☆DUNIA DAN DUSTA ALBUS DUMBLEDORE☆

255 40 1
                                        

Manfaat yang Lebih Besar

Mendekati ulang tahun ke-18, Dumbledore meninggalkan Hogwarts dengan kejayaan yang berkibar-kibar, Ketua Murid, Prefek, Pemenang Penghargaan Barnabus Finkley untuk Pembuatan Mantra Luar Biasa, Perwakilan Pemuda Inggris untuk Wizengamot, Pemenang Medali Emas untuk Kontribusi yang Luar Biasa pada Konferensi Alkemis Internasional di Kairo. Dumbledore bermaksud, selanjutnya, untuk menjalani tour besar bersama Elphias 'Dogbreath' Doge, yang tidak terlalu pintar tetapi merupakan sahabat karib yang setia yang ditemuinya di sekolah.
 
Kedua anak muda tinggal di Leaky Cauldron di London, mempersiapkan keberangkatan ke Yunani keesokan paginya, ketika seekor burung hantu datang membawa berita kematian ibu Dumbledore. 'Dogbreath' Doge, yang menolak untuk diwawancarai untuk buku ini, telah memberikan versi sentimentalnya sendiri kepada masyarakat tentang apa yang terjadi selanjutnya. Dia menggambarkan kematian Kendra sebagai peristiwa tragis dan keputusan Dumbledore untuk tidak melanjutkan ekspedisinya merupakan sebuah pengorbanan diri yang mulia.
 
Tentu saja, Dumbledore segera kembali ke Godric’s Hollow, untuk 'merawat’ adik-adiknya menurut dugaan. Tapi, apakah ia benar-benar merawat mereka?
 
“Dia menjadi kepala keluarga karena Aberforth,” kata Enid Smeek, yang keluarganya tinggal di pinggiran Godric’s Hollow pada saat itu, “menjadi liar. Tentu saja, kau akan merasa menyesal karena ayah dan ibunya telah meninggal dunia, hanya saja ia selalu membuatku kesal. Kurasa Albus tidak mau repot-repot dengannya. Lagipula aku tidak pernah melihat mereka bersama-sama.”
 
Lalu, apa yang dilakukan Albus jika tidak menenangkan adik laki-lakinya yang liar? Jawabannya, tampaknya, adalah memastikan kelanjutan hukuman penjara bagi adik perempuannya. Walaupun orang yang memenjarakannya pertama telah meninggal, tak ada perubahan terhadap kondisi mengenaskan Ariana Dumbledore. Keberadaannya hanya diketahui oleh sedikit sekali orang luar yang, seperti 'Dogbreath' Doge, bisa diandalkan untuk mempercayai cerita ‘gangguan kesehatan’nya.
 
Ada lagi teman keluarga yang cukup meyakinkan yaitu Bathilda Bagshot, sejarawan sihir ternama yang tinggal di Godric’s Hollow selama bertahun-tahun. Kendra, tentu saja, telah menampik Bathilda ketika pertama kali mencoba untuk menyambut keluarga itu di desanya. Beberapa tahun kemudian, ternyata sang penulis mengirimkan burung hantu kepada Albus di Hogwarts, karena terkesan oleh tulisannya tentang transformasi antarspesies di Transfiguration Today. Ikatan awal ini mengarahkannya untuk berkenalan dengan seluruh anggota keluarga Dumbledore. Sebelum  kematian Kendra, Bathilda-lah satu-satunya orang di Godric’s Hollow yang dapat bercakap-cakap dengan ibu Dumbledore tersebut.
 
Sayang sekali, kecemerlangan yang Bathilda tunjukkan di awal hidupnya kini telah redup. “Apinya menyala, tapi kualinya kosong,” sebagaimana Ivor Dillonsby katakan kepadaku, atau, dalam ungkapan yang lebih sederhana menurut Enid Smeek, “Dia sinting seperti tupai.” Namun, kombinasi dari teknik laporan coba-dan-uji memungkinkanku untuk menyaring bongkahan fakta yang cukup berat dan merangkai semuanya menjadi kisah skandal yang utuh.
 
Seperti umumnya di dunia sihir, Bathilda menghubungkan kematian dini Kendra dengan kesalahan mantera, suatu cerita yang diulang-ulang oleh Albus dan Aberforth di tahun-tahun selanjutnya. Bathilda juga mengikuti saja apa kata keluarga mereka tentang Ariana, menyebutnya ‘lemah’ dan ‘sulit’. Di satu sisi, bagaimanapun, Batildha cukup berharga dalam usahaku memperoleh veritaserum, karena dia, dan hanya dia, yang mengetahui kisah lengkap rahasia kehidupan Albus Dumbledore yang disimpan rapat-rapat. Kini terbuka untuk yang pertama kalinya, menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang dipercayai para pemuja Dumbledore. Dugaan atas kebenciannya terhadap sihir hitam, perlawanannya terhadap penindasan Muggle, bahkan pengabdiannya kepada keluarganya.
 
Musim panas yang sama saat Dumbledore pulang ke Godric’s Hollow, sekarang sebagai seorang yatim piatu dan kepala keluarga, Bathilda Bagshot menerima kedatangan keponakan jauhnya di rumahnya, yaitu Gellert Grindelwald.
 
Nama Gellert Grindelwald sangat tenar. Ada dalam daftar Penyihir Hitam Paling Berbahaya, ia keluar dari daftar teratas hanya karena keberadaan Kau-Tahu-Siapa, satu generasi sesudahya untuk mengambil alih mahkotanya. Karena Grindelwald tidak pernah memperluas kampanye terornya sampai ke Inggris, sehingga, kebangkitan kekuatannya tidak terlalu dikenal di sini.
 
Dididik di Durmstrang, sebuah sekolah terkenal dengan toleransinya yang sangat disayangkan terhadap sihir hitam, Grindelwald menunjukkan kecerdasan yang sama seperti Dumbledore. Alih-alih menyalurkan kemampuannya untuk meraih penghargaan dan hadiah, malahan, Gellert Grindelwald mengabdikan dirinya untuk pencarian lain. Dalam usia 17 tahun, bahkan Durmstrang merasa bahwa mereka tidak lagi dapat merubah mata gelap Gellert Grindelwald menuju percobaan sebaliknya, dan ia pun dikeluarkan.
 
Sampai sekarang ini, pergerakan Grindelwald yang dikenal adalah ‘berkelana beberapa bulan’. Kini terbuka kenyataan bahwa Grindelwald memilih untuk mengunjungi bibi jauhnya di Godric’s Hollow, dan bahwa disana, amat mengejutkan walaupun akan banyak yang mendengarnya, dia memulai persahabatan tiada lain dengan Albus Dumbledore.
 
“Bagiku ia anak yang menarik,” celoteh Bathilda, “apapun yang terjadi padanya kemudian.Tentu saja aku memperkenalkannya pada si malang Albus, yang kehilangan teman-teman sebayanya. Dengan segera anak-anak itu saling memperhatikan satu sama lain.”
 
Tentu saja demikian. Bathilda menunjukkan sebuah surat kepadaku, yang disimpannya ketika Albus Dumbledore mengirimkannya kepada Gellert Grindelwald di akhir malam. “Ya, meskipun setelah mereka berdiskusi seharian—keduanya anak muda yang brilian, mereka seperti kuali diatas api—kadang-kadang aku mendengar burung hantu mengetuk jendela kamar tidur Gellert, mengantarkan surat dari Albus! Satu ide muncul di kepalanya dan ia segera memberitahu Gellert!”
 
Dan ide mereka luar biasa. Hal yang sangat mengejutkan akan ditemui para fans Albus Dumbledore, ini dia pemikiran pahlawan tujuh-belas-tahun mereka, seperti yang disampaikan kepada sahabat barunya. (salinan surat asli bisa dilihat di halaman 463)

Gellert—

Pendapatmu tentang dominasi penyihir UNTUK KEBAIKAN PARA MUGGLE SENDIRI—ini, menurutku, adalah titik kritis. Ya, kita telah diberi kekuatan dan ya, kekuatan itu memberikan kita hak untuk mengatur, tapi ini juga memberi kita tanggung jawab terhadap peraturan. Kita harus menekankan hal ini, karena ini akan menjadi batu pondasi bangunan kita. Dimana kita bertentangan, dan pasti kita akan begitu, ini akan menjadi dasar dari pertentangan pendapat kita. Kita mengendalikan UNTUK MANFAAT YANG LEBIH BESAR. Dan dari hal tersebut, jika kita menghadapi perlawanan, kita menggunakan kekuatan hanya jika diperlukan, tidak lebih. (Ini kesalahanmu di Durmstrang! Tapi aku tidak mengeluh, karena jika kau tidak dikeluarkan, kita tak akan pernah bertemu)
 


Albus


Mungkin pemujanya akan heran dan terkejut, surat ini digunakan untuk menyusun Undang-undang Kerahasiaan dan menghasilkan Penguasaan Penyihir terhadap Muggle. Pukulan bagi mereka yang selalu menggambarkan Dumbledore sebagai pembela kelahiran-Muggle sejati! Betapa tak berdayanya pidato mengenai pembelaan hak-hak Muggle tersebut ketika bukti baru yang memberatkan ini mulai terbuka! Betapa tercela tampaknya Albus Dumbledore, sibuk merencanakan kebangkitan kekuatannya ketika ia seharusnya berduka cita atas kematian ibunya dan merawat adiknya!
 
Tak diragukan lagi mereka yang memutuskan untuk tetap membela Dumbledore diatas tumpuannya yang hancur akan mengakui bahwa dia tidak, bagaimanapun juga, merealisasikan rencananya, bahwa dia pasti mengalami perubahan perasaan, dan kembali ke akal sehatnya. Bagaimanapun, kebenaran bisa lebih mengejutkan.
 
Baru saja dua bulan jalinan persahabatan mereka yang luar biasa, Dumbledore dan Grindelwald terpisah, tak pernah bertemu lagi hingga pertarungan mereka yang legendaris (selanjutnya, baca bab 22). Apa yang menyebabkan pertarungan ini pecah? Apakah Dumbledore menjadi sadar? Apakah ia mengatakan pada Grindelwald bahwa ia tidak lagi mengambil bagian dalam rencananya? Sayang sekali tidak.
 
“Kematian Ariana kecil yang malang, kurasa, yang menyebabkannya,” kata Bathilda. “Hal itu merupakan goncangan berat. Gellert ada disana ketika itu terjadi, dan dia kembali kerumahku dengan menggigil, mengatakan padaku kalau dia ingin pulang keesokan harinya. Benar-benar keadaan yang sulit, kau tahu, jadi aku mengatur portkey dan itulah terakhir kali aku melihatnya.”
 
“Albus ada disampingnya saat kematian Ariana. Benar-benar menyedihkan untuk kedua bersaudara itu. Mereka telah kehilangan semuanya, tinggal diri mereka sendiri. Tak heran suhu menjadi naik. Aberforth menyalahkan Albus, kau tahu, sebagaimana orang yang berada dalam kondisi memprihatinkan seperti ini. Tapi Aberforth memang selalu berbicara sedikit kacau, anak yang malang. Sama saja, mematahkan hidung Albus saat pemakaman bukanlah tindakan memperbaiki tabiatnya. Akan menghancurkan hati Kendra jika melihat putra-putranya berkelahi seperti itu, disisi mayat anak permpuannya. Sayang sekali Gellert tidak dapat menghadiri pemakaman. Ia akan membuat Albus merasa nyaman, paling tidak…
 
Percekcokan disamping mayat yang memprihatinkan ini, hanya diketahui sedikit orang yang menghadiri pemakaman Ariana Dumbledore, menyisakan beberapa pertanyaan. Mengapa Aberforth Dumbledore menyalahkan Albus Dumbledore atas kematian Ariana? Apakah ini sebagaimana yang dianggap ‘Bally’, adalah ungkapan duka cita yang emosional belaka? Ataukah ada alasan yang sebenarnya atas kemarahannya? Grindelwald, dikeluarkan dari Durmstrang karena serangan yang hampir fatal kepada teman-teman sekolahnya, meninggalkan negara ini hanya beberapa jam setelah kematian gadis itu, dan Albus (karena malu atau takut?) tidak pernah melihatnya lagi, tidak hingga dipaksa untuk melakukannya karena kepentingan dunia sihir.
 
Tak satupun dari Dumledore atau Grindelwald yang tampaknya pernah mengungkit-ungkit hubungan persahabatan masa muda itu. Selanjutnya. Bagaimanapun, tak diragukan lagi Dumbledore telah menunda, lima tahun akan kekacauan, kematian dan kehilangan ataukah kekhawatiran akan terbongkar fakta bahwa ia pernah menjadi sahabatnya-lah yang membuat Dumbledore ragu-ragu? Ataukah hanya rasa enggan Dumbledore untuk berangkat menangkap orang yang dulu dengan senang hati ia temui?
 
Dan bagaiman Ariana yang misterius meninggal? Apakah ia korban kecerobohan ritual sihir hitam? Apakah dia secara kebetulan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya, saat kedua anak muda tersebut mempraktekkan sesuatu dalam usahanya mencapai kejayaan dan dominasi? Apakah mungkin Ariana Dumbledore adalah orang pertama yang mati ‘untuk manfaat yang lebih besar’?

HIRAETHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang