J92

767 107 2
                                        

Sion menatap istrinya yang hanya diam setelah mengambil sebelas air tanpa menyuruh pelayan. Membuatnya mendekat dan merangkul sang istri. Membuat sang empu sedikit kaget lalu menatap kearahnya.

"Ada apa sayang? Kau aneh sekali setelah mengambil segelas air. Apa ada yang terjadi?"

"Tidak ada hyung. Tapi hyung?" Sion hanya menatapnya sembari menunggu perkataan yushi selanjutnya.

"Hyung, apa besok kita bisa ikut dengan pelayan hwang untuk pergi ke daerah barat? Aku ingin bertemu dengan renjun ge." ucap yushi.

"Oke. Kita akan pergi besok. Tapi kita akan dengan kereta kuda berlambang istana tidak sama dengan kereta kuda yang digunakan pelayan hwall.' ucap Sion dan yushi hanya menganggukkan kepalanya.

"Hmm." angguk yushi.

"Yasudah sekarang kita tidur. Sudah sangat malam." ucap Sion dan yushi hanya menganggukkan kepalanya dan keduanya langsung tidur.









At. Kediaman Duke, daerah bagian barat.

Jaemin melihat kepelukannya, dimana renjun sudah tidur nyenyak setelah mereka melakukan hal yang membuat kelelahan tapi menyenangkan untuk pertama kalinya. Jaemin tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada renjun.

"Aku tak akan melepaskan kebahagiaan ini. Dan aku pastikan tak ada yang mendekat dan melukaimu. Selama masih ada aku." monolog jaemin. Sedangkan renjun menggeliat sedikit dan membuka matanya yang berat lalu mendongakkan kepalanya dan melihat jaemin yang masih terjaga.

"Hyung belum tidur?" ucapnya dengan suara serak.

"Apa hyung mengganggumu?" ucap jaemin melihat istri mungilnya. Renjun hanya menggelengkan kepalanya.

"Yasudah, ayo kita tidur." ucap jaemin menutup matanya dan renjun yang juga melakukannya sembari menyamankan diri di dalam pelukan suaminya itu.








Mentari bersinar terang dan kicauan burung yang menyambut pagi cerah pasusu yang masih tertidur nyenyak itu, hingga yang lebih mungil menggeliat dan semakin menyembunyikan tubuhnya pada yang lebih besar. Sementara yang lebih besar merasa sedikit terganggu lalu membuka matanya secara perlahan dan tersenyum melihat betapa menggemaskan nya istrinya itu.

"Injunie ayo bangun. Sudah pagi. Nanti kita tidak sempat sarapan lagi." ucap jaemin pelan dan renjun pun menggeliat sedikit lalu dia pun membuka matanya secara perlahan dan kaget karena ada jaemin tapi dia teringat kalau kemarin dia dan duke sekaligus pangeran negeri Joseon itu telah menikah.

"Aku akan segera bersiap-siap. Hyung pergilah ke kamar hyung, kita sudah sepakat untuk menyembunyikan pernikahan ini." ucap renjun lalu dia pun duduk dan meringis sedikit.  Jaemin juga ikut duduk dan tersenyum.

"Ayo hyung bantu ke toilet." ucap jaemin lalu dia pun mengambil jubah tidurnya dan setelahnya menggendong renjun dengan tubuh polosnya, renjun merona tapi dia hanya bisa menyembunyikan kepalanya pada ceruk leher jaemin.

Setelah mengantarkan renjun kedalam toilet dan dia pun kembali ke kamarnya tapi saat akan menutup pintu kamarnya. Jaemin melihat bomin yang menemuinya lalu membungkuk.

"Ada apa?"

"Maaf Duke. Putera mahkota dan puteri mahkota berkunjung."

"Dimana mereka berdua?" ucap jaemin karena kakak pertamanya itu tak mengatakan apapun untuk datang.

"Di ruang tengah."

"Baiklah buat keduanya nyaman, saya akan segera menemui mereka berdua."

"Baik Duke." ucap bomin lalu membungkuk dan pergi sedangkan jaemin langsung menutup pintu kamarnya untuk bersiap-siap.







At. Istana Joseon.

Shotaro membuka matanya dan dia pun merasakan tubuhnya yang benar-benar sangat sakit setelah melewati malam panjang untuk pertama kalinya dengan pangeran sungchan. Dia hanya berharap kalau dia akan menjadi istri pangeran Joseon itu, karena semua yang dia lakukan ini akan berdampak pada dirinya dan keluarganya. Dia tak bisa membayangkan betapa marahnya ayah dan ibunya juga pamannya.

"Aku harap semua yang aku berikan ini akan sepadan. Aku hanya ingin menjadi pendampingnya Tuhan." monolog shotaro.

Tok... Tok... Tok...

"Maaf pangeran Nakamoto, apa ada yang bisa saya bantu?"

"Tidak perlu, saya akan segera ke meja makan."

"Baik pangeran." shotaro lantas segera memasuki toilet dengan sedikit tertatih.

Beberapa menit kemudian, shotaro pun mendekat kearah ruang makan dan telah melihat semuanya berada di meja makan dan sedang menunggunya. Shotaro lantas membungkuk.

"Maaf karena sudah membuat yang mulia raja, ratu, pangeran dan puteri." ucap shotaro.

"Tidak masalah pangeran Nakamoto. Silahkan duduk." ucap taeyong dan shotaro pun menganggukkan kepalanya lalu dia pun duduk.

"Apa mark hyung dan istrinya tidak pulang ibu? Ayah?" ucap sungchan.

"Ya, putera mahkota sempat mengatakan ingin menemui pangeran jaemin sebelum kembali." ucap taeyong dan sungchan hanya menganggukkan kepalanya. Dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh kakak sulungnya itu. Membuatnya cemas tanpa sebab saat ini.

"Ayah? Ibu? Aku dan istriku ingin meminta izin untuk pergi ke tempat pangeran jaemin." ucap Sion.

"Kenapa kau ingin menemui pangeran jaemin?" ucap jeno menatap adik bungsunya itu.

"Ada sedikit urusan hyung. Saya dan yushi boleh pergi kan ayah? Ibu?'

"Tentu saja." ucap jaehyun dan Sion hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Kenapa Sion bersikeras ingin bertemu dengannya? Mereka berdua tidak akan membongkar apapun saat ini kan? Aku tak akan biarkan jika semua itu terjadi. Aku tak ingin dihukum, aku ingin bersenang-senang. Apalagi aku baru satu kali memakai pangeran Nakamoto. Sayang jika di tinggalkan." batinnya.































😘😘😘😘😘

"Prince J" (jaemren)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang