☆DAILY PROPHET☆

1.2K 97 6
                                        

MENGENANG ALBUS DUMBLEDORE
oleh Elphias Doge

Pertama kali aku bertemu dengan Albus Dumbledore adalah saat aku berusia sebelas tahun, di hari pertama kami di Hogwarts. Ketertarikan kami berawal saat kami diacuhkan oleh orang-orang. Aku baru saja terkena cacar naga sesaat sebelum masuk sekolah, walaupun sudah tak lagi menular, bekas cacar kehijauan itu membuat hanya sedikit orang berani mendekatiku. Sedangkan Albus, datang ke sekolah membawa nama buruk. Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya, Percival, ditangkap karena telah menyerang tiga Muggle muda dengan kejam.

Albus tidak pernah mengelak bahwa ayahnya (yang meninggal di penjara Azkaban) telah berbuat kesalahan. Sebaliknya, saat aku memberanikan diri untuk bertanya, dia malah meyakinkanku bahwa ayahnya benar-benar bersalah. Lalu, Dumbledore tidak akan melanjutkan ceritanya, tidak ingin membicarakan hal-hal sedih, katanya. Walaupun banyak orang yang mengungkit-ungkit hal tersebut. Beberapa di antaranya, memuji tindakan ayahnya, dan menganggap bahwa Albus juga seorang pembenci Muggle. Tapi mereka benar-benar keliru. Karena semua orang tahu bahwa Albus tidak pernah tertarik dengan gerakan anti-Muggle. Malahan dia sangat mendukung hak-hak Muggle, yang membuatnya memiliki banyak musuh dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam beberapa bulan, nama Albus mulai lebih dikenal daripada nama ayahnya. Di akhir tahun pertamanya, dia tak lagi dikenal sebagai anak dari seorang pembenci Muggle, namun lebih dikenal sebagai siswa paling cemerlang yang pernah ada di sekolah. Dan teman-temannya mendapatkan banyak keuntungan darinya, termasuk pertolongan dan dorongan semangat yang tulus darinya. Dan dia mengaku padaku bahwa dia menemukan kesenangan tersendiri saat mengajar.

Dia tidak hanya memenangkan semua hadiah yang sekolah pernah tawarkan, dia juga secara rutin berkoresponden dengan para penyihir hebat pada masanya, termasuk Nicolas Flamel, alkemis kenamaan, Bathilda Bagshot, sejarahwati terkemuka, dan Adalbert Waffling, ahli teori sihir. Beberapa esainya tiba-tiba dipublikasikan di Transfiguration Today, Challenges in Charming, dan Practical Potioneer. Karir masa depan Dumbledore sepertinya sudah terukir dan pertanyaan yang tersisa hanyalah kapan kira-kira dia akan menjadi Menteri Sihir. Walau sudah diprediksikan pekerjaan apa yang akan dia lakukan, dia tidak pernah berkeinginan untuk bekerja di Kementerian.

Tiga tahun setelah dia memulai sekolahnya, saudara Albus, Aberforth, tiba di sekolah. Mereka benar-benar tidak mirip. Aberforth bukanlah seorang kutu buku seperti Albus. Dia lebih memilih untuk menyelesaikan masalah dengan berduel daripada beradu argumen. Namun adalah kesalahan besar bila menganggap kakak beradik ini tidak saling bersahabat. Mereka berteman layaknya dua orang anak yang berbeda satu sama lain. Bagi Aberforth, tentu sulit terus hidup di bawah bayang-bayang Albus. Berusaha terus-menerus untuk menjadi lebih cemerlang, baik sebagai teman ataupun saudara. Saat Albus dan aku lulus dari Hogwarts, kami berencana untuk berkeliling dunia bersama, mengunjungi dan belajar dari penyihir lain, sebelum memulai karir masing-masing. Akan tetapi, sebuah tragedi terjadi. Pada malam keberangkatan kami, ibu Albus, Kendra, meninggal, meninggalkan Albus sebagai kepala keluarga. Aku menunda keberangkatanku cukup lama untuk dapat menghadiri penguburan Kendra, dan melanjutkan perjalananku sendirian. Dengan adik-adik yang butuh diurus, dan hanya sedikit emas yang tersisa, tidak mungkin Albus bisa menemaniku.

Dan itu adalah suatu masa di mana kami jarang saling menghubungi. Aku menulis pada Albus, keseluruhan perjalananku. Mulai dari bagaimanan aku berhasil lolos dari Chimaera di Yunani, hingga bereksperimen dengan alkemis dari Mesir. Suratnya kepadaku berisi tentang kesehariannya, yang menurutku tentu sangat membosankan untuk seorang penyihir sehebat dirinya. Terbenam sendiri dalam perjalananku, di tahun terakhir perjalananku, aku mendengar sebuah berita duka, yang menyatakan bahwa Dumbledore mengalami tragedi lain, kematian saudarinya, Ariana.

Walau Ariana memang sudah sakit-sakitan, kematiannya setelah kematian sang ibu, sungguh mempengaruhi kedua saudaranya. Semua orang yang dekat dengan Albus -dan aku menganggap diriku salah satu di antaranya- yakin bahwa Albus merasa bertanggung jawab atas kematian Ariana, walaupun tentu saja, dia tidak bersalah.

Saat aku kembali, aku telah menemui seorang pria muda yang sudah mengalami banyak pengalaman layaknya pria berumur. Albus menjadi lebih berhati-hati dan periang dari sebelumnya. Dan sebagai tambahan untuk kesengsaraannya, hubungan dengan saudaranya Aberforth, mulai merenggang. Kemudian, dia mulai jarang membicarakan keluarganya, dan teman-temannya belajar untuk tidak mengungkitnya.

Cerita lain akan mengungkapkan keberhasilannya di tahun-tahun berikutnya.

Kontribusi Dumbledore yang tak terhitung untuk pengetahuan, termasuk penemuannya atas dua belas fungsi dari darah naga yang memberi banyak keuntungan untuk generasi selanjutnya. Begitu pula kearifan yang ditunjukkannya dalam pengadilan saat dia menjadi Chief Warlock of Wizengamot. Banyak yang berkata bahwa tidak ada pertarungan yang dapat menandingi duel antara Dumbledore dengan Grindelwald di tahun 1945. Mereka yang menjadi saksi mata, menggambarkan bagaimana kedua penyihir luar biasa itu bertarung. Dan kemenangan Dumbledore, yang memengaruhi dunia sihir dan menjadi titik balik sejarah sihir, atas kejatuhan Dia-yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut.

Dumbledore tidak pernah membanggakan diri atau menjadi sombong. Dia selalu menghargai tiap orang yang dia kenal, dan aku percaya bahwa semua tragedi yang pernah dia alami membuatnya menjadi lebih memiliki rasa kemanusiaan dan lebih mudah bersimpati. Aku akan sangat merindukan persahabatan ini lebih dari yang bisa aku ungkapkan, namun rasa kehilangan ini tidak akan mempengaruhi dunia sihir. Dia telah menjadi inspirasi dan merupakan Kepala Sekolah Hogwarts yang paling dicintai. Dia meninggal seperti saat ia hidup, bekerja dengan kemampuannya yang terbaik hingga saat-saat terakhirnya, sama seperti saat dia mengulurkan tangannya pada seorang anak yang terkena cacar naga, saat aku pertama kali bertemu dengannya.

HIRAETHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang