"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti janji mereka, Julian dan Marsha pergi ke rumah sakit bersama. Masuk ke salah satu ruangan dokter kandungan setelah menyelesaikan pendaftaran. Baru ketika tiba giliran Marsha, ia dan Julian masuk beriringan.
Rasa cemas dan gelisah menghantui benak keduanya. Apalagi ketika dokter perempuan itu bahkan bertanya kapan kali terakhir mereka berhubungan. Rasanya canggung dan sedikit malu. Bagaimana mungkin Julian dan Marsha bisa dengan gamblang menjawabnya sementara mereka saja tidak tahu menahu.
Marsha hanya menjawab sekedarnya lalu mereka di arahnya untuk USG. Marsha dibantu suster untuk berbaring di brankar yang ada di ruangan itu.
"Apa harus di USG juga, Dok?" Marsha yang sejak tadi menahan tangis akhirnya bertanya.
Dokter perempuan yang kira-kira berusia lima puluh tahun itu mengangguk. Wajahnya juga menunjukkan sedikit kekhawatiran. Bagaimana mungkin dua anak remaja mendatangi dokter kandungan untuk mengaborsi janin. Meski mereka telah berganti pakaian dan tidak mengenakan seragam sekolah, namun sangat kentara jika usia mereka masih sangat muda.
"Iya. Untuk melihat bagaimana keadaan janin dan sudah berapa bulan usianya."
Marsha meneguk ludah dan menoleh secara bersamaan pada Julian. Lelaki itu mengangguk sekali, menguatkan Marsha bahwa ia harus mematuhi dokter agar baik-baik saja.
Marsha akhirnya berbaring dan dioleskan sesuatu di atas perutnya oleh suster. Julian dengan sabar berdiri menunggu di sisi Marsha sembari mengaitkan jemari mereka. Begitu alat digerakkan di atas perut Marsha, layar monitor juga bergerak. Julian meratapinya dengan mata berkaca dan perasaan sesak.
"Usia kandungannya sekitar lima puluh dua hari atau lima bulan. Organnya juga dalam keadaan bagus semua. Saya tunjukkan dimana letak tubuhnya." Dokter perempuan itu menggerakan alat ke bagian atas perut Marsha. "Ini kepala bayinya... Ini tangan, dan ini kakinya."
Marsha mengigit bibir bawahnya. Bayi itu bahkan gini telah memiliki organ yang utuh, bagaimana bisa Marsha berniat mengugurkannya persis seperti pembunuh?
Marsha mulai bergerak gelisah. Pemikiran buruk satu persatu mulai menyerang kepala. Apalagi ketika dokter itu mulai kembali bersuara.
"Bayinya sangat sehat. Kita juga bisa mendengar detak jantungnya."
Begitu alat mendeteksi detak jantung janin yang ada di perut Mersha, satu ruangan senyap digantikan dengan suara degupan yang terasa begitu nyata. Beberapa detik kemudian Marsha kembali meneguk ludah. Demi Tuhan, dia bisa dengan tegar mendengar semua organ bayinya tapi tidak bisa mendengar suara detak jantungnya.
Bayi itu hidup, bayi itu ada. Dia manusia yang sama seperti dengannya.
"ENGGAAAAKK!!!" Tiba-tiba saja Marsha berteriak. Gadis itu mendorong kasar tangan dokter di perutnya dan beralih meremas kepala. "UDAH CUKUP AKU GAMAU DENGAR LAGI!"