"Sayang, ada Julian didepan," segera gadis itu bergerak bangkit dari posisi tidurnya.
Ia menatap Tante Vio yang berada diambang pintu kamar dengan bingung. "Kok Julian bisa tahu aku disini?"
Violence berjalan mendekati gadis itu. Belaian singkat ia daratkan ke puncak kepalanya. "Tante yang minta Julian kesini untuk nemenin kamu."
"Emangnya Tante mau kemana?"
"Ada beberapa hal yang harus Tante urus. Nggak apa-apa kan Tante tinggal sebentar?"
Bella tersenyum tipis lalu menggeleng. "Malahan aku yang ngerepotin Tante," ujarnya.
Violence balas tersenyum manis. Ia menjawil hidung mungil gadis itu. "Tante nggak ngerasa direpotkan sama sekali, malahan senang banget kamu mau nginep disini."
Pelukan hangat sebagai ucapan syukur Bella kepada wanita paruh baya itu. "Terimakasih, Tan,"
Violence mengecup puncak kepala Bella dengan sayang. "Udah sana, kasihan Julian nunggu kelamaan,"
"Aku ganti baju dulu. Tante duluan aja,"
"Yaudah, sekalian Tante langsung berangkat, ya?"
Bella mengangguk singkat. "Hati-hati, Tan," ujarnya sebelum Violence meninggalkan ruangan.
Bersyukur sekali hari ini. Meskipun ia masih berduka atas kehilangan mbok Yem tapi lagi-lagi sosok Violence yang bergerak merangkulnya. Dia selalu menawarkan kenyamanan untuk Bella meskipun tahu kalau tidak ada hubungan darah antaranya. Kedekatan mereka memang belum terlalu lama terjadi, itupun karena suatu peristiwa yang tidak disengaja. Tapi sampai kapanpun Bella tidak akan pernah melupakannya, karena berkat pertemuan itu dia bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus.
Violence adalah sosok ibu yang baik, lemah lembut, penyayang, sangat idealis namun sayangnya ia tidak memiliki keluarga senada dengan perbuatannya. Semua orang bahkan tahu siapa wanita tangguh itu karena sebagai sosok terpandang kehidupan pribadinya juga terekspose dimana-mana. Disorot sana-sini dan hal tersebut tak luput dari perhatian Bella.
Dia tidak menyangka jika orang baik seperti Tante Violence juga akan mengalami sebuah ujian yang bahkan bisa dikatakan lebih berat dibandingkan dengan masalah yang menimpa Bella. Akan tetapi memang ya, ujian itu tidak pandang bulu. Mau tua muda, kaya, miskin, kuat, lemah, semuanya adil dimata Tuhan. Porsi cobaan dan nikmat yang dikarunikan-Nya juga sama rata. Semua manusia punya masalah tapi mengukur berat atau kecilnya hanya semampu mana kesabaran dalam menghadapinya.
Sungguh, kasihan sekali mendengar semua kisah perjalanan hidup Tante Violence. Bella pun tidak sanggup memposisikan diri sebagai wanita itu. Tidak hanya kehilangan orang-orang dikasihinya, Tante Violence juga difitnah mencari keuntungan atas kontroversi tersebut. Oleh karena itu Bella ingin menjadi seorang teman untuknya.
Dia ingin menemani setiap kesedihan wanita paruh baya itu layaknya seorang putri yang menjaga ibunya. Biar ini jadi bentuk balas Budi karena Tante Violence sudah banyak membantunya. Selain itu, Bella juga bisa merasakan pahitnya berada di posisi terendah saat orang-orang mengucilkannya. Kemiripan masalah keduanya mungkin bisa membawa mereka ke pemecahan solusinya juga.
Semoga saja.
___
"Ju,"
"Ara!" Cowok itu bergegas menghampiri Bella yang sedang mengarah padanya.
"Duduk aja, Ju, aku emang mau nemuin kamu, kok. Nggak usah kesini," kekehnya mendapati tingkah lucu sahabatnya itu.
"Aku bantuin. Bentar, pelan-pelan aja," ucap Julian merangkulnya dan memapah jalannya.
"Emangnya aku kenapa?" Selidik Bella keheranan. "Aku bisa jalan sendiri, Ju." Lanjutnya masih mentertawakan perhatian sahabatnya.
Julian menghela napas pasrah. "Lihat kondisi kamu, Ra. Lutut kamu memar, wajah juga, ini_"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tristis (TAMAT)
Misteri / Thriller( BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM BACA) 🏅Rank 1 #detective #Riddles #murung #Toxic #psychokiller #Latin Arabella Milanello, cewek yang dijuluki semua orang sebagai cewek cupu, korban bullying yang membalut sejuta luka dengan senyum hangatnya. Hidupnya s...
