"Kamu lari naik tangga?" Aksa membuka matanya lebar-lebar.
"Ya iyalah! Kak Aksa bilang mau mati tadi!" jawab Risa sambil menyeka keringat yang membanjiri pelipisnya.
Aksa tertawa kecil. "Aku bercanda, Risa."
Satu hal yang Risa selalu perhatikan dari Aksa kalau cowok itu tertawa adalah susunan giginya. Risa tak tahu berapa orang yang sependapat dengannya, tapi menurut Risa Aksa itu kalau nyengir kelihatan seperti vampir. Gigi-gigi depannya rata sedangkan gigi-gigi taringnya agak tajam. Vampir yang ganteng, tentu saja.
"Urusan hidup-mati jangan dipakai bercandaan." Risa melangkah menghampiri Aksa dan menyerahkan kotak bekal di tangannya. "Makan dulu, Kak."
Aksa mengambil bungkusan itu dan membukanya. Di dalamnya ada beberapa butir onigiri (nasi kepal Jepang), ikan makarel bakar arang dan beberapa lauk tambahan lainnya. "Kamu udah makan?"
"Udah," Risa menjawab. Ia duduk di bangku samping Aksa, merentangkan kaki. Untung bangku ini punya atap kanopi, sehingga agak teduh.
Tiba-tiba Risa teringat sesuatu yang harus ia peringatkan ke Aksa. "Kak Aksa, jangan sering-sering di sini. Tempat ini sering kena razia guru soalnya anak-anak Litarda kalau bolos ngumpet di sini."
"Mm-hmm." Aksa mengangguk, sibuk mengunyah makanannya.
"Tunggu ..." Mata Risa memicing, hidungnya mengendus sesuatu yang tidak beres. "Kak Aksa dari tadi di sini?"
"He'eh." Sekarang Aksa menumpuk tiga potongan wortel bundar jadi satu dan melahapnya sekaligus.
"Jadi, Kak Aksa bukan keluar kelas gara-gara dipanggil Mr. Lee?"
"Dipanggil, tapi habis itu aku nggak balik lagi ke kelas. Boring. Pelajarannya terlalu gampang."
Hah? Apa? Pelajarannya terlalu gampang?!
Risa berjengit teringat bagaimana kepalanya hampir benjol setiap hari kena kemplang Hara hanya karena berusaha memahami bab-bab awal. Tapi Aksa dengan santainya bilang kalau pelajaran mereka terlalu gampang?
Orang jenius mah bebas! Cibir Risa dalam hati.
"Kak, itu namanya bolos."
"Nggak. Aku nggak bolos. Aku cuma belajar mandiri," Aksa membela diri.
"Mana ada belajar mandiri!"
"Buat apa aku belajar di kelas kalau dengan belajar sendiri aku bisa lebih cepat?"
"Ih, tetep aja itu namanya bolos!"
"Aku nggak bolos!"
"Bolos!" Risa menyeluk ponsel dari saku roknya. "Lapor Kak Hara nih!"
Aksa gelagapan. "Risa, hey, hey!" Cowok itu berusaha merebut ponsel Risa, tapi Risa berhasil menghalaunya.
"Kak Hara! Halo?" Risa pura-pura menelepon, sengaja berteriak untuk menakut-nakuti Aksa.
Terpingkal dengan akting Risa yang payah, kali ini Aksa bertekad tidak mau membiarkannya lolos. Dikaitkannya lengan Aksa melalui belakang leher Risa. Alhasil, Risa pun terhuyung ditarik Aksa.
"Nakal ya, berani lapor-lapor Hara," Aksa berkata dalam jarak hanya beberapa senti dari wajah Risa, membuat Risa tak berkutik.
* * *
"Hara! Hara! Hara!"
Jemari Hara langsung berhenti mengetik untuk merapatkan headphone berfitur noise cancelling berwarna hitam itu ke telinganya, semata-mata agar dia tidak bisa mendengar suara Saskia. Terlambat, Saskia keburu menyerbunya. Hara berdecak kesal. Kenapa sih di saat kerjaan dan tugas sekolah yang menumpuk, cewek ini malah datang mengganggu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bekal Risa
Teen Fiction[TAMAT] Di saat Hara mulai menyadari perasaannya gara-gara sekotak bekal buatan Risa, adik kembarnya--Aksa--muncul menyatakan perasaan pada gadis itu. Hara tertekan. Ia teringat apa kata ibu mereka kalau ia harus mengalah pada adiknya. Hal itu menye...
