46#Pengunduran Diri Komandan

1.5K 88 7
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Pulang sekolah, Julian memutuskan mendatangi markas besar Xavior gang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pulang sekolah, Julian memutuskan mendatangi markas besar Xavior gang. Selain untuk mengecek keadaan, ia merasa perlu menenangkan diri ke tempat yang ia anggp sebagai rumahnya sendiri. Akan tetapi ada yang berbeda. Satu menit pertama sejak kakinya menginjak lantai, tidak ada yang menyambutnya sama sekali.

Julian melempar tas dan menjatuhkan diri diatas sofa. Ia melenguh panjang tanda bahwa dirinya lelah luar biasa. Di sampingnya, Gama sedang bermain ipad. Lalu di seberang ada Rainer yang tampak diam sembari mengikis bibirnya sendiri.

Bingung dengan keadaan yang tampak canggung, Julian akhirnya bertanya langsung. "Ada apa? Ada masalah?"

Tidak ada jawaban. Beberapa dari anggotnya menunduk dan sisanya membuang muka. Julian heran mengapa ketika ada sesuatu para anggotanya tak terus terang melainkan membuatnya lebih banyak mencari tahu. "Gam, kenap-"

"Marsha hamil, Jul?" cela Gama cepat.

Julian terdiam. Seisi markas berhenti dari kegiatannya, beralih berkumpul di ruang depan menunggu penjelasan dari sang ketua. Termasuk Gentala. Lelaki yang sejak tadi berusaha menghindari Julian kini terang-terangan memberi tatapan remeh padanya.

Arsenal menunjukkan rawut kekecewaannya. "Kok ...Bisa sampai hamil, Jul? Harusnya ini cuma jebakan kalian seolah udah tidur berdua kan?"

Julian menghembuskan napas gusar sembari memejam sebentar. Ia begitu frustrasi dan sejujurnya menghindari pertanyaan ini. "Kalian udah tau? Gue juga mikirin banget akhir-akhir ini."

"Enggak masuk akal! Kalau lo sama dia cuma dijebak buat difoto foto dalam keadaan kayak gitu, kenapa Marsha bisa hamil?" tuntut Gentala dengan emosi yang membara-bara.

"Bangsat! Lo pikir gue emang sengaja mau ngerusak Marsha? Ngomong lo sekali lagi, Gengala!" Julian berdiri. Dalam hitungan detik saja tangannya sudah melayang memberi bogeman mentah pada Gengala.

Bugh

Sungguh dalam keadaan seperti ini, Julian gampang tersulut emosi. Gentala tumbang hanya dalam satu kali pukulan. Bibirnya mengeluarkan darah segar tetapi wajahnya tetap menatap remeh pada Julian.

"Jul, udah Jul. Lo jangan terpengaruh sama omongan Gentala. Dia cuma belum bisa terima sama keadaan kita sekarang." Demi menyelamatkan Gentala dari serangan Julian, Gama terpaksa membela.

Ia tahu emosi milik Julian akan menghancurkan semuanya.

"Lo pikir gue sengaja? Lo pikir gue inget sesuatu? Gue nggak sebrengsek itu Gentala, asal lo tau! Gue nggak bakal jadi pura-pura bodoh kalau gue sadar gue yang udah ngehamilin dia," desis Julian dengan napas terengah.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang