secret room

575 36 0
                                        


"Kenapa kamu membawa kita ke penjara ini, Al?" Tanya detektif Damar keheranan setelah berada di dalam ruangan tersebut.

Melihat kedatangan detektif Damar, Algio, Mike, dan Dewi, komandan Beno yang saat itu berada di salah satu ruangan ikut keluar. Dia tidak bertanya apapun tetapi langsung menyusul keempat orang tersebut yang terlihat seperti tengah terburu-buru.

"Coba periksa ulang tempat ini," ucap Algio kemudian.

Komandan Beno yang baru saja tiba dan mendengarnya pun segera menyuruh anggotanya, namun, lagi-lagi Algio membuat mereka kebingungan karena ucapannya.

"Om Damar! Bukan mereka." Dia menghentikan pergerakan anggota polisi yang tadi diperintahkan oleh komandan Beno.

Mau tak mau anggota polisi itu mengurungkan langkahnya karena komandan mereka pun nampak terdiam tak mengerti. Semuanya hanya mampu menyimak saja, detektif Damar menyetujui permintaan anak itu. Dia pun mulai menelusuri kamar yang sempat ditempati oleh Violence sebelum wanita itu berhasil meloloskan diri. Mereka tidak berani memegang apapun sebelum mendapatkan instruksi dari Komandan mereka.

Dewi memperhatikan dengan seksama bagaimana detektif Damar bekerja dalam keheningan, karena sebagian dari mereka cuman bisa berdiam di tempat. Wanita itu melirik sekilas pada keponakannya yang sedang berbisik pada Mike. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, sepertinya sangat serius. Sekarang, Algio mendekati komandan Beno. Sama seperti tadi, anak itu juga membisikkan sesuatu ke telinga komandan Beno. Raut lawan bicaranya kali ini mencuatkan reaksi terkejut, berbeda dengan Mike yang tadi hanya datar dan manggut-manggut saja.

Sekarang, Algio tiba dihadapan sang Tante yang masih sedia menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Apa?" Semua mata kini memperhatikan Dewi yang terkejut dengan refleks membuka mulutnya.

Algio menggeleng pelan, mengisyaratkan agar tantenya itu segera merubah ekspresinya. "Tidak sekarang." Ujarnya melanjutkan.

Apa dan kenapa, tidak ada yang tahu. Tapi, raut komandan Beno dan Tante Dewi menimbulkan kecurigaan yang membuat detektif Damar penasaran. Dia ingin bertanya, tetapi sesuatu yang ditemukannya lantas mengurungkan hal tersebut.
Lagi, detektif Damar nampak berjalan ke sekitaran tempat tidur yang menjadi satu-satunya objek benda di tempat itu. Dia berbalik, dan mengambil langkah dua kali lalu kemudian berhenti.

"Apa kau mendapatkan sesuatu yang janggal?" Selidik Dewi yang ikut penasaran.

Detektif Damar menolehkan kepalanya ke belakang, raut bingungnya ikut memancing keingintahuan mereka yang ada di sana. Kemudian, tindakan pria itu kembali menciptakan tanya. Detektif Damar berjongkok, dan dengan tangannya mengetuk-ngetuk keramik petak di dekat sebuah ranjang itu. Masih belum puas, dia kembali berdiri dan mengambil jarak dari tempat itu. Tatapannya kini beralih pada anak buah komandan Beno.

"Tolong, singkirkan tempat tidur tersebut." Suruh nya yang langsung diangguki dengan patuh oleh mereka.

"Letakkan saja di ujung sana, dekat pintu." Jelas komandan Beno memberikan aba-aba saat dipan telah diangkat.

Masih seperti tadi, detektif Damar kembali mendekati lokasi yang sebelumnya. Hal yang membuat mereka semakin tak paham adalah ketika pria itu berbaring di lantai dengan posisi miring dan telinganya ditempelkan pada balok-balok keramik tersebut. Ketukan kembali dia lakukan di area telinganya yang menyentuh permukaan lantai. Semakin jelas, suara bunyi yang cukup keras bahkan mampu didengar oleh mereka semua. Kini, mereka sadar jika ada yang tidak beres di ruangan itu.

"Sepertinya ada ruangan lain di bawah sini,"

Kaget, mereka semua terdiam. Bagaimana bisa ada sebuah tempat rahasia diruangan paling ketat itu dan tidak ada satupun orang yang tahu. Jika memang benar ada, maka jelaslah darimana Violence bisa tiba-tiba menghilang dalam hitungan menit. Pasti ada orang yang membantunya keluar dari tempat rahasia itu.

Tristis (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang