24#Datangnya Sang Perisai

5.3K 410 770
                                        

Ternyata banyak banget yg udah setia nunggu dan nagih. Aku juga kangen banget update disini..

Dan akhirnya kita ketemu sama si bontot Julian lagi!🥰

Jangan lupa vote dan komennya guys karna itu berharga banget buat bikin aku semangat update.

Gratis ko, gak di pungut biaya.

Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Salah satu hal yang paling Marsha sesali di dunia ini adalah menyetujui tumpangan dari Galen untuk pertama kali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Salah satu hal yang paling Marsha sesali di dunia ini adalah menyetujui tumpangan dari Galen untuk pertama kali. Yang akhirnya membawa ia untuk melipir ke sebuah restoran dan berakhir pulang saat waktu sore menjelang.

Dengan langkah gontai Marsha masuk ke dalam mobil begitupun dengan ayah tirinya yang telah bersiap di setir kemudi. Bukan tidak bisa. Marsha telah memaksa lebih dari belasan kali untuk segera pulang atau mengancam akan kabur, namun seperti yang kalian tahu bahwa orang seperti Galen akan selalu punya alasan. Dia bilang lebih baik menyelesaikan makanannya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia sendiri yang meninggalkan restoran lantaran Marsha yang sudah tidak tahan.

"Heran, baru juga makan, udah main minta pulang," gerutu Galen menggeleng tidak habis pikir pada Marsha yang mulai menutup pintu mobil.

"Aku capek, Om. Kalau emang Om masih mau di sini yaudah biar aku pulang sendiri aja. Kenapa ngikutin?" Marsha berbalik menatapnya sinis.

Alih-alih menjawab, Galen hanya menaikkan sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. Dia memilih untuk tidak berdebat kali ini. Beralih menarik pedal gas dan mulai fokus mengemudi.

Mendapati Galen yang tidak menyahuti omongannya seperti biasa, Marsha malah melemparinya dengan tatapan curiga. Entah mengapa pria dengan setelan kemeja flanel itu tak henti-hentinya menyunggingkan senyum penuh arti. Apa yang dia rencanakan kali ini?

Tak mau pikiran buruk terus masuk ke dalam kepala, Marsha memilih mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Matahari mulai menyingsing perlahan-lahan. Meninggalkan berkas-berkas cahaya oranye yang menjadikan sore jauh lebih temaram. Marsha menyukainya, alih-alih sore teduh yang dihiasi hujan seperti halnya kesukaan Julian.

Ah, tiba-tiba saja ingatan Marsha jatuh pada nama Julian.

Beberapa menit sunyi dalam mobil membuat lamunan Marsha kian merambat semakin dalam. Ya. Itu cukup menenangkan. Sebelum sesuatu yang aneh tiba-tiba saja menjalari tubuhnya.

Hal itu membuat Marsha secara spontan bergerak tak nyaman. Sekujur tubuhnya terasa panas. Rasa gelisah membuatnya bergerak-gerak mencari posisi duduk ternyaman namun tidak berhasi. Dan ia masih tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya ini.

"Kenapa, Sha?" Galen bertanya. Seketika membuat Marsha menoleh dengan tatapan gamang. Ia diam tapi menyadari jika satu suara itu berhasil membuat darahnya berdesir. Bahkan nyaris membuat tubuhnya terasa terbakar.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang