___"Tapi aku kan bukan siapa-siapa kamu, Bar,
"Damn!" Bara nyaris tersedak air liurnya sendiri. Ia menatap tajam gadis itu yang sepertinya sedang menghindari kontak mata dengannya. Pasti sekarang dia menyesali perkataannya barusan.
Tapi ucapan Bella juga ada benarnya. Mereka kan tidak punya hubungan apapun, jadi apa hak Bara mengatur siapa dan apa yang harus dilakukan cewek itu. Namun si keras kepala tidak akan membiarkan seorangpun berhasil mendebatnya. Bukannya merasa tertampar dan sadar diri, justru ia masih punya seribu jurus untuk membuat si lawan terpojokkan. Memaksa adalah jalan ninjanya.
"Berapa kali gue bilang, Lo itu calon istri gue, Be," tandasnya.
"Bukan. Itu keputusan kamu, aku bahkan gak pernah sekalipun berpikiran ke arah situ, Bar." Sanggahnya berusaha berani'.
Tangan cowok itu terkepal kuat disamping tubuhnya. Rahangnya mengeras dengan gigi beradu, amarahnya makin terpancing.
"Terus lo maunya apa sekarang?" Gadis itu tersentak kaget mendengar bentakan Bara. Apalagi melihat netra hitam nan kelam itu membuatnya merasa semakin terintimidasi, ia bahkan kesulitan membuka mulutnya.
Satu detik, dua detik, sampai sepuluh detik berlalu namun tidak ada sahutan dari si gadis. Bara yang semula kesal perlahan mengatur emosinya menjadi stabil kembali. Semudah berkedip, begitulah ia memainkan peran memanipulasi keadaan hingga siapapun bisa terkecoh dengan gampang.
"Oke, kita pacaran!" Putusnya sepihak lagi-lagi membuat Bella tidak bisa berkutik. Tapi dia akan terus mencoba memberontak.
"Tidak." Gadis itu menggeleng cepat. "Aku nggak mau pacaran sama kamu," tolaknya mentah-mentah.
"Kenapa? Apa alasannya?" Tuntut Bara berupaya memojokkan Bella.
"Karena aku nggak cinta sama kamu,"
Cowok itu terdiam untuk beberapa saat. Mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh gadisnya.
"Terus masalahnya dimana?" Sela Bara akhirnya buka suara lagi. Dia menggenggam kedua lengan Bella hingga gadis itu meringis merasakan sakitnya. Lagi-lagi fisik dijadikan bahan pertimbangan untuk menekannya.
"Ss-sakit," cicitnya tertahan.
Seolah tak memiliki empati, Bara malah semakin memajukan tubuh rapuh itu menariknya mendekat kehadapan nya. Ia mengangkat dagu Bella dengan satu telunjuknya agar bisa menyelam jauh ke dalam netra kecoklatan gadis itu.
"Akan lebih sakit kalau lo bersikukuh bertahan disisi orang yang bahkan nggak peka terhadap perasaan lo."
"Lepasin," gadis itu berusaha menguraikan cekalan kuat tersebut.
"Lo nggak tuli dan Lo nggak buta, Be," suaranya masih terdengar rendah.
Namun bukannya merespon, Bella bersikeras untuk membebaskan diri dari Bara. "Sakit, lepas-"
"Buka mata lo! jangan bodoh untuk sadar kalau dia nggak pernah dan nggak akan bisa mencintai Lo, Be," gadis itu tercengang dan refleks menatap Bara yang tengah diliputi amarah.
"Karena Lo tuh nggak pantes buat dia."
tegasnya lagi kemudian melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
Bella terpundur kebelakang saking kuatnya dorongan laki-laki itu. Hatinya mencelos pedih, tertusuk ucapan Bara. Matanya yang semula memerah bekas menangis kini kembali berkaca-kaca. Mengapa Bara mengatakan hal tersebut? Dia tidak perlu diingatkan kalau memang ia tidak pantas bersanding dengan Julian, orang yang dimaksud. Sakit sekali rasanya, dadanya sesak.
Bibirnya bergetar menahan goncangan dari dalam hatinya yang tentu saja sangat menyedihkan. Ia menggigit bagian dalam bibirnya mencoba mencegah Isak tangisnya yang sudah siap meluncur. Namun gagal, ia menunduk pasrah dengan tangis yang pecah. Cowok itu benar, Bella sangat tidak pantas bahkan untuk menghirup oksigen saja rasanya seperti ia manusia hina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tristis (TAMAT)
Mystery / Thriller( BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM BACA) 🏅Rank 1 #detective #Riddles #murung #Toxic #psychokiller #Latin Arabella Milanello, cewek yang dijuluki semua orang sebagai cewek cupu, korban bullying yang membalut sejuta luka dengan senyum hangatnya. Hidupnya s...
