Jaemin akhirnya turun ke lantai satu kediamannya itu dan mendekat pada kakak sulung dan kakak iparnya.
"Maaf karena membuat putera mahkota dan puteri mahkota menunggu." ucap jaemin datar sembari membungkuk.
"Tidak masalah. Aku ingin bicara empat mata denganmu pangeran jaemin." ucap mark melihat adiknya itu dan jaemin pun mengangguk tanda mengerti.
"Kami bicara disana dulu ya istriku." ucap mark kembali sembari melihat kearah jungwoo.
"Ne." angguk jungwoo sembari tersenyum kecil dan mark pun berjalan lebih dulu diikuti oleh jaemin.
Disini sekarang mereka berdua berada di salah satu jendela besar yang gordennya terbuka dan menampilkan pemandangan depan kediaman itu. Jaemin tak berniat membuka suara sama sekali karena dia yakin mark pasti memiliki sesuatu yang sangat ingin dia bicarakan. Dan terlihat sangat penting.
"Apa kau masih ingat mengenai kematian mendiang istriku jaemin? Termasuk surat yang dia tuliskan." jaemin hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku rasa ada yang mencurigakan dengan satu hal."
"Maksudmu apa hyung?"
"Saat itu pangeran sungchan mendatangi kamarku dan puteri yeri saat aku tak ada di istana dengan alasan mengambil barang yang aku tinggalkan. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi, yang pasti saat aku kembali, puteri yeri berubah, dan baru-baru ini pangeran sungchan juga mengunjungi kamarku dan istriku tidak memperbolehkan masuk bahkan mengatakan untuk memberitahu tempat letaknya pada nya secara langsung karena tak sopan jika pangeran sungchan masuk kedalam kamar kami saat aku tak ada, walaupun aku telah mengizinkannya. Untung saja aku kembali tepat waktu dan pangeran sungchan langsung pergi. Apa menurutmu ini hanya kebetulan?" ucap mark menatap jaemin. Tapi jaemin hanya diam dengan wajah datar nya. Dia sangat tahu kalau ini berkaitan, hanya saja belum ada bukti yang pasti saat ini. Walaupun dia sudah mendengar sebagian yang lainnya dari adik bungsunya.
"Aku merasa ada keterkaitan, tapi maksud hyung bagaimana?"
"Aku mencurigai kalau pangeran sungchan adalah orang yang menghamili mendiang istriku sampai dia membunuh dirinya. Dan dia ingin melakukan hal yang sama pada istriku yang sekarang." ucap mark dan jaemin hanya menatap sang kakak. Karena jaemin yakin kalau sang kakak sangat peka terhadap apapun yang bersifat membahayakan miliknya.
"Tidak ada bukti akan membuat hubungan kita tak baik hyung." ucap jaemin.
"Kau benar, itulah kenapa aku terus mencari bukti. Hanya saja apa kau akan terus berada di pihak ku saat aku memberikan nya hukuman yang pantas. Tak perduli dia adalah adikku atau tidak."
"Kau sangat tahu aku tak akan berpihak pada yang salah, siapapun dia. Karena jika bersalah harus dihukum. Dan dia harus menerimanya dengan lapang dada." ucap jaemin datar.
"Dan ada satu hal yang harus kau ketahui lagi jaemin." jaemin hanya menatap kakaknya itu.
"Pangeran Nakamoto Shotaro tiba-tiba datang untuk berlibur dan baru sampai kemarin pagi di istana." jaemin menatap mark dengan tatapan kaget.
"Dan satu hal yang aku yakini, ini bukan hanya sekedar liburan karena ayah dan ibu terlihat mendekatkan pangeran shotaro dan pangeran sungchan, padahal sebelumnya ibu sangat ingin kau dekat dengan pangeran renjun, jika begini bukankah salah satu harus mengalah?" ucap mark dan dia pun dapat melihat rahang jaemin yang mengeras dan kedua tangannya yang mengepal menahan amarah.
"Kalaupun harus mengalah. Aku tak akan mengalah. Karena aku pantas bahagia." ucap jaemin datar.
"Hyung mendukung mu. Lagian kebahagiaan mu penting jaemin. Tapi mungkin kau harus berjuang lebih. Kau tahu maksudku bukan?" ucap mark sembari menepuk bahu adiknya itu.
Sedangkan jungwoo hanya diam sembari menikmati segelas tea dan cemilan yang sediakan. Sampai dia melihat renjun yang turun lalu mendekat padanya.
"Apa puteri mahkota sudah lama?" ucap renjun membungkuk.
"Tidak juga. Ayo duduk disini perawat huang. Aku butuh teman mengobrol." ucap jungwoo tersenyum dan renjun pun mengangguk lalu duduk di sebelahnya.
"Kau tahu perawat huang? Kemarin pagi, pangeran Nakamoto shotaro datang untuk berlibur ke Joseon." ucap jungwoo dan renjun yang mendengarnya membulatkan matanya kaget sembari menatap jungwoo.
"Aku tahu kau kaget. Tapi itu kenyataannya renjun. Hanya saja aku merasa aneh, ini bukanlah sekedar liburan semata tapi terlihat ayah dan ibu ingin mendekatkan pangeran shotaro dan pangeran sungchan." ucap jungwoo dan renjun tak bisa menyembunyikan lagi ekspresinya.
"Kenapa shotaro harus memilih pangeran sungchan? Apa surat ku kurang jelas? Atau yang mulia raja tak pernah memberikan surat milikku sebagai balasannya saat itu?" batin renjun.
"Aku tahu renjun, kalau kau dan pangeran jaemin memiliki hubungan lebih, tapi biarpun begitu sepertinya akan ada yang harus mengalah. Ntah itu kau dan pangeran jaemin atau pangeran shotaro dan pangeran sungchan, karena kau tahu bukan tak mungkin ada dua menantu dari keluarga yang sama, itu tak pernah legal dalam hukum negeri manapun." ucap jungwoo dan renjun terdiam. Jika dia mengalah, tidak mungkin. Dia sudah menikah dengan pangeran jaemin. Tapi kalau dia tak mengalah mungkin adiknya akan menderita, namun jika sebaliknya dia akan melihat adiknya terluka lebih parah jika bersama sih bajingan itu. Kenapa pilihannya harus sesulit ini?
😘😘😘😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
"Prince J" (jaemren)
FanfictionNakamoto Renjun adalah putera kedua kaisar Nakamoto Yuta dan Huang (Dong) Winwin yang melarikan diri karena tidak mau menikah dengan keluarga dari dinasti Ming, renjun melarikan diri dan menjadi perawat untuk ratu dari Joseon, dia berhasil terpilih...
