"Hari Patah Hati Nasional"

49 12 8
                                        

Lampu kerlap-kerlip, musik dj dengan lagu kicau mania berdentum kecang, dan botol-botol berwarna hijau berserakan di atas meja.
Sementara seorang pemuda terduduk lesu sambil sesekali meneguk minuman dari botolnya langsung. "Tega banget lo sama gue, hiks... hiks. Gue gak bisa diginiin hiks... hiks... " Racaunya sembari terisak.

Sedangkan lima orang pemuda lainnya hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan teman mereka itu. "Udah kali Kook, ikhlasin aja... "

"Bener kata Jaehyun, udah napa minumnya, ntar lo tepar, kita yang dimarahin bang Jin"--Yugyeom

"DIEM! KALIAN GAK TAU RASANYA JADI GUE!" Bentak Jungkook lalu kembali meneguk minumannya.

Mingyu yang tidak tahan lagi dengan kelakuan temannya itu langsung merebut botol minuman dari tangan Jungkook. "Udah, cukup! Lo udah abis 4 botol nipis madu. Ntar kalo lo batuk pilek siapa yang kena marah bang Jin? Pasti kita-kita."

"Yaudah sih Kook, lo ditinggal Chan nikah aja udah kayak ditinggal mantan terindah" Bambam memungut botol-botol nipis madu bekas Jungkook untuk di buang ke tempat sampah. Bisa gawat kalau ibunya pulang, dan melihat keadaan ruang tamu rumahnya berantakan gara-gara bocah patah hati ditinggal bestienya nikah.

"Bam, lama-lama gue pusing anjir sama lampu disini" Keluh Jaehyun.

"Tau tuh, kelap-kelip dari tadi, kayaknya mau mati--"

Tap!

Benar saja apa kata Mingyu, lampu ruang tamu di rumah Bambam yang sedari tadi kelap kelip, kini mati.
"--kan apa kata gue!"

Bambam menghela nafas laku menyeret Yugyeom ikut berdiri. "Ayok anter gue beli lampu neon baru!"

Sementara itu, di balik cahaya remang-remang dari lampu luar yang menyala. Jungkook memeluk lututnya sembari menangis. Beberapa jam lalu, Chan datang menemuinya dan berkata kalau sahabatnya itu akan melamar seorang gadis esok hari.

"Kenapa lo tiba-tiba mau nikah, Chan? Padahal pacaran aja gak pernah. Jahat! Katanya lo mau ngejomblo bareng gue, tapi ujungnya gue ditinggal kawin, hwueeeeeee....... "

Selain Jungkook, orang yang galau karena gebrakan Chan adalah si maknae Cahyadi itu sendiri. Disaat babeh semangat menyiapkan hantaran untuk melamar besok pagi, Jeongin mengurung diri dikamar dan menangis dalam diam.

Bukannya Jeongin tidak senang dengan kabar pernikahan kakak sulungnya. Ia hanya merasa takut. Takut di lupakan dan takut di tinggalkan. Selama ini Chan bukan hanya seorang kakak, tapi sudah seperti ayah kedua sekaligus teman. Jeongin tumbuh dan berkembang berkat campur tangan Chan yang selama ini mengurus dan mendidiknya dengan sangat baik.

Jeongin tak pernah merasa takut terhadap apapun kalau ia berada disisi Chan. Karena abangnya itu akan sigap pasang badan jika ada sesuatu yang mengganggu Jeongin. Namun nanti, Chan akan memiliki kehidupannya sendiri. Ia bukan lagi prioritas bagi si sulung.

Tok... Tok... Tok..

"Ayen, udah tidur?"

Mendengar suara Chan di luar kamar, Jeongin buru-buru berbaring dengan membelakangi pintu. Ia belum siap bertemu tatap dengan kakaknya, maka ia memilih untuk pura-pura tidur.

Tak lama dari itu, pintu kamar terbuka disusul masuknya Chan, yang kini berjalan menghampiri Jeongin.
Chan menghela nafas, beberapa detik lalu, ia mendengar isakan Jeongin dari balik pintu. Namun kini, adiknya sudah tidur, atau hanya pura-pura tidur?

Chan duduk disisi ranjang, lalu mengelus bahu Jeongin yang tidur menyamping. "Abang tau, kabar ini pasti bikin Ayen kaget. Tapi satu hal yang harus Ayen tau, abang gak bakal lupain Ayen kok. Ayen gak perlu takut....."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tetangga?! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang