"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chelsea mendengus kecil. Sekarang gadis itu berbalik badan dan menghampiri Madhava yang sibuk dengan tulisannya. Sementara Milan dengan cepat mengambil tempat duduk di sisi Gentala. Memangku dagu dengan sebelah tangan memandang lelaki itu lekat-lekat seolah menggoda.
Gentala tak tampak risih sama sekali. Ia yang tengah bermain rubik kesayangannya itu hanya menoleh pada Milan sekilas sebelum mengusap wajah gadis itu gemas.
"Genta.." lirih Milan terdengar seperti rengekan.
"Hm?"
"Kapan lo mau ngajak gue duel lagi?"tanya Milan tiba-tiba.
Sudah bukan rahasia lagi jika Milan adalah satu-satunya gadis di Xavior gang yang mampu mencairkan es dalam diri Gentala. Gadis itu bahkan kerap diajari seni bela diri atau beradu tinju olehnya. Entahlah, bagi seorang Gentala Taksa Hartigan, Milan itu berbeda.
Baik para anggota yang lain atau Julian sang ketua teringin menjodoh-jodohkan mereka, namun tak ayal keduanya mengaku tak punya hubungan spesial lebih dari seorang teman.
"Lagi nggak pengen lawan perempuan," ujar Gentala tanpa menoleh lagi pada Milan.
"Ah, nggak asik lo, Genta," cibir Milan besedekap dada.
"Stop, stop! Gue bela-belain kesini bukan buat ngeliat lo pada bucin ya, Njing."
Oleh penuturan sarkas itulah, mereka kompak menoleh pada Rainer yang kian merasa suntuk di sofa. Lelaki itu baru saja tiba ketika sekolahnya tengah menunjukkan jam istirahat juga.
Gama yang tipikal sering merasakan kantuk berlebih dan kebiasaannya yang selalu ketiduran di dalam markas besar mulai melangkah pelan. "Lah lo bego. Ngapain kesini kalau nanti bakalan balik lagi ke sekolah lo? Mending lo kesini pas waktu pulang, Ner."
Rainer tidak mengatakan apapun. Selain memasang wajah datar ke arah Gama sambil mengacungkan tasnya ke udara.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Abrisam. Tipikal Abrisam si anak pintar. "Jangan kebanyakan bolos."
"Sekali doang, Sam," ujar Rainer sambil meringis menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sekali-kali tuh lo nanti bakal ketagihan juga!" seru Gama mulai merebahkan dirinya di atas sofa.
Rainer mendelik tajam. "Terus lo ngapain juga ke markas kalau bukan punya tujuan yang sama kayak gue, Bray?"
"Turu," jawab Gama singkat. "Sini tidur lo sama gue. Temenin sampe jam pulang sekolah." Gama kemudian menarik tangan Rainer asal ketika dirinya mulai menutup mata.
Rainer kontan membelalak. Sedetik setelahnya, suara melengking milik Rainer menggema di penjuru markas besar. Satu hal yang agaknya tidak bisa dipisahkan dari Xavior gang. Bagaimana kekonyolan Arsenal dan hebohnya Rainer selalu berhasil membuat suasana semakin hidup.