J62

1.2K 193 9
                                        

Telah sebulan berlalu sejak Renjun berjalan bersama dengan jaemin, dan sampai saat ini renjun tak mendengar kabar apapun mengenai jaemin dan pasukannya. Jujur renjun merasa sangat tak nyaman dengan perasaannya yang sangat mencemaskan pangeran negeri Joseon itu, apa dia telah jatuh cinta? Tapi, apa cinta ini benar? Apa tidak akan ada orang yang tersakiti karena cintanya ini nanti.

Renjun berada di dapur istana tengah menyeduh tea yang biasa sang ratu minum setiap harinya. Hari-hari renjun selama sebulan ini hanya mengerjakan tugas-tugas yang sudah seharusnya, membuatnya sangat bosan.

Hwall datang dengan tergesa dan diapun langsung melihat renjun yang melamun menunggu daun rebusan tea untuk ratu mereka.

"Gege?" Tak ada jawaban sama sekali.

"Perawat Huang?" Masih tak ada jawaban juga.

"Huang Renjun!" Sang empu lantas melihat kearah hwall dengan tatapan bertanya dan bingung mengenai hwall yang telah ada di depannya.

"Perawat Huang dipanggil oleh yang mulia raja, Ratu,dan semuanya. Disuruh segera keruangan pemimpin." Renjun lantas menitipkan tea yang belum jadi pada hwall dan berjalan dengan cepat, ntah kenapa jantungnya berdebar cepat seolah-olah terjadi sesuatu.

Sesampainya di depan ruangan pemimpin, pengawal yang ada di depan langsung membukakan pintu untuk renjun, renjunpun masuk dan diapun melihat semuanya dengan wajah cemas, ah tidak juga dia melihat sungchan hanya santai saja. Tapi dia tak perduli sama sekali, dia juga melihat tangan kanan jaemin, bomin, tapi kenapa pangeran itu tidak ada.

"Ada apa yang mulia?"

"Kau harus ikut dengan tabib Kim pangeran Nakamoto." Ucap jaehyun membuat Mark yang tak tahu identitas asli renjun terkejut begitu pula dengan Jung woo dan Doyoung.

"Kemana? Apa ada hal yang terjadi? Pengawal Choi berada disini tapi dimana pangeran jaemin?" Ucap renjun bingung.

"Kau harus ikut dengan tabib Kim nak, tolong anakku." Ucap taeyong mendekat dan menggenggam kedua tangan renjun.

"Maksud yang mulia apa?" Bingung renjun.

"Pangeran jaemin terluka cukup parah di perbatasan, tabib Kim hanya bisa pergi selama dua hari, oleh karena itu pangeran Nakamoto harus ikut." Ucap bomin dan renjun benar-benar terkejut dengan perkataan bomin. Dia bahkan sampai menatap tangan kanan jaemin dengan tajam.

"Apa kau sedang bercanda?"

"Saya tidak akan bercanda mengenai nyawa pangeran saya."

"Nak, selamatkan anakku." Ucap taeyong.

"Kita berangkat sekarang tabib Kim?" Ucap renjun menahan tangisnya.

"Ne, kita akan siap-siap dan bertemu 10 menit lagi di depan istana perawat Huang, ah bukan maksud saya pangeran Nakamoto." Renjun lantas melepaskan tangan taeyong begitu saja lalu diapun keluar dan segera menuju kamarnya untuk siap-siap, taeyong tidak tersinggung mengenai sikap renjun karena dia yakin baik jaemin dan renjun sudah terikat tanpa sadar.

"Segeralah pergi tabib Kim. Saya percayakan anak saya padamu."

"Ne." Ucap Doyoung lalu diapun membungkuk dan keluar dari ruangan itu.

"Apa yang saya dengar ini benar yang mulia?" Ucap Mark tak percaya dengan identitas renjun yang asli.

"Hmm semuanya benar putera mahkota."

"Lantas kenapa yang mulia masih membiarkan pabgeran Nakamoto berada disini? Keluarganya pasti mencari"

"Karena kedatangannya bisa membuat seseorang sembuh putera mahkota, dan aku harap kau akan menutup mulut mengenai ini." Mark hanya diam saja karena tak mungkin dia membantah perintah ibunya.







Telah 10 menit berlalu, renjun dan doyong berada di kereta kuda pertama sedangkan kereta kuda kedua berisi obat-obatan yang diperlukan jaemin dan pakaian mereka berdua. Renjun hanya diam sembari melihat kearah luar jendela dan berharap dia akan segera sampai. Renjun bahkan meneteskan airmata dan menangis dalam diam. Hatinya benar-benar sangat kalut sekali, dia sangat ingin bertemu secepat mungkin dengan jaemin.

"Kau berbohong pangeran, kau membuatku kecewa." Monolognya. Doyoung hanya melihat punggung renjun yang sedikit bergetar dan Doyoung sangat tahu kalau renjun tengah menangis tapi dia hanya diam dan membiarkan, karena dia tak bisa ikut campur dengan urusan pribadi renjun, apalagi statusnya yang sebenarnya sangatlah tinggi dibanding dirinya sendiri.







Setelah menempuh perjalanan jauh, renjun, Doyoung dan bomin sampai di salah satu tenda yang mana jaemin berada didalam dengan penjagaan ketat dari para pengawal rombongan jaemin. Doyoung masuk begitu pula dengan renjun dan bomin, ketiganya melihat kondisi jaemin yang memilukan dimana ada luka yang cukup dalam di perutnya, luka pada lengannya yang dibalut seadanya sama dengan perut, luka pada pelipisnya dan luka pada kakinya. Renjun yang melihat nya benar-benar mencelos seketika. Doyoung segera melakukan tugasnya dan renjun pun dengan telaten membantu Doyoung mengenai bomin dia diminta keluar oleh Doyoung, renjun dan Doyoung terus berusaha menyelamatkan jaemin bahkan Sepanjangan pengobatan yang mereka lakukan renjun terus menitikkan airmatanya. Orang yang memberikannya pelukan hangat sebelum pergi berperang sedang bertaruh nyawa saat ini.

"Saya akan melakukan pengobatan sendiri pangeran. Kau bisa duduk saja."

"Saya bisa membantu."

"Saya khawatir, pangeran jaemin merasakan kesedihan mu." Renjun lantas menuryti perkataan Doyoung.

"Berdoalah untuk pangeran jaemin, pangeran Nakamoto. Cinta yang kau punya itu bisa membantu penyembuhannya."

"Ne?" Bingung renjun.

"Apapun yang sedang menjadi pertikaian dalam pikiranmu, tidak semuanya buruk pangeran Nakamoto. Tidak ada yang salah dengan yang namanya cinta. Lebih baik menyatakan dari pada menyesal dan kehilangan." Ucap Doyoung dan renjun hanya diam setelah mendengar perkataan Doyoung.






















😘😘😘

"Prince J" (jaemren)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang