mendengar 2

0 0 0
                                    

Arhan pov.

Disepanjang perjalan aku yg sedang kacau memikirkan permasalahanku dengan Arshu, memilih untuk fokus mengemudi sambil sesekali melirik Aarti yg tengah duduk disampingku sambil memainkan game barbie favoritnya yg ada diponselku.

Karna aku sudah tidak bisa berpikir dengan benar lagi, jadi beberapa saat yg lalu aku hanya bisa mencoba menghibur Aarti dengan meminjamkan ponselku padanya untuk dimainkan, dan cara itu memang berhasil membuat Aarti berhenti menangis dan melupakan kejadian barusan dialaminya.

Semua perkataan Arshu dan pemandangan Arya yg berada sangat dekat dengan api tadi terus saja berputar dikepalaku, hingga membuatku tidak bisa lagi berpikir yg lainnya, Bahkan untuk menyesal juga sudah tidak ada gunanya sekarang. Semuanya sudah benar² berakhir, kini aku hanya bisa mengacak rambutku frustasi. Namun dibalik semua itu aku bersyukur atas satu hal, 'tidak terjadi hal yg lebih buruk pada Arya' setidaknya itulah hal baiknya diantara semua kekacauan ini.

"Papa, ini kenapa..?" tanya Aarti membuat semua lamunanku buyar, dan beralih menatap Aarti yg kini sedang menengadahkan kepalanya menatapku seraya menunjukan layar ponsel yg meredup karna baterainya hanya tersisa 5%.

"Oh, ini baterai udah habis sayang, papa lupa charger kemarin. Nanti kita main barbie nya dirumah aja ya..? Bentar lagi kita juga sampai rumah" tuturku berusaha tersenyum didepan Aarti.

"Baiklah" angguk Aarti suka lalu menyerahkan ponsel itu.

Untuk beberapa saat kami berdua kembali terdiam, hingga membuat Aarti kembali murung karna teringat dengan Arya dan pertengkaranku dengan Arshu tadi, ia lalu kembali menatapku dengan rasa bersalah diwajahnya.

"Papa, maaf..." lirihnya dengan mata berkaca² menatapku sedih.

'Semiris itukah keadaanku sekarang..?' Batinku menertawakan diriku sendiri, lalu dengan tangan kiriku meraih tubuhnya kedalam pelukanku.

"Hush..  Aarti gak salah kok, udah Aarti jangan nangis lagi ya.. nanti papa juga ikut nangis nih.." hibur ku yg masih mengemudi sambil mengusap² punggungnya lalu mencium singkat puncak kepalanya.

"Jangan.." sungut Aarti langsung menengadahkan kepalanya sambil menggeleng tidak terima.

"Hehehe.. iya, makanya Aarti senyum dong.. mau papa beliin barbie gak..?" sahutku terkekeh melihat tingkahnya yg selalu berhasil membuatku merasa lebih baik.

Mendengar itu Aarti pun langsung mengukir senyumnya puas, lalu kembali diposisi duduknya dan mengusap matanya untuk menghapus sisa air mata yg masih ada disana.

Tidak berapa lama akhirnya kami tiba disebuah toko mainan, dan seperti yg sudah kujanjikan, aku menemaninya mengelilingi toko untuk memilih² barbie yg ia inginkan, sampai akhirnya pilihannya jatuh pada barbie princess  popstar, selain itu kami juga membeli perlengkapan accesoris barbie lainnya yg direkomendasikan oleh salah satu pelayan toko yg sedang menemani kami, sebab aku tidak terlalu mengerti dengan mainan satu ini, andai saja kami bersama Arshu, dia pasti jauh lebih paham. Ingin rasanya aku juga membelikannya untuk Arsy, tapi bukankah sekarang sudah terlambat..? Untuk menemui mereka saja kini aku sudah tidak pantas lagi, terlalu banyak kesalahan yg kulakukan pada mereka, aku hanya menunjukan figur ayah yg buruk pada mereka.

"Ayo pah, kita pulang..!" ajak Aarti antusias menarik lenganku setelah aku selesai membayar belanjaan kami.

Sembari tersenyum kecil aku menurut mengikuti langkahnya menuju kemobil lalu meletakan semua belanjaan kami dibagasi, baru setelah itu aku kembali mengemudikannya menuju rumah.

"Aarti main disini dulu ya sayang, papa mau charger hp papa dulu..!" perintahku setelah meletakan semua mainannya diatas meja.

Dia yg kini tengah asik mengeluarkan barbienya dari kotaknya hanya mengangguk singkat menatapku lalu kembali fokus dengan barbienya.

"Teruslah tersenyum seperti ini, sayang" gumamku sembari mengusap puncak kepalanya, dengan melihatnya tersenyum bahagia seperti ini saja sudah turut membuatku merasa senang.

Baru setelah itu aku kekamar sebentar untuk mencas ponselku sekaligus ingin mengirimkan pesan pada Rakesh klo Aarti kini sedang bersamaku dirumah.

Baru saja aku menyalakan ponselku tampak foto Arshu dan anak² yg kupotret diam² tempo hari ketika kami mengantarnya ketoko terpangpang jelas dilayar depan, dipotret ini dia sedang asik merapikan rambut Aarti sedangkan Arya dan Arsy sedang tersenyum menatapnya. Foto ini memang telah kujadikan sebagai wallpaper ponselku sejak hari itu.

Padahal aku slalu yakin jika semuanya akan kembali berkumpul menjadi keluarga seutuhnya seperti dulu lagi, tapi siapa sangka ternyata ini adalah foto Arshu bersama anak² terakhir yg bisa kuambil. Sekarang aku hanya bisa tersenyum getir menatap foto ini.

'Ya sisi baiknya, setidaknya aku masih bisa membawa kenangan terakhir yg indah ini bersamaku.' Batinku menghela nafas panjang untuk menyudahi ingatanku tengang momen itu dan mulai mengirimkan pesan pada Rakesh dengan cepat, lalu kembali menghampiri Aarti dan menemaninya bermain meski sebenarnya aku tidak terlalu fokus padanya. Sebab dipikiranku dipenuhi dengan wajah ketakutan Arya, rengekan Arsy, serta sorotan mata Arshu. Tidak cukup sampai disitu ditambah lagi dengan kata² Arshu yg bercampur dengan tangisan² Arya dan Arsy yg masih saja terngiang ditelingaku dengan jelas.

Sebagian dari diriku sangat ingin berlari kembali memeluk mereka, bahkan jika perlu aku akan bersujud didepan Arshu untuk mendapatkan maafnya. Namun rasa bersalah yg kian membesar ini semakin menghantuiku hingga membuatku merasa tidak pantas meski sekedar berdiri diantara mereka. 

Aku tidak punya apapun yg bisa kuberikan pada mereka, selama 3 tahun terakhir aku tidak pernah ikut andil dalam membesarkan anak²ku sendiri, entah apa saja yg telah mereka lalui selama ini.. sampai detik ini aku juga slalu gagal melindungi mereka. Dan yg terpenting untuk kasih sayangku saja, aku tidak bisa memberikan sepenuhnya pada mereka. Karna faktanya sampai kapanpun aku tidak mungkin bisa menghilangkan rasa sayangku pada Aarti.

Sudah cukup, pria sepertiku ini tidak pantas untuk menjadi ayah bagi siapapun ... terutama mereka bertiga, tidak ada lagi yg boleh terluka karna aku.

'Jika kehadiranku hanya semakin menorehkan luka untuk mereka, maka sebaiknya aku menjauh pergi dari mereka.'

*****

The FactTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang