"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara menggelegar terdengar menyapa telinga setelah sebuah tangan besar menghantam kuat meja. Madhava sontak terperanjat. Ditengoknya seseorang yang kini berdiri membungkuk di hadapannya dengan kedua tangan mendarat di sisi meja kayu itu sebagai tumpuan. Madhava menatapnya datar kontras dengan lelaki urakan yang kini tampak menyeringai.
"Lo nggak capek apa belajar mulu?" Lelaki itu bertanya dengan tatapan rendah penuh meremehkan ke arah Madhava.
Delmar, Nevan dan Cavero adalah tiga sejoli yang datang dari kelas 12 IPS 3. Langganan memalak anak kelas IPA termasuk kelas Madhava. Padahal mereka masih seangkatan. Namun entah mengapa semuanya merasa segan dengan ketua mereka, Delmar.
Dia memiliki tubuh tinggi kekar ditambah wajah yang selalu memasang tampang garang. Incaran bully-annya selalu saja yang memiliki kekurangan dalam fisik. Dia berpikir orang-orang seperti mereka tidak akan pernah memberikan perlawanan lantaran tidak berdaya. Sama seperti Madhava. Ketika Delmar menyambar bukunya begitu saja, ia masih diam dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya.
"Emang baca beginian bikin lo pinter?" Delmar melirik Madhava lewat sudut mata dari balik buku novel milik cowok itu yang diambilnya secara paksa.
Sementara itu, Nevan dan Cavero yang selalu menjadi pengikut setia Delmar sudah menduduki dua meja yang berada di sisi Madhava sambil terkekeh samar penuh ejekan. Mereka tidak peduli meski para gadis pemilik meja tersebut sudah memaki sedari tadi.
"Bego mah bego aja kali."
Bugh!
Kemudian mereka kompak menyemburkan tawa bertepatan dengan buku melayang dari tangan Delmar yang sengaja memukulnya tepat pada kepala Madhava.
Seisi kelas jelas risih dengan kehadiran mereka. Tapi tak bisa berbuat apa-apa lantaran lelaki brutal itu merupakan anak dari kepala sekolah. Ironis memang. Delmar menggunakan jabatan sang orang tua sebagai ancaman. Yang lantas membuat Madhava menatapnya geram lantaran tak pernah absen menjadi korban.
"Apa?" Lagi-lagi Delmar mendominasi aksinya kini. Dia bertanya dengan kedua alis terangkat seakan tengah menantang.
Lalu tak lama kemudian satu buku novel itu dilempar hingga terjatuh mengenaskan di atas lantai. Dan selanjutnya dia menyemburkan beberapa untaian kata yang sukses mengoyak habis pertahanan milik Madhava.
"Lo ngomong aja nggak bisa apalagi ngelawan?"
Dahulu, dahulu sekali ada seseorang yang berkata padanya bahwa hal-hal seperti pasti akan selalu ia dengar. Entah dimana dan kapan. Yang pasti, Madhava hanya perlu menutup telinganya. Sebab dia tidak tidak bisa menutup mulut itu satu persatu, maka ia hanya perlu menganggap ejekan serta celaan mereka sebagai angin lalu.