"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Praktis Marsha menoleh ke belakang. Namun nihil. Tidak ada orang sama sekali. Sejenak tangannya terangkat mengusap kulit lehernya yang meremang. Mencoba acuh, Marsha kemudian kembali berlalu.
Marsha ingat betul jalan-jalan di daerah Yasmin tempatnya berpijak sekarang. Ia melangkah. Menyeberangi lampu merah. Dan melihat ke sekeliling dengan perasaan membuncah. Ya. Marsha senang sekali jalan-jalan seperti ini. Ketika dirasa sudah cukup lelah, ia masuk ke dalam sebuah kafe di tepi jalan.
"Mau pesan apa, Mba?" Pertanyaan seorang pelayan begitu Marsha duduk di sana.
"Coffe latte-nya satu."
Di samping jendela sambil memandang awan cerah adalah tempat duduk favorit Marsha. Kafe berlantai dua itu tidak terlalu ramai orang. Namun Marsha sempat tergelak kala menemukan beberapa orang lelaki bertubuh kekar masuk dengan pakaian serba hitam. Seperti kaos, masker, topi, celana dan kacamata.
Marsha ingin memperhatikan mereka lebih jauh. Namun hal itu berhasil terurungkan ketika seorang pelayan memberinya minuman yang semula dia pesan. Dan ketika Marsha mengucap terimakasih, para lelaki itu sudah duduk di pojokan sambil menikmati kopi.
Berusaha tidak peduli, Marsha memilih mengeluarkan sebuah buku diary. Di situlah biasanya Marsha mengungkapkan isi hati sekiranya sedang tak ingin bercerita dengan orang lain. Marsha mulai menulis daftar list hari ini. Dokter Anya pernah berpesan padanya, bahwa Marsha harus bisa mengatur pola hidupnya sendiri.
Seperti makan teratur. Istirahat, dan tidur yang cukup. Sebuah pena kemudian meluncur tepat di atas buku itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menggoreskan tinta tepat pada jadwal yang telah dilakukan, Marsha lalu kembali merenung. Ia membaca novel yang selalu dibawanya kemana-mana. Dan kemudian asik dengan sendirinya.
Sementara para lelaki yang mengawasinya sejak tadi masih setia di posisi masing-masing. Enam orang termasuk Rainer dan Arsenal ikut hanyut menikmati suasana kafe yang adem ayem bikin betah berlama-lama. Dua orang adik tingkat mereka asik menyantap makanan dan dua orang lainnya malah sibuk menggoda perempuan di pojokan.