43#Puncak Masalah

1.4K 98 5
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Keesokan harinya, semua murid menjalani upacara yang rutin dilaksanakan di hari senin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Keesokan harinya, semua murid menjalani upacara yang rutin dilaksanakan di hari senin. Semua berkumpul di barisan masing-masing. Kabar baiknya, makin kesini Julian juga semakin rajin. Biasanya ia akan akan melewatkan upacara dan memilih tidur di dalam markas tetapi kini dia sudah berdiri menjulang di antara barisan murid laki-laki.

Pengibaran bendera merah putih telah dilakukan beberapa menit yang lalu. Terik matahari seolah tak menyurutkan semangat para anggota paskibra kecuali yang lainnya. Suara keluhan terus terdengar dan yang paling menonjol adalah Marsha.

Sebelumnya Marsha tak pernah merasa seperti sekarang. Tubuhnya sedikit demam, pusing dan agak mual. Pergerakannya yang tak bisa diam itupun kemudian ditangkap Nadine yang berada di barisan belakang.

"Sha, lo kenapa? Nadine bertanya sambil mengetuk-ngetuk pundak ringkih Marsha.

Gadis itu kemudin menoleh dengan lemah. Tarikan napasnya terdengar lelah. "Enggak papa kok, Dine."

Begitu melihat betapa pucatnya wajah Marsha, Nadine lantas panik. "Sha, muka lo pucet banget. Lo sakit?"

Marsha menggeleng pelan.

"Bohong. Muka lo pucet banget, anjir. Mau gue anter ke UKS? Ayo ...Daripada lo pingsan di sini nanti."

Lagi-lagi Marsha menolak dengan halus. Ia pikir upacara akan segera berakhir dan tidak apa-apa jika ia menahannya sebentar. "Kalau gue udah nggak kuat, baru gue kasih tau lo, dine."

Maka Nadine tak bisa lagi membujuk Marsha dan berakhir mengiyakannya. Namun bermenit-menit selanjutnya setelah mic diambil oleh kepala sekolah untuk memberikan pidatonya, Marsha merasa waktu berjalan begitu lama. Sedangkan tubuhnya kian lemas. Ia mencengkram perutnya sendiri setelah dirasa semakin keram.

Tak terasa, Marsha meringis. Tubuhnya membungkuk lalu membungkam mulutnya sendiri menahan gejolak di perut. Ia lalu cepat-cepat menoleh ke arah Nadine. "Dine, kayaknya gue perlu ke toilet deh. Gue mau muntah, kayaknya gue masuk angin."

"Tuhkan ...Kata gue juga apa. Ayo kita ke belakang buruan."

Tanpa diketahui, diam-diam seorang lelaki melangkah menjauhi barisan untuk mengikuti langkah keduanya. Lalu Atas kekeraskepalaan Nadine, Marsha akhirnya berhasil dibawa ke UKS kemudian ia meminta untuk tak perlu ditemani. Dengan segera Marsha memuntahkan isi perutnya ke wastafel kemudian membuka keran dengan gemetar.

Perlahan gadis itu mengangkat wajah. Berkaca di depan cermin. Wajahnya yang tanpa riasan kini begitu pucat pasi. Dugaan-dugaan buruk seolah menyerbu isi kepalanya. Marsha menggeleng kuat. "Enggak mungkin." Ia kemudian terkekeh garing.

Marsha kembali melangkah menuju brankar UKS. Dan betapa terkejutnya ia ketika membuka gorden, yang ia temukan justru kehadiran Julian yang tengah duduk di kursi sana.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang