J65

1.2K 175 7
                                        

Renjun baru saja selesai melap bagian tubuh jaemin yang memang terlihat di matanya saat ini.

Renjun merawat dengan baik jaemin yang bahkan belum memiliki tanda-tanda akan bangun itu, lalu renjun pun menuju meja yang memang ada didalam tenda itu dan menumbuk obat herbal khas yang dia pelajari dari sang ibu.

Setelah selesai renjun pun kembali mendekat pada jaemin dan meminumkan sedikit demi sedikit menggunakan sendok Dengan harapan obat itu bisa tertelan oleh Jaemin yang belum sadar ini. Setelah selesai. Disaat bersamaan bomin masuk dengan beberapa prajurit milik jaemin.

"Ada apa pengawal?"

"Maaf perawat Huang, tapi didepan ada pengawal dari kerajaan yang datang atas perintah putera mahkota yang mengatakan kalau kita harus membawa pangeran Jaemin segera ke istana."

"Itu tidak mungkin pengawal Choi. Ini akan mengancam nyawa pangeran Jaemin. Tabib kim pasti sudah mengatakan hal itu."

"Saya tidak tahu, tapi kita harus menuruti perintah pangeran Nakamoto." Ucap bomin pelan karena pengawal istana yang ada diluar tidak tahu mengenai identitas asli renjun.

Renjun menghela nafas beratnya lalu diapun menatap satu persatu prajurit yang merupakan milik pangeran Jaemin itu dan akhirnya mengangguk.

"Baiklah, kita akan menuruti perintah putera mahkota, karena saya tak ada hak untuk membantah sama sekali terlepas siapa identitas saya sebenarnya." Ucap renjun lalu memberikan jalan pada prajurit jaemin untuk mengangkat tubuh pangeran itu dan membawa ke kereta kuda istana. Renjun terdiam mematung melihat hal itu. Dadanya terasa sangat nyeri sekali saat ini.

"Apa aku akan kehilangan sebelum menyatakan perasaanku?" Monolog renjun. Dan disaat bersamaan prajurit Choi kembali masuk ke tenda.

"Perawat Huang?" Renjun menatap bomin dengan tatapan sendu.

"Mari, kau akan berada dalam kereta kuda untuk memantau pangeran Jaemin." Ucap bomin dan renjunpun membereskan barang-barang bawaannya lalu berjalan dan masuk kedalam kereta kuda.

Di perjalanan renjun selalu berdoa dan menggenggam erat tangan jaemin berharap perjalanan akan lancar saja dan jaemin yang bertahan selama perjalanan menuju istana karena Renjun tak mau jaemin pergi begitu saja.

"Aku mohon pangeran jaemin, bertahanlah, atau aku akan benar-benar marah dan membencimu selama sisa hidupku." Monolog renjun.











At. Istana Joseon.

Mark terdiam didalam kamarnya bahkan dia hanya menatap kosong pada lembar berkas yang sedang dia lihat.

Jung woo lantas mendekat pada suaminya dan memegang bahu Mark.

"Suamiku?"

"Aku salah kan? Seharusnya aku tak memberikan izin pada jaemin untuk ikut berperang." Ucap Mark. Jung woo menggelengkan kepalanya dan mengelus bahu suaminya itu.

"Itu tidak benar suamiku, lagian kalaupun kau tetap tak memberikan izin padanya, pangeran jaemin pasti akan tetap pergi, mengingat pangeran jaemin sangat keras kepala sekali. Kau kan sangat tahu itu suamiku."

"Tapi aku tetap bersalah. Bagaimana mungkin aku akan sanggup melihat jasad adikku sampai disini hikss..." Ucap Mark menangis dan itu kali pertama Jung woo melihat penyesalan pada wajah suaminya itu. Jung woo lantas memeluk suaminya agar sang suami bisa melepaskan semuanya.

"Kau ada aku suamiku, kau tidak sendirian, kalaupun memang begitu ini sudah jalannya bukan kesalahanmu ataupun siapapun. Ini akan membuat pangeran jaemin sedih dan akan sangat membuatnya merasa bersalah juga suamiku. Kalaupun memang pangeran jaemin pergi maka kita harus melepasnya dengan senyuman. Kau mengerti kan suamiku?"

"Tetap saja aku tak bisa kehilangan adikku." Ucap Mark sembari menangis.

"Arra. Aku sangat tahu perasaanmu."

"Dia pantas bahagia, bukan seperti ini."  Jung woo hanya mendengarkan dan menepuk pelan punggung suaminya agar sang suami tenang walaupun dia tahu seberapa besarnya rasa bersalah sang suami pada adiknya.
























😘😘😘

Reader-nim😁
Aku tripple up nya, maaf karena gak bisa update sebelum nya hehehe😁
Selamat membaca, jangan lupa votement nya ya😁

"Prince J" (jaemren)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang