Part 4

83 5 0
                                    

Langit begitu cerah di hiasi dengan awan putih begitu pula matahari cahayanya panas tak jarang membuat orang bercucuran keringat. Hari ini adalah kepulangan fakhri dari Rumah Sakit membawa harapan agar cepat sembuh sepanjang perjalanan pulang Fakhri hanya terdiam begitu pula setibanya di Rumah tanpa bicara sepatah kata pun.

kerabat serta para tetangga sudah mendengar kepulangan Fakhri. Datang silih berganti menjengguknya Ada yang membawa bingkisan makanan siap santap, beras, obat-obatan bahkan memberikan amplop berisi uang. Keluarga Fakhri sangatlah baik dan ramah pantas saja banyak yang datang menjengguk. Bian datang bersama ibunya

"Assalamualaikum..sudah banyak orang rupanya"ucap Ibu Bian
" walaikumsalam mari masuk bu, fakhri ada didalam". ucap Mbak Mirna
"Terima kasih mbak ini saya bawakan bubur tapi masih panas".
" walah tak usah repot Bu terima kasih" ucap mbak Mirna
" Fakhri ini ada temanmu Bian dan Ibunya,nak...salaman nak"
"Tanganmu dingin Ri, aku bawain bubur enak loh..yah ketahuan deh kalau aku gak puasa" ucap Bian sambil ketawa
" siapa kamu..aku ga kenal" ucap Fakhri
" Bu fakhri marah sama Bian Bu?".
"Tidak nak Fakhiri mungkin kecapean sebaiknya kita pulang". ucap Ibu Bian
" saya tidak enak hati bu, maafkan Fakhri bu".
"Tak apa apa bu namanya juga anak kecil mungkin lagi kecapean..ini saya ada surat tolong dibaca..saya permisi Assalamualaikum". kata Ibu Bian
"Walaikumsalam". Ucap mbak Mirna

Para Tamu yang datang menjengguk pun berpam itan pulang karena waktu sudah sore mungkin hendak menyiapkan menu berbuka.
tak terasa waktu sudah berlalu usai sholat isya mbak Mirna melanjutkan bertadarus teringat dengan surat yang diberikan oleh Ibu Bian surat itu berisi :

Assalamualaikum. wr.wb
mbak Mirna saya turut prihatin atas musibah yang menimpa Fakhri. sebelum nya ketika ditanyai Bian hanya menangis sayapun tidak mau memaksanya. Bian baru mau bercerita menurutnya Saat itu Bian dan Fakhri bermain bola di halaman rumah Pak Burhan, Bian menendang bola namun bola itu terpental jauh  ke arah pembakaran sampah milik Pak Burhan jarak bola hanya 2 langkah dari pembakaran sampah fakhri hendak mengambil bola tapi fakhri menyuruh Bian untuk mundur bola itu tepat di belakang kaki Fakhri.

Namun bola itu tiba tiba mengeluarkan api Bian berteriak menyuruh Fakhri lari tapi api begitu cepat menyambar kaki kiri Fakhri kemudian dia tidak ingat lagi. namun pagi hari sebelum kejadian itu Bian dan Fakhri memancing diseberang sungai.

saya khawatir keselamatan Bian dan Fakhri selebih gosip yang beredar dikampung kita mengenai Fakhri dan Bian akan di jadikan Tumbal maka dari itu Bian akan saya Bawa ke rumah kakeknya dicirebon. Mohon maaf Mbak saya tidak berani mengatakan secara langsung maka dari itu saya tulis surat ini buat mbak Mirna semoga Mbak Mirna serta keluarga sehat dan dalam lindungan Allah. SWT. Aamiin
wasallamualaikum.wr.wb

usai membaca surat itu mbak Mirna tertunduk lemas badannya seperti tidak memiliki tulang dalam hati terus bertanya tanya dengan perasaan sedih dan cemas.

sementara dari luar terdengar suara motor, mbak Mirna melirik ke arah jam pukul 20.00.wib dengan cepat mbak Mirna membuka pintu ia kaget yang datang bukanlah Edo Anaknya orang itu berdiri membelakangi pintu dengan tangan kiri megangi sesuatu sementara tangan kanan menghisap rokok belum sempat melihat wajah orang itu Fakhri berteriak...

next jika suka terima kasih sudah berkenan mampir🙏😊

Kumpulan Cerita Horor NyataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang