menyesal

9 0 0
                                    

Arshu pov.

Semula kupikir dengan menyudahi hubungan ini rasa sakit ini akan berakhir..! Tapi nyatanya tidak, aku justru malah semakin merasa tersiksa. Bayang² Arhan trus saja mengganggu pikiranku hingga membuatku jadi mulai menyesali keputusanku, namun disaat yg sama kenyataan klo Arhan kini jauh lebih menyayangi Aarti, membuatku sangat kecewa padanya dan mungkin tidak akan bisa memaafkannya untuk yg satu ini.

Aku masih bisa menoleransi nya jika dia menyayangi Aarti hanya sebatas anak angkatnya, tapi ini... kasih sayangnya untuk Aarti sudah melampaui batasan..! Bahkan dia bisa bersenang² bersama Aarti meski tidak bertemu dengan Arya dan Arsy selama beberapa hari terakhir, sedangkan kemarin² saat menghabiskan waktu bersama Arya dan Arsy...? Cukup dengan satu panggilan saja, dia langsung tampak gelisah tidak sabar ingin segera menemui Aarti secepatnya. Maka dari itu, sampai kapan pun aku tidak akan rela dia memperlakukan Arya dan Arsy tidak adil seperti itu..!

Parahnya lagi, masalah ini tidak hanya sampai disana... kini aku juga sangat kalut, bagaimana tidak... sekarang aku bingung harus mengatakan apa pada Arya dan Arsy, aku tau ini kesalahan ku, harusnya tadi aku tidak memberikan harapan palsu itu pada mereka. Kini mereka pasti sudah tidak sabar menunggu kedatangan kami, belum lagi dengan reaksi seluruh keluarga kami, apa nanti kata mereka begitu mengetahui klo kini hubungan aku dan Arhan telah berakhir.

"Sanggupkah aku untuk mengatakan hal ini pada mereka nanti..?" lirihku bertanya pada diriku sendiri yg kini tengah meringkuk dibalik pintu sambil memeluk kedua lututku. Lalu detik berikutnya aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, membayangkan reaksi mereka yg pasti akan sangat kaget mendengarnya... apalagi saat terakhir kali aku bertemu dengan Pankti kemarin, dia tampak sangat senang karna mengira hubungan kami telah membaik, orang tuaku juga menyambutnya dengan sangat antusias, bagaimana bisa aku merenggut senyum itu dari wajah mereka..?

'TIDAK..!!!' Dengan membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup, rasanya kepalaku ingin pecah karna memikirkan masalah ini.

Kali ini aku benar² tidak tau harus bagaimana lagi, pikiranku terasa buntu. Yg bisa kulakukan sekarang ini hanya merutuki diriku sendiri karna telah mengambil keputusan gegabah.

Tapi jujur, seandainya pun jika aku masih mempertahankan hubungan ini, aku juga tidak tau harus bagaimana cara menjalaninya nanti.

Hingga akhirnya matahari mulai terbit aku masih saja diposisiku dan disibukkan dengan pikiran²ku yg sampai kini tidak tau jalan keluarnya. Entahlah, bahkan tenagaku saja rasanya sudah terkuras habis oleh masalah ini. 'LELAH' mungkin itulah kata yg cocok untuk menggambarkan kondisiku sekarang ini.

Karna Adzan subuh sudah berkumandang sejak 5menit yg lalu, jadi dengan lunglai aku memaksakan tubuhku untuk bangkit dan mulai melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku agar bisa menunaikan sholat subuh, lalu kembali menangis diatas sajadahku begitu selesai sholat dan mengadukan semua masalah yg tengah kuhadapi kini.

Baru setelah itu aku mulai merasa sedikit lebih tenang, jadi aku pun mulai merapikan penampilanku dengan memoleskan sedikit make up kewajahku agar Arya dan Arsy, beserta kedua orang tuaku tidak menyadari klo aku habis menangis.

Setelah dirasa itu semua cukup, baru aku menyiapkan perlengkapan sekolah Arya dan pakaian ganti untuk Arsy sebelum pergi menjemput mereka menggunakan taxi, tanpa tau jawaban apa yg harus aku katakan pada mereka nanti yg pasti akan sangat kaget melihat aku datang tidak bersama Arhan. Apapun itu yg pasti sekarang mereka pasti sedang menantikan kedatanganku, begitu juga denganku yg sudah sangat merindukan mereka.

Dan benar saja baru tiga kali aku mengetuk pintu rumah orang tuaku, langsung terdengar dari balik pintu riuh langkah kaki mereka yg berlarian, terdengar juga suara ibuku yg menegur mereka agar bersabar sebentar. Mendengarnya saja sudah mampu membuat senyumku mengembang, rasanya seperti ada udara segar yg membuatku bisa sedikit bernafas lega.

'Ceklek'

Begitu pintu itu terbuka Arya dan Arsy langsung berhambur memelukku dengan hangat, rasanya sangat menenangkan bahkan untuk sejenak aku bisa melupakan semua masalah ini. Namun beberapa saat kemudian mereka melepaskan pelukan itu, hingga dengan raut wajah sedikit tidak rela terpaksa aku ikut melepaskan pelukan mereka meski aku masih ingin terus tenggelam dalam pelukan mereka.

"Mama, papa nya dimana..?" tanya Arsy celingak celinguk mencari keberadaan Arhan.

"Iya mah, kok papanya gak ada. Mama kesini cuma sendirian..?" sambung Arya mulai menatapku curiga.

"Iya Arshu, Arhan nya mana..? Trus kamu tadi pake apa klo gak sama Arhan..?" cecar ibu ikut menimpali, yg membuatku semakin tersudut bingung harus memberikan jawaban apa pada mereka.

"Ah, itu papa kalian..." ucapku terhenti dan berusaha memutar otak dengan cepat untuk mencari alasan yg tepat agar mereka tidak curiga.

"Oh iya, tadi tiba² Arhan dapat telpon mendadak bu, katanya sih ada pekerjaan penting yg gak bisa ia tunda... jadi terpaksa dia gak bisa ikut kesini..." bohongku sembari melempar senyumku selebar mungkin pada ibuku untuk meyakinkan dia agar dia tidak curiga, karna cuma alasan itu yg terlintas dibenakku saat ini, entahlah ini akan berhasil atau tidak.

"Maaf ya sayang... papa gak bisa dateng sekarang, tapi nanti papa datang kok setelah urusannya selesai..!" sambungku menatap Arya dan Arsy dengan perasaan bersalah karna telah membohongi mereka lagi.

Mau bagaimana lagi, aku juga sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi aku juga tidak sanggup untuk mengatakan kebenarannya pada mereka. Bahkan mungkin tidak akan pernah sanggup..!

"Jadi papa sibuk lagi..?" sahut Arya tampak kecewa mendengarnya, sedangkan Arsy kini merubah jadi lemas, senyum sumringah diwajahnya kini telah hilang.

Melihat ini saja rasanya hatiku sudah sangat sakit, apalagi nanti klo sampai mereka mengetahui kebenaran aku dan Arhan sudah berpisah.

'Tidak..!!!' Mereka masih terlalu dini untuk mengetahui hal seperti itu, aku tidak ingin mencemari masa kecil mereka dengan masalah yg rumit ini.

"Udah dong sayang, cucu² nenek kok jadi ditekuk gitu mukanya..? Nanti kan papa kalian juga pulang, lebih baik sekarang kita sarapan bareng aja, kasian loh kakek kalian udah nungguin..! Ayo Arshu, kamu juga pasti belum sarapan kan..?" sela ibu berusaha menghibur Arya dan Arsy.

"Baik bu, ayo sayang mama juga udah laper nih..." gurauku yg berhasil membuat mereka langsung menyetujui ajakan ibuku.

*****









The FactTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang