amesia

4 1 0
                                    

Author.

"Ini semua salahku... sekarang aku harus gimana..? Anak² pasti sangat membenciku... AAGGHH...!!!" Gumam Arhan lalu mengacak rambutnya frustasi.

"Eh, Arhan..??" Ucap Pankti kaget melihat Arhan yg sedang duduk disalah satu kursi taman yg sedang dia kunjungi bersama Rishi.

"Pankti..." sahut Arhan berdiri kaget saat dihampiri oleh Pankti yg sedang menggendong Rishi yg ketiduran karna kecapean bermain.

"Kamu kenapa..?" Tanya Pankti bingung melihat tampilan Arhan yg kacau.

"M...maafin aku, a..aku sungguh² minta maaf... aku bisa jelasin semuanya" ucap Arhan merasa bersalah.

"Memangnya ada apa..? Kenapa kamu ada disini..?" kata Pankti.

"Aku udah inget semuanya... itu sebabnya aku baru kembali" jawab Arhan menunduk.

"Maksudnya..? Aku gak ngerti.." tanya Pankti semakin bingung.

"Selama ini aku hilang ingatan, ma--maaf... aku udah nyakitin Arshu, aku bener² menyesal" jelas Arhan pelan.

"Apa..??? Kok bisa.." sahut Pankti sangat kaget.

"Karna kecelakaan yg kualami waktu itu, sekali lagi maaf... atas semua kekacauan yg kubuat... aku tau kalian semua pasti marah sama aku, maaf..." kata Arhan merasa bersalah.

"Sudahlah... ini gak sepenuhnya salah kamu kok, oh ya apa kamu udah nemuin Arshu dan anak²...?" Kata Pankti menatapnya prihatin.

"Udah, tapi Arshu masih marah dan tidak mau mendengarkanku..." jawab Arhan menggeleng pelan.

"Loh, kenapa dia tidak mau mendengarkan..? Bukannya selama ini dia nyari kamu..?" Kata Pankti menyerngitkan keningnya.

"Itu karna aku udah sangat keterlaluan sama dia, aku udah ngacauin semuanya... anak² juga pasti benci banget sama aku.." ucap Arhan kembali duduk lalu mengusap wajahnya kasar.

"Aku gak tau apa aja yg udah kamu lakuin... tapi yg pasti Arshu gak akan buat anaknya sendiri membenci ayah mereka... sampai sekarang mereka masih nunggu kamu pulang..." jelas Pankti seraya ikut duduk disamping Arhan menenangkannya.

"Tapi--"

"Sudahlah, sebaiknya kamu sekarang ikut aku pulang kerumah. Rohan pasti seneng banget, ayo" ajak Pankti antusias.

"Tapi Rohan sudah sangat marah sama aku..." kata Arhan ragu.

"Itu karna dia belum tau yg sebenarnya, udah ayo..." bujuk Pankti tersenyum.

"Baiklah..." angguk Arhan lalu ikut Pankti.

Sesampainya dirumah.

Tok...tok...tok...

"Iya tunggu sebentar" kata ART (asiaten rumah tangga dirumah Pankti) lalu segera membukakan pintu.

"Makasih ya bi.." ucap Pankti tersenyum lalu mengajak Arhan masuk.

"Tunggu bentar ya, bentar lagi juga Rohan pulang" sambungnya lalu menaruh Rishi kekamarnya kemudian kembali menghampiri Arhan diruang tamu sambil membawa nampan berisi minuman dan kue untuk Arhan.

"Ayo diminum dulu, udah santai aja gak usah terlalu dipikirin... aku pasti akan bantu kamu kok" ucap Pankti setelah menaruh nampan itu diatas meja lalu duduk disofa satunya.

"Makasih ya..." sahut Arhan agak canggung.

"Sama²..." kata Pankti tersenyum lalu setelah beberapa saat kemudian Rohan datang.

"Arhan...??? Ngapain lagi kamu kesini..." sapa Rohan penuh penekanan sambil menatap Arhan tajam.

"Rohan, tenanglah... dengerin dulu penjelasan Arhan" sela Pankti seraya berdiri menenangkan Rohan.

"Setelah 3tahun menghilang... lalu sekali muncul malah bicara kurang ajar sama anak sendiri... dan sekarang kamu datang kesini mau ngasih penjelasan...? Kamu udah gak punya malu..?" Marah Rohan berapi² semakin kesal sedangkan Arhan hanya diam menyesali semuanya.

"Tapi Arhan seperti itu karna dia hilang ingatan...!!!" Jelas Pankti.

"Apa..???" Kata Rohan kaget sekaligus bingung menatap Pankti.

"Iya.." kata Pankti lalu menyuruh Arhan menjelaskan semuanya.

"Kalian masih ingat Tya temen sekampus aku..?" Kata Arhan mulai menjelaskan.

"Tya..??? Yg mana..? Trus apa hubungannya..?" Tanya Pankti bingung. Sedangkan Rohan masih ragu.

"Aku pernah minjem uang kan untuk ganti rugi mobil temen aku yg namanya Tya..? nah itu orangnya. jadi waktu itu aku mau nganterin dia sama bayinya kerumah Rakesh, tapi saat dijalan kami malah kecelakaan.. karna kecelakaan itulah aku jadi hilang ingatan" jelas Arhan.

"Ya.. waktu itu Arshu juga bilang klo kamu mau nganterin temen kamu, jadi kamu kecelakaan sama dia..?" Ucap Rohan semakin bingung.

"Iya" angguk Arhan.

"Lalu apa perempuan dan anak kecil yg kamu selamatin waktu itu adalah..." kata Rohan terhenti.

"Iya, itu Tya dan Aarti anaknya" jelas Arhan mengangguk pelan.

"Trus kenapa waktu itu kamu bilang itu anak kamu hah..??!!" Sahut Rohan kesel.

"Karna waktu aku sadar dari kecelakaan.. Tya bilang bayi itu adalah anakku dan dia itu istriku, maaf..." jawab Arhan menunduk.

"Dan kamu percaya gitu aja sama dia..???" Sungut Rohan.

"Awalnya aku juga tidak percaya, tapi dia punya surat² bukti pernikahan kami. Aku tau ini terdengar gak masuk akal, tapi memang seperti itu kenyataannya. maaf.." ucap Arhan kembali menjelaskan keadaannya.

Setelah mendengar penjelasan adiknya Rohan pun mencoba percaya meski sebenarnya dia masih marah.

"Tapi kok bisa sih kalian semua selamat dari kecelakaan itu..? Padahal mobil kamu kan masuk jurang.. siapa yg udah nolong kalian..?" Tanya Rohan bingung karna untuk kecelakaan seperti itu rasanya hampir tidak mungkin mereka selamat.

"Jurang.. maksudnya...?? Kamikan tabrakan dengan mobil besar dijalan raya, bukan dijurang.." sahut Arhan menyerngitkan keningnya tidak mengerti apa yg dibicarakan Rohan.

"Apa..?? Trus kok mobil kamu ditemukan disana..?? Bahkan mobilnya ditemukan dengan keadaan sudah terbakar" jelas Rohan.

'Tya..!!! Bisa²nya kamu melakukan semua ini' batin Arhan mengepalkan tangannya.

**********

The FactTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang