Voldemort di seberang ruangan, sibuk melontarkan mantera dari tongkatnya sambil mundur ke dalam Aula Besar, tak lupa melontarkan instruksi kepada para pengikutnya.
Jumlah pejuang Hogwarts semakin sedikit, aku lebih memilih memberikan mantera pelindung kepada orang-orang di sekitarku. Mantera pelindung yang cukup kuat untuk menghancurkan kutukan-kutukan para Pelahap Maut dan tubuh mereka sendiri. Beberapa dari mereka menjerit saat melewati pelindung tak kasat mata dan tiba-tiba Tanda Kegelapan mereka terbakar tanpa sebab.
Dan kini semakin banyak, jauh lebih banyak orang menyerbu naik anak tangga depan,
Charlie Weasley terlihat begitu pula Horace Slughorn yang masih mengenakan piyama zamrudnya. Mereka sepertinya kembali memimpin orang-orang yang tampaknya adalah para anggota keluarga dan sahabat-sahabat dari siswa-siswa Hogwarts yang terus bertarung bersama para pemilik toko dan rumah di Hogsmeade.
“AYAH!” raungku, menjerit, melompat ke dalam pelukannya sementara ia sibuk memberi perlindungan, dan melempar kutukan. Tanganya yang lain memelukku dan mengelus pundakku tampak tidak menggenggu duelnya. Dia memimpin para penyihir dengan wajah asing, Viktor Krum ada di sana, bersama anggota Quiddicth-nya. Wajah-wajah lain mulai aku kenali, beberapa dari mereka adalah anggota Quiddicth dari berbagai negara, Troy, Ivanova, Lynch, Feint, Mulley, Zograf, bahkan wasit Piala Dunia Quiddicth sebelumnya, Hassan Mustofa.
Centaur Bane, Ronan dan Magorian menerjang masuk aula dengan gemerincing kuku mereka, sehingga daun pintu yang menuju dapur di belakang terhempas lepas dari engselnya. Peri-peri rumah Hogwarts berbondong-bondong masuk ruang depan aula, menjerti-jerit sambil melambai-lambaikan pisau dan golok, dan yang memimpin mereka adalah Kreacher yang mengenakan liontin di dadanya. Suaranya yang besar terdengar mengatasi keriuhan.
“Lawan! Lawan! Lawan demi Tuanku, pembela peri-peri rumah! Lawan Pangeran Kegelapan, demi nama Regulus yang gagah perkasa! Lawan!”
Mereka menyayat dan menusuk mata dan pergelangan kaki para Pelahap Maut, wajah mereka dipenuhi kebencian, dan para Pelahap Maut mulai terdesak oleh jumlah lawan yang begitu banyak, ditaklukkan dengan mantera, menarik anak panah yang tertancap di tubuh, ditikam di kaki oleh para peri rumah, atau mencoba melarikan diri, tapi tertelan kerumunan yang menerjang masuk.
Aku yang baru menyadari bahwa aku ahli dalam mantera perlindungan mulai membuat pelindung-pelindung tak kasat mata di beberapa titik tanpa melepaskan pelukan dari Ayah. Beruntungnya memiliki Ayah seorang Auror hebat, duelnya tidak akan terganggu oleh sebuah pelukan. Kami tetap menyerang, melempar kutukan, atau memberi perlindungan pada yang lain layaknya balerina di atas lantai dansa.
Aula Besar semakin sesak dan semakin ramai ketika setiap orang berusaha memaksa masuk. Yaxley terhempas ke lantai dikalahkan George dan Lee Jordan. Dolohov terjatuh sambil menjerit dikalahkan Profesor Flitwick. Walden Macnair terlempar ke seberang ruangan oleh Hagrid, menghantam dinding dan mengelincir tak sadar di lantai. Ron dan Neville menjatuhkan Greyback yang entah bagaimana berhasil lepas dari paku besi yang aku ciptakan. Aberforth menghantam Stunning Rookwood. Mr Weasley dan Percy membuat Thicknesse tergeletak di lantai. Lucius dan Narcissa Malfoy belari menerobos kerumunan, tanpa niat bertarung, menjerit-jerit mencari anak mereka.
Voldemort sekarang berduel dengan Profesor McGonagall, Sloughorn dan Kingsley sekaligus, dan kebencian yang dingin memancar dari wajahnya sementara mereka menyerang dan mengelak di sekelilingnya tanpa bisa menghabisisnya.
Bellatrix juga sedang bertarung, lima puluh meter jauhnya dari Voldemort, dan seperti tuannya dia melawan tiga orang sekaligus. Hermione, Ginny dan Luna, yang bertarung sekuat tenaga, namun Bellatrix dapat mengimbangi mereka. Lontaran Kutukan Pembunuh begitu dekat ke arah Ginny, meleset hanya satu inci.
“JANGAN PUTERIKU, DASAR PEREMPUAN JALANG!” Mrs Weasley melemparkan mantelnya sambil berlari, membuat lengannya bebas bergerak. Bellatrix berputar di tempatnya, tertawa terbahak-bahak melihat penantang barunya. “BERI AKU JALAN!” teriak Mrs Weasley kepada ketiga gadis itu, dan dengan satu kibasan diapun memulai duel.
Tongkat Molly Weasley mengayun dan berputar, dan senyum Bellatrix Lestrange berubah jadi geraman. Percikan-percikan cahaya meloncat terbang dari kedua tongkat mereka, lantai di sekeliling kedua penyihir itu menjadi panas dan retak-retak, kedua perempuan itu bertarung untuk membunuh.
“Jangan!” teriak Mrs Weasley ketika beberapa siswa maju untuk membantunya. “Mundur! Mundur! Dia milikku!”
Ratusan orang kini berbaris dekat dinding menyaksikan kedua pertarungan itu, Voldemort melawan tiga penantangnya dan Bellatrix melawan Mrs Weasley.
“Apa yang akan terjadi pada anak-anakmu setelah aku membunuhmu?” ejek Bellatrix, marah seperti tuannya, sambil berloncatan sementara kutukan-kutukan Mrs Weasley mengepungnya. “Ketika Ibu lenyap seperti Freddie?”
Aku hendak maju, namun lengan Ayah menarikku. Ia menggeleng lemah, membiarkan Mrs Weasley menyelesaikan sendiri duelnya.
“Kau –tidak –akan –pernah –menyentuh –anak –kami –lagi!” seru Mrs Weasley.
Bellatrix mengeluarkan tawa gembira seperti tawa ketika sepupunya, Sirius roboh ke belakang melalui selubung.
Kutukan Mrs Weasley meluncur di bawah lengan Bellatrix yang terentang dan menghantamnya
di dada, tepat di atas jantungnya. Senyum Bellatrix membeku, matanya tampak menonjol ke luar. Untuk sepersekian detik dia sadar apa yang terjadi, dan kemudian dia roboh, dan kerumunan penonton bersorak-sorai dan Voldemort menjerit.
Seolah-olah masuk adegan gerak-lambat. McGonagall, Kingsley dan Slughorn terpental ke belakang, menggeliat-geliat kesakitan ketika amarah Voldemort atas jatuhnya pembantu terbaiknya, meledak bagaikan bom, Voldemort mengangkat tongkatnya dan mengarahkannya ke Mrs Weasley.
“Protego!” seru seseorang entah dari mana, Mantera Pelindung mengambang di tengah Aula. Voldemort menatap sekelilingnya, mencari sumber mantera itu ketika Harry tiba-tiba muncul.
Jeritan kaget, seruan gembira dan teriakan. “Harry! DIA MASIH HIDUP!” terdengar sekaligus.
Kerumunan mulai takut, dan keadaan mendadak sangat hening ketika Voldemort dan
Harry berpandangan satu sama lain, dan pada saat yang sama saling mengitari satu sama
lain.
“Aku tak mau ada yang membantu”, kata Harry keras-keras, dan dalam keheningan total suaranya terdengar bagaikan terompet perang. “Beginilah seharusnya. Akulah yang harus melakukannya.”
Voldemort mendesis. “Potter tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya”, katanya, mata merahnya melebar. “Bukan begini cara dia bertindak, bukan? Siapa yang akan kau jadikan pelindungmu kali ini, Potter?”
“Tidak ada”, kata Harry. “Tak ada lagi Horcrux. Cuma kau dan aku. Yang satu takkan bisa hidup jika yang satunya selamat, dan salah satu di antara kita akan lenyap untuk selamanya…”
“Salah satu?” ejek Voldemort, sekujur tubuhnya menegang dan mata merahnya menatap tajam, bagai seekor ular yang siap menyerang. “Kau pikir kaulah orangnya bukan? Anak yang telah selamat karena kebetulan, dan karena Dumbledore telah meninggalkan kalian?”
“Kebetulankah, ketika ibuku mati menyelamatkanku?” tanya Harry. Mereka berdua masih bergerak ke samping, membentuk lingkaran penuh, menjaga jarak yang tetap dari satu sama lain. “Kebetulankah, ketika aku memutuskan bertarung di pekuburan? Kebetulankah, bahwa aku tak membela diri malam ini, tapi masih selamat, dan kembali untuk bertarung lagi?”
“Kebetulan!” teriak Voldemort, tapi dia masih belum menyerang, dan kerumunan yang menonton diam membatu seolah-olah terkena mantera Pembeku, dan tampaknya dari ratusan orang yang berada di Aula hanya mereka berdualah yang bernafas. “Kebetulan dan untung-untungan, dan fakta bahwa kau meringkuk dan merengek di balik para pria dan wanita yang lebih hebat, dan membiarkanku membunuh mereka demi kau!”
“Kau takkan membunuh siapapun lagi malam ini”, kata Harry sementara mereka memutar dan saling menatap mata masing-masing, yang hijau ke yang merah. “Kau tak akan mampu membunuh siapapun dari mereka malam ini. Kau masih belum mengerti juga? Aku siap mati untuk menghentikanmu menyakiti orang-orang ini—“
“Tapi kau tidak mati!”
“Aku bersungguh-sungguh, dan aku melakukannya. Aku sudah melakukan apa yang dilakukan ibuku dulu. Mereka terlindung darimu. Belum kau perhatikan jugakah bahwa tak satupun manteramu yang sanggup mengikat mereka? Kau tak bisa menyiksa mereka. Kau tak bisa menyentuh mereka. Kau tak belajar dari kesalahanmu, begitu kan Riddle?”
“Beraninya kau—“
“Ya, aku berani”, kata Harry. “Aku mengetahui apa yang tak kau ketahui, Tom Riddle. Aku mengetahui banyak hal penting yang kau tak tahu. Mau dengar beberapa, sebelum kau buat kesalahan besar lain?”
Voldemort tak bicara, tapi gerakannya terhenti sejenak, bukti bahwa ia terpancing oleh kata-kata Harry.
“Kau mau bilang, cinta lagi?”, kata Voldemort, wajah ularnya mengejek. “Solusi favorit Dumbledore, cinta, yang dia bilang mengalahkan maut, meskipun cinta tak menghentikannya jatuh dari menara? Cinta, yang tak menghentikanku menginjak ibumu si darah-lumpur bagaikan kecoa, Potter –dan tampaknya tak seorangpun cukup mencintaimu hingga mau maju saat ini untuk menerima kutukanku. Jadi apa yang akan bikin kau tak mati kalau aku serang?”
“Cuma satu”, kata Harry, dan mereka terus mengitari satu sama lain.
“Kalau bukan cinta yang akan menyelamatkanmu kali ini”, kata Voldemort, “kau pasti mengira kau punya sihir yang tak aku miliki, atau sebuah senjata yang lebih hebat dari punyaku?”
“Aku kira keduanya”, kata Harry wajah mirip ular itu memancarkan ekspresi terguncang, meski kemudian hilang, Voldemort mulai tertawa, dan suaranya lebih menakutkan daripada jeritan, tanpa humor dan gila, menggema di Aula yang hening.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIRAETH
FanfictionAncaman. Itulah yang dapat mendeskripsikan tahun ini. Siapa yang akan mengira Kau-Tahu-Siapa akhirnya kembali berkuasa setelah tujuh belas tahun menghilang? Tidak, dia bahkan tidak menghilang. Dia hanya bersembunyi selama tujuh belas tahun terakhir...
