"Anjir!" Sentak Bara melompat kaget, tak siap dengan kondisinya hingga tubuh Bella lolos begitu saja dan jatuh terduduk dihadapannya. Segera ia meraih gadis itu yang bergeming tanpa niatan bangkit dari lantai teras rumahnya.
"Untung belum lima menit, ayok bangun, Be," ujarnya dengan nada rendah sedikit bercanda, tak seperti sebelum-sebelumnya yang menarik paksa atau lebih parah makin menginjak tubuh Bella supaya gadis itu berinisiatif untuk bangkit sendiri.
Cowok itu mendadak kebingungan dengan keningnya yang mengkerut, setelahnya terdengar suara isak tangis dari gadis itu, hingga Bara terpaksa menundukkan kepala untuk memastikannya. Semakin lama, tangisannya kian tak terbendung membuat Bara kelabakan sendiri.
Dia tidak tahu caranya membujuk seorang gadis agar berhenti menangis, biasanya juga kalau sama korbannya sih cuma langsung disumpal tuh mulut yang tidak bisa diam dengan menggunakan sepatu, batu, kayu, atau apapun yang bisa ia jangkau. Haruskah ia lakukan hal yang sama pada Bella? Tidak. Mungkin itu bukanlah ide yang bagus.
"Diem, Be, jangan nangis dong," pinta Bara dengan suara memohon yang terdengar menggemaskan.
Gadis itu membekap mulutnya sendiri akan tetapi bukannya berhenti, air matanya malah semakin susah dikendalikan sampai tak berhenti mengalir. Suara isak tangisnya lolos begitu saja tanpa permisi. Terlalu sakit rasanya mengetahui fakta bahwa lagi-lagi orang yang menyayanginya kini telah berkurang satu.
Belum cukupkah orangtuanya diambil ketika ia masih memerlukan belaian mereka, kini orang-orang baik disekitarnya juga harus pergi meninggalkannya sendirian. Mengapa semua kekuatannya harus direnggut darinya? Tak bisakah engkau sisakan satu saja orang yang betul-betul peduli kepadanya untuk waktu panjang.
Bella benar-benar hancur. Tidak ada lagi orang baik di lingkungannya. Mbok Yem bukan hanya sekedar tetangga tapi sekaligus sosok ibu yang memperlakukan Bella layaknya anak kandung sendiri. Tak heran gadis itu sangatlah terpukul kala mengetahui kenyataan bahwa mbok Yem telah tiada.
Sekarang siapa lagi yang akan membelanya jika tiba-tiba warga mengamuk tanpa sebab? Sosok malaikat seperti mbok Yem tidak bisa ia temui dibelahan bumi manapun. Pada siapa ia harus bersandar kala kaki ini tak sanggup lagi melangkah? Tubuh ini mulai lelah, siapa yang mau menopangnya? Ia letih, tidak kuat menahan beban yang berat diusianya ini.
"Beauty," panggil Bara pelan, tatapannya sulit diartikan.
"A-aku, aak-ku nggak punya siapa-siapa lagi," cowok itu tertegun. Pergerakannya terhenti mendengar nada sesenggukan gadis itu.
"Ap-pa salah aku, Bar?" Bella mendongak menatap Bara yang bergeming didepannya. Entah mengapa dada cowok itu tiba-tiba terasa sedikit ngilu, seperti ada benda tajam yang menusuknya pelan-pelan.
Lagi-lagi Bella tertunduk penuh luka, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari menangis tersedu-sedu. "Mbok Yem yang selalu ada buat aku, dan sekarang dia sudah nggak ada, dia juga pergi ninggalin aku sama kayak yang lainnya." Tangisnya terdengar pilu dengan suara bergetar ia terus mengutarakan kepedihannya.
"Sekali lagi, aku harus merasa sendiri. Tidak ada yang mau menerimaku, mereka semua membenci aku. Aku harus bagaimana? Mengapa Tuhan mengambil orang-orang yang menyayangiku? Apa aku nggak pantas bahagia, Bar?" Keluhnya makin menjadi.
Gadis itu cukup banyak bicara dan nadanya terdengar sangat lirih. Bahkan Bara pun tidak pernah menduganya. Emosi seperti apa yang Bella berikan kepadanya? Apa ini patah hati? Mengapa sakit sekali padahal hanya melihat Bella menangis. Dia tidak menyukai rasa ini, sakitnya membuat Bara tersiksa lebih dari ditikam senjata tajam.
Dia harus segera menghentikan emosi Bella sebelum ia juga semakin tersiksa. Tapi haruskah dibujuk? Dengan cara apa? Cowok itu tidak pernah melakukan hal konyol macam itu, Zefa saja sering ia tinggalkan ketika menangis. Namun Bara tak kehabisan akal, ia akan terus mencari cara agar gadisnya bisa berhenti menumpahkan air asin bak kolam air mancur tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tristis (TAMAT)
Mistério / Suspense( BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM BACA) 🏅Rank 1 #detective #Riddles #murung #Toxic #psychokiller #Latin Arabella Milanello, cewek yang dijuluki semua orang sebagai cewek cupu, korban bullying yang membalut sejuta luka dengan senyum hangatnya. Hidupnya s...
