"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mobil milik keluarga The J Family berjalan menuju kediaman Marsha. Sampai di perempatan lampu merah, mereka bertemu dengan motor-motor serta mobil anggota Xavior gang lalu mereka mengikuti dari arah belakang. Jalan raya seketika penuh dengan kawalan anak muda berjaket hitam serta logo tengkorak membentuk huruf X di belakang punggung.
Jarak yang tidak terlalu jauh membuat mereka lebih cepat sampai. Karena harus melewati gang, beberapa mobil akhirnya terparkir di depan sementara motor tetap terparkir di halaman rumah Marsha. Rombongan keluarga akhirnya turun diikuti anggota Xavior gang.
Keluarga Marsha menyambut hangat. Anggota inti berkesempatan untuk duduk di dalam sementara yang lain di luar. Mereka menunggu pengantin wanita yang belum keluar dari kamar.
Arsenal yang duduk di samping Julian menyenggol bahu teman kecilnya itu sambil terkikik geli. "Sabar, Bos. Gue liat-liat mata lo udah hampir mau keluar nih nungguin Ibu ketua."
Julian berdecak. "Diem lo."
"Anak-anak cewek yang dateng siapa aja?" Gama bertanya.
"Kenapa, Gam? Pengen lo gebet?" celetuk Arsenal
"Gue bukan lo ya, Blay."
"Paling Nadine. Marsha kayaknya jarang interaksi juga di sekolah," ujar Milan ikut menjawab.
Kemudian yang lain mengangguk. Tak lama kemudian penghulu datang. Para anggota keluarga menyambut lalu Miranda sebagai ibu dari Marsha menjemput anaknya. Dengan diapit sang Mama dan Nadine di sisi kanan dan kiri Marsha melangkah menuju ruang tamu dimana yang lain berada.
Ketika bunyi langkah terdengar, Julian menoleh ke belakang lalu ia terpana. Marsha menggunakan kebaya berwarna putih yang sederhana. Rambutnya yang biasa tergerai kini disanggul dengan segala hiasan cantik di atas kepala. Wajah serta kedua mata besar itu dipoles make up yang membuatnya kian bercahaya.
Sampai gadis itu diarahkan duduk di sampingnya, Julian tetap tak bisa mengalihkan tatapan. Pemandangan yang dilihat oleh seisi ruangan itu jelas memancing bibir untuk tersenyum jenaka.
"Heh, jaga pandangan. Belum muhrim," ucap Juna berniat meledek adiknya.
"Yaelah .... Dikit lagi ini, Bang," jawab Rainer membela.
"Ihiy!" seru Arsenal memancing tawa teman-temannya.
"Semuanya udah siap?"
"Siap, pak," jawab para anggota Xavior gang serentak.
Marsha terus merunduk. Ia benar-benar merasa gugup dan tak menyangka hari ini akan tiba. Lalu rasa gugup itu seketika dileburkan oleh Julian dengan sedikit pujian yang tak pernah absen dari mulutnya.