak pada pangeran negeri itu.
Jaemin yang melihat jalan sejak tadi, sadar dengan kegelisahan renjun, ditambah dia tahu kaki pemuda itu pasti sangat sakit saat ini. Karena biar bagaimanapun hanya dia yang tahu siapa sebenarnya renjun. Kalau dia terluka lebih parah lagi dari ini maka bisa-bisa keluarga pemuda mungil ini akan sangat marah pada keluarganya.
"Bersandarlah. Setidaknya tubuhmu harus rileks " renjun yang mendengarnya melihat jaemin sedikit lalu diapun bersandar pada tubuh tegap itu.
"Kau tak perlu takut jatuh, karena aku sangat paham mengendari kuda ini." Ucap jaemin datar lalu diapun terus menjalankan kuda itu. renjun hanya mengangguk dan merasakan kantuk yang mulai datang hingga dia jatuh tertidur begitu saja, jaemin yang mengetahui hal itu hanya diam saja lalu diapun memutuskan memegang kendali kuda dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya yang lain melingkar dengan apik di pinggang ramping renjun agar pemuda itu tidak jatuh dari atas kudanya dan itu tak lepas dari pandangan bomin dan itu cukup membuat bomin percaya kalau pangeran yang dia telah layani sejak lama akhirnya kembali jatuh cinta.
😘😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
"Prince J" (jaemren)
FanfictionNakamoto Renjun adalah putera kedua kaisar Nakamoto Yuta dan Huang (Dong) Winwin yang melarikan diri karena tidak mau menikah dengan keluarga dari dinasti Ming, renjun melarikan diri dan menjadi perawat untuk ratu dari Joseon, dia berhasil terpilih...
