"Besok mau berangkat sekolah bareng nggak?"
"Gue ada latihan futsal pagi."
Hara menolak ide Saskia mentah-mentah saat Saskia menurunkan Hara di depan rumah.
"Gue bisa kok mampir ke sini pagi-pagi banget. Subuh juga gue jabanin."
Tak ada tanggapan dari Hara. Badan dan pakaiannya tidak basah lagi. Dari kedai kopi, Hara meminta Saskia mengantarkannya membeli baju untuk menggantikan bajunya yang basah. Lalu mereka mendamparkan diri di sebuah co-working space hanya untuk duduk berhadapan tanpa bicara. Hara benar-benar tidak bisa merasakan keberadaannya di mana pun kakinya menjejak. Risa dan Risa, hanya gadis itu yang menyita pikiran Hara.
"Hara," panggil Saskia sebelum Hara menutup pintu.
Dengan enggan Hara menoleh.
"I know you want me. The way you kissed me just now, I can feel it." Saskia yang cengengesan sudah hilang. Hara sedang berhadapan dengan Saskia yang penuh ambisi mendapatkan keinginannya: Hara seorang.
"That kiss you were talking about ..." Hara menatap Saskia tajam, memastikan Saskia menyimaknya dengan baik. "... never exist."
"Jangan bercanda." Saskia tertawa hampa. "Aksa dan Risa saksi matanya."
Hara membanting keras pintu mobil Saskia. Kejadian tadi sore terlalu membuatnya frustasi. Saskia benar. Hara bisa berpura-pura menyangkal ciuman mereka, tapi kehadiran Aksa dan Risa di tempat itu adalah nyata.
Risa ...
Tangan Hara terasa berat bahkan untuk membuka pintu rumahnya sendiri. Jam sembilan malam. Risa pasti sudah pulang. Besok mereka ada jadwal bimbingan. Biasanya jam segini Risa akan melontarkan seribu satu alasan untuk berkelit dari bimbingan. Alasan-alasan konyol yang tidak masuk akal, tapi selalu membuat Hara tersenyum membacanya. Membenahi atap rumah, memberi makan ikan titipan temannya, sampai jerawatnya menular sehingga tidak membolehkan ia untuk bertatap muka terlalu lama.
Malam ini tidak ada satu pesan pun dari Risa. Dan hal itu semakin membuat Hara uring-uringan.
[Hara: besok bimbingan jam 2]
Pesan itu sudah Hara ketik dari dua jam yang lalu, tapi Hara tak kunjung punya keberanian untuk menekan tombol kirim sampai saat ini.
Mengetiknya membuat Hara gugup, menunggu jawabannya lebih gugup lagi. Hampir sepuluh menit Hara berdiri mematung di halaman rumahnya hanya menunggu notifikasi pesan dari Risa muncul.
[Risa: ok]
'Ok'. Dua huruf. Hanya itu? Ini lebih parah dari tidak membalas sama sekali. Risa tidak pernah membalas pesan Hara sependek itu.
Hara melangkah gontai masuk ke ruang tengah, disambut suara riang obrolan Aksa dengan ibu mereka dari arah sofa.
"Really? Jadi, kamu mau masuk Litarda karena Risa? Kamu bohongin Mama ya? Bilangnya kangen sekolah lagi," canda ibunya pada Aksa.
"Nggak, Ma. Aksa memang pengen sekolah lagi. Tapi ada Risa di Litarda bikin Aksa semakin semangat."
Erica melipat lengan di dada, lanjut meledek anak bungsunya. "Mama baru tahu lho obat penyakitmu itu cuma love. Tahu gitu Mama nikahin kamu sama Risa dari dulu."
"Ma, stop! You're crazy!" Aksa terbahak mendengar ide gila ibunya.
Erica mendekatkan duduknya pada Aksa dan memasang lagak berbisik, padahal suaranya tetap sampai ke telinga Hara. "Jadi gimana? Ngapain aja kalian tadi?"
Tak mau mendengar lebih lanjut, Hara segera masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Masih dengan pakaian lengkap, Hara membiarkan air hangat dari pancuran itu mengguyurnya persis apa yang ia lakukan di bawah hujan tadi sore. Hara tidak berniat mandi. Dia hanya ingin suara gemericik air menangkal obrolan bahagia antara Aksa dan ibunya. Kejadian di depan kedai kopi sudah menyiksa hati Hara. Sampai rumah, semuanya malah semakin buruk.
Hara iri. Bukan hanya Aksa yang ingin bercerita panjang lebar pada wanita itu. Hara juga. Ia ingin menghampiri ibunya dan memberitahu betapa kacau hati dan pikirannya saat ini. Ia juga ingin bilang kalau ia sudah menjadi orang paling bodoh di dunia, hampir kehilangan gadis yang ia suka. Ibunya tak perlu memeluknya. Cukup diam dan mendengarkan. Tapi bahkan hal sesederhana itu pun tidak bisa Hara dapatkan di dalam rumahnya sendiri.
"Ngapain lo? Kehujanan lagi?" Aksa terkejut melihat Hara basah kuyup bersama pakaiannya keluar dari kamar mandi. Erica tidak ada lagi di sofa. Mungkin sudah masuk ke kamar.
"Hm." Hara bergumam pendek, meninggalkan Aksa tanpa penjelasan.
Sejam kemudian di saat Hara sudah bersiap berbaring, Hara mendengar suara musik dari kamar Aksa. Aksa sedang mendengarkan Sheila on 7. Hara yang memperkenalkan Aksa pada band itu. Sejak itu, cuma lagu-lagu Sheila on 7 lagu berbahasa Indonesia yang Aksa suka. Hara menyimak lebih fokus lagu mana yang sedang Aksa dengarkan.
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina
("Kita")
Hara mencelos. Apa ini artinya Risa menerima perasaan Aksa? Sekarang mereka pacaran?
Tubuh Hara jatuh memantul di atas kasur. Ia menengadah menatap langit-langit kamar meratapi kebodohannya sendiri. Satu kesalahan. Cukup satu kesalahan untuk membuat Hara kehilangan Risa.
Benarkah satu kesalahan? Atau ini adalah akumulasi dari kesalahan-kesalahan Hara sebelumnya?
Hara yang terlalu banyak mengerjai Risa.
Hara yang sering memarahi Risa.
Hara yang tak bisa bersikap lembut pada Risa.
Hara yang tak punya nyali untuk mengungkapkan perasaannya.
Tak akan habis daftar kesalahan Hara pada Risa.
Sesuatu di atas meja belajar menarik perhatian Hara. Sebuah piring ditutup tudung saji. Hara bangun dan membuka tudung saji di atas piring itu. Satu lembar telur dadar tebal beserta nasi putih terhidang untuk Hara disertai sebuah catatan dari tulisan tangan yang sangat familiar.
Microwave 1 menit sebelum makan.
Hara membuang isi piringnya ke tempat sampah di bawah meja belajar. Gara-gara telur itu, hari Hara jadi berantakan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Bekal Risa
Novela Juvenil[TAMAT] Di saat Hara mulai menyadari perasaannya gara-gara sekotak bekal buatan Risa, adik kembarnya--Aksa--muncul menyatakan perasaan pada gadis itu. Hara tertekan. Ia teringat apa kata ibu mereka kalau ia harus mengalah pada adiknya. Hal itu menye...
