"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Markas besar Xavior gang diisi oleh keheningan. Suasana kian mencekam setelah acara tahunan Pandawa selesai dan mereka dikumpulkan ke markas oleh Julian. Lelaki itu sendiri tengah duduk di kursi kebesarannya dengan beberapa anggota yang merunduk penuh rasa bersalah.
Mereka tidak bisa menjaga keamanan dengan baik, hingga satu junior yang ditinggali temannya sampai diserang oleh penyusup kini harus terbaring lemah dirumah sakit.
"Maxwin udah sadar, bos Jul. Tapi kondisinya masih lemah kata dokter. Jadi dia masih belum bisa pulang." Arsenal melapor setelah membawa junior mereka yang bernama Maxwin itu ke rumah sakit dan membayar penuh biaya perawatannya.
Julian yang semula duduk dengan satu kali terlipat dan tangan menopang pelipis kini mengangguk samar. Ia tidak menoleh sama sekali. Sudah beberapa menit ia geming dengan isi kepala yang bising.
Gama yang duduk di samping sofa Julian menghela napas panjang. "Gue selaku wakil lo minta maaf, Jultot. Seandainya gue lebih gercep mungkin kita nggak bakal kehilangan jejak mereka. Gentala yang full jaga di belakang sekolah juga kelimpungan tadi."
Gentala merunduk dengan muka yang semrawut. Ia ditugaskan menjaga lingkungan belakang sekolah yang begitu luas tapi ia justru mengecewakan Julian.
"Enggak. Ini bukan salah Genta. Gue juga terlibat acara tadi sampai lengah jaga keamanan," sahut Julian tegas.
"Terus apa rencana lo selanjutnya, Lian?" Abrisam bertanya dengan nada rendah namun penuh wibawa.
Suasana markas yang biasanya diisi dengan tawa kini penuh sunyi dengan hawa dingin yang menusuk. Hal itu tak luput dikarenakan ketua mereka yang duduk dengan wajah menahan dendam. Rahangnya mengeras. Alis tebalnya sejak tadi menyatu dengan kedua tangan terkepal.
Orang bilang tidak ada yang lebih berbahaya dibanding marahnya orang yang sabar dan murkanya orang yang kerap tertawa. Mereka mengetahui itu setelah berkali-kali menyaksikan kemarahan Julian dan itu amat menakutkan.
"Bos-"
"The zurrel anjing."
Arsenal bahkan tersentak ketika baru saja memanggil. Julian berdesis sembari melempar korek bertanda "TZ"
"Gue udah nggak pernah mancing mereka buat bikin keributan bahkan tawuran sekalipun. Kalau mereka mancing, itu artinya mereka juga yang manggil gue untuk berhadapan."
"Te-terus kita harus tanya Rainer kali ya, Bos-"
"MASIH NANYA LO? PANGGIL PRAJURIT ITU SEKARANG!"
Arsenal refleks terpejam usai disemprot pekikan Julian. Cowo itu mengangguk cepat dan segera menelepon Rainer. Sebab Rainer sekolah di tempat The Zurrel juga bersekolah. Terlebih lelaki itu juga berperan sebagai mata-mata.