J55

1.2K 175 6
                                        

Setelah semua anggota istana tahu identitas asli renjun, mereka hanya bisa terdiam dan menerima kedatangan anak dari kaisar Nakamoto dan mendukung penyamarannya saat ini.

Renjun saat ini tengah menggendong Eunseok dengan pakaian biasanya sebagai perawat dan berjalan bersama jaemin, karena keputusan yang mulia sudah sangat bulat, bayi yang diberi nama Eunseok itu harus dirawat oleh seorang tabib yang tinggal di luar istana, kebetulan tabib itu tinggal seorang diri setelah kehilangan anak dan suaminya.

"Yang mulia? Kita masih bisa tetap melihatnya kapan-kapan bukan?"

"Hm." datar jaemin sedangkan renjun hanya bisa menatap sendu bayi yang ada di gendongannya, hingga keduanya sampai di gerbang utama istana dab melihat tabib yang akan mengambil bayi itu telah berada disana.

"Tolong jaga dengan baik dan rawat dia seperti anakmu sendiri ya."

"Pasti perawat Huang, kau tenang saja." Ucap tabib wanita itu.

"Jika terjadi sesuatu langsung beritahu pada saya." Datar jaemin dan tabib itupun menganggukkan kepalanya tanda mengerti lalu diapun membungkuk dan membawa Eunseok pergi. Renjun menatap nanar kepergian bayi yang sudah dekat dengannya itu.

Jaemin yang melihatnya hanya bisa menghela nafas lalu diapun mengelus bahu sempit renjun membuat sang empu menatapnya

"Gwanchana." Dan renjun hanya menganggukkan kepalanya saja. Lalu keduanya berjalan bersisian untuk masuk kedalam istana kembali.

"Perawat Huang?" Renjun hanya menatap pangeran itu.

"Apa pelayan Hwang tahu identitasmu saat ini?"

"Tidak, saat aku memutuskan keruangan pemimpin, aku meminta tolong pada bomin dan pengawal mu yang lainnya untuk menutupi ku. Lagian aku tak mau dia malah canggung karena tahu siapa aku sebenarnya."

"Lalu kenapa melakukan hal gila? Bagaimana jika ayah dan ibuku tidak mengizinkan mu disini? Kau bisa saja kembali ke Jepang sesegera mungkin."

"Tapi kenyataannya semuanya menerimaku pangeran jaemin." Ucap renjun

"Jangan melakukan hal apapun tanpa sepengetahuan saya, karena saya telah berjanji pada adik sepupumu untuk menjagamu sampai semua bukti kebusukannya terkumpul agar kau tak perlu menikahinya "

"Makasih pangeran jaemin." Jaemin menatap bingung pada renjun. Renjun yang melihat tatapan bingung jaemin lantas tersenyum manis membuat debaran di dada jaemin semakin kencang seketika.

"Makasih karena pangeran tak mengatakan apapun sampai saat ini. Padahal pangeran tidak mengenal ku sama sekali, pangeran bahkan bisa saja mengira aku akan memiliki niat jahat." Ucap renjun.

"Aku melakukannya karena merasa kau tidak akan berbuat jahat pada siapapun." Ucap jaemin.

"Terimakasih, aku pasti tidak akan menyusahkan pangeran jaemin. Aku berjanji." Ucap renjun tersenyum manis membuat jaemin berhenti seketika dan renjun juga mengikutinya mau tidak mau.

"Ada apa pangeran?"

"Turuti satu hal dari saya ini."

"Katakan saja pangeran, akan saya lakukan." Ucap renjun tersenyum manis.

"Tetaplah disekitar saya, jangan pernah hilang dari pandangan saya. Apa mengerti?"

"Ne? Wae?" Bingung renjun.

"Karena kau adalah anak dari kaisar Nakamoto, sedikit saja tubuhmu terluka bisa membuat kaisar Nakamoto marah dan perang dengan kami."

"Baiklah, akan saya lakukan pangeran" Ucap renjun tersenyum dan jaemin hanya berdehem lalu diapun berjalan lebih dulu diikuti oleh renjun dibelakangnya.

"Walaupun pangeran jaemin ini terkenal kejam, tapi dia punya sisi manis, dan hangat tersendiri. Aku benar-benar cukup kaget, tapi aku juga senang." Batin renjun.










Sementara itu, Samuel tengah berada dijalan dengan kuda yang dia jalankan lebih cepat diikuti beberapa pengawal yang memang ikut dengannya. Sampai di salah satu desa diapun berhenti karena melihat seorang pria mungil yang terbaring dengan luka pada perutnya. Membuatnya seketika turun dari kudanya untuk mengecek pria itu.

"Hei. Apa kau bisa mendengarkanku?" Pria itu hanya meringis kesakitan sembari memegang luka nya yang mengeluarkan banyak darah.

"Bersabarlah, saya akan membawamu." Ucap Samuel lalu menggendongnya dan diapun menaiki kuda setelah dibantu tangan kanannya setelahnya melajukan kuda lebih cepat menuju tempat tabib yang dia tahu tak jauh lagi. Sedangkan pria yang dia tolong itu telah jatuh pingsan membuat Samuel hanya menggunakan satu tangan untuk mengendalikan kudanya dan satu tangan lainnya untuk menahan tubuh pria mungkin itu sembari menahan agar lukanya tak terus mengeluarkan darah.

"Bertahan lah" monolog nya.



















😘😘😘

"Prince J" (jaemren)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang