"Damn! My business will be ruined if you incompetent!" Maki seseorang diseberang sana.
"I'm sorry, this is my fault and i'll be handle."
"Baiklah, saya tunggu kiriman organ-organ tubuh lainnya. Dan pastikan tidak ada masalah apapun. Because if you make the same mistake again. I'll kill you!" Kecamnya sungguh-sungguh meski dengan logat bahasa yang bercampur Inggris lengkap aksen Meksiko nya.
Telepon dimatikan sepihak. Rahang wanita itu mengeras dengan tangan yang terkepal erat disamping tubuh menandakan amarahnya. Entah berapa banyak panggilan masuk hari ini dan semuanya berisi protesan para customer baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak hanya bentuk protes, mereka sampai mengancam akan menghabisi nyawa wanita itu jika pasokan yang sesuai kontrak mereka tidak dicukupi secara sempurna.
Inilah resikonya jika berhubungan dengan para mafia dunia, psikopat, dan orang-orang gila yang terkoneksi dalam lingkup dunia gelap. Perdagangan senjata ilegal, daging manusia, organ-organ tubuh, serta penyelundupan narkoba hingga satwa yang dilindungi adalah pekerjaan wanita itu. Sekarang jika jobnya selalu digagalkan oleh orang tak dikenal ia harus bagaimana? Belum lagi masalah pribadinya yang kian memuakkan sebab membuat musuhnya menderita belum juga terlaksana.
Ia menggigit jari jempolnya dan bergerak gelisah dengan pikiran kacau. Semuanya harus ia tangani segera mungkin, tapi pertama-tama mulai dengan menyiksa sumber kutukannya.
"Lagi dan lagi." Gumamnya berjalan maju mundur tak tentu arah. "Tidak, aku tidak akan membiarkan wanita sialan itu merenggut kebahagiaan ku setelah semua yang aku lakukan." Racaunya.
Tiba-tiba badannya bergetar, napasnya memburu, berulang kali ia menelan ludah kasar berupaya menghentikan degup jantung yang semakin tak terkontrol. Ia meraih sebuah figura dari dalam laci. Tatapannya terkunci di satu titik, orang yang paling dibencinya tengah tersenyum bahagia digendong sang papa juga ditemani wanita yang tak lain adalah ibunya.
"Kamu akan merasakan apa yang aku alami selama ini, Bitch!" Suaranya penuh penekanan.
"Arghhhhhh!" Pekiknya bersamaan dengan bantingan benda-benda yang terletak di atas laci. Semuanya berserakan dan berhamburan dimana-mana tak terkecuali figura yang tadi ada digenggamnya.
Dia bergerak menuju pintu dan membukanya keras. Amarahnya kian tak terbendung, sorot matanya yang tajam nan berapi-api menandakan bahwa emosional wanita itu tidak bisa dikendalikan. Ia menyapu pandang penjuru tempat tinggalnya yang megah itu, hingga tatapannya tertuju pada sebuah ruangan. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dalam benaknya. Senyum iblis muncul dari sudut bibirnya.
"Will!" Teriaknya lantang menggema di rumah bertingkat itu.
Tak lama setelahnya, seorang pria jenjang bertubuh atletis dibalut jas hitam formal datang dengan hormat.
"Ada apa, Miss?" Tanyanya tegas. Dia cukup berani' membalas tatapan Miss sebab hanya Will lah orang kepercayaan sekaligus paling berjasa bagi Miss. Namun jabatannya tak lebih dari seorang anak buah, sebab kehormatan tertinggi masih berada dalam genggaman Miss.
"Saya punya rencana baru," ucapnya kemudian melirik ke ruangan yang tadi sempat menarik perhatiannya. "Lakukan hal yang sama padanya."
Will menampilkan raut kebingungan. "Tapi kenapa, Miss?"
"Saya yang akan turun tangan,"
"Bagaimana jika ada orang yang curiga ketika melihat anda? Itu terlalu beresiko, Miss." Will tidak begitu setuju dengan keputusan tersebut.
"Turuti saja!" Tandasnya tanpa mau terbantahkan.
_______
"Apa ini?" Gadis itu merasakan sesuatu dari dalam tasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tristis (TAMAT)
Misterio / Suspenso( BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM BACA) 🏅Rank 1 #detective #Riddles #murung #Toxic #psychokiller #Latin Arabella Milanello, cewek yang dijuluki semua orang sebagai cewek cupu, korban bullying yang membalut sejuta luka dengan senyum hangatnya. Hidupnya s...
