40#Di ujung Tanduk

1.7K 96 11
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Keterkejutan Julian rupanya berhasil membangunkan Marsha

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Keterkejutan Julian rupanya berhasil membangunkan Marsha. Perlahan gadis itu bergerak terusik lalu membuka matanya sedikit. Betapa kagetnya ia ketika hal yang pertama kali muncul di pengelihatannya adalah seorang Julian Argawinata. Lelaki itu tampak bertelanjang dada. Duduk di sampingnya dengan mata membulat sempurna.

Tarikan napasnya jadi bersahut-sahutan dengan Marsha. Mereka terlalu banyak menemukan tanda tanya di atas kepala. Masha yang belum menyadari sepenuhnya tentang kondisi ini mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Badannya terasa dingin. Baru ketika ia hendak beringsut duduk, gadis itu tahu bahwa tubuhnya tidak mengenakan apa-apa selain terbungkus selimut.

Marsha menelan salivanya dengan susah payah. "Lo ...Ngapain gue?" tanyanya dengan suara bergetar. Kedua tangannya meremas kuat sprei.

Julian menggeleng kukuh. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Untuk itu Julian mendekat dan hendak menyentuh tangan Marsha. "Sha-"

"ENGGAK! LO NGAPAIN GUE, JULIAN? KENAPA LO BISA ADA DI SINI?!"

Marsha berteriak kencang. Reaksi yang wajar diberikan oleh seorang penderita bipolar saat dia merasa terancam. Belum sempat Julian tenangkan gadis itu, Marsha sudah lebih dulu bersingsut mundur dengan tetap mempertahankan selimut. Melempar apapun bisa dirinya lempar ke arah Julian, termasuk bantal, guling bahkan nyaris saja lampu kamar menjadi korban.

"MARSHA, DENGERIN GUE DULU!"

"ENGGAK! LO NGAPAIN GUE? KENAPA GUE BISA ADA DISINI BERDUA SAMA LO, BRENGSEK!!"

Bugh

Satu kamar hotel sudah nampak seperti kapal pecah. Marsha kesetanan dan Julian kewalahan menghapi amukannya. Begitu lampu kamar hendak dilayangkan kepada Julian, buru-buru lelaki itu menahan pergerakan Marsha dengan mencekal pergelangan tangannya.

"Stop, Sha. Gue nggak tahu apa-apa!"

"ARGHHHH!!" Marsha berteriak frustasi. Tak sudi disentuh Julian, Marsha menarik tangannya kasar.

Sesaat gadis itu merunduk dengan napas yang sudah tidak lagi teratur. Dadanya naik turun. Rambutnya berantakan, apalagi ketika ia berusaha mengingat kejadian terakhir yang membawanya sampai pada titik ini.

Marsha ingat semalam ia berjalan pulang namun tiba-tiba ada yang mengejarnya. Lalu orang itu menarik tangan dan membekap mulutnya tiba-tiba. Ia tidak ingat apa-apa lagi setelah itu. Lalu kehadiran Julian di sini? Dengan tubuh tak terbalut pakaian sama sekali?

Marsha tidak ingin menerima fakta ini namun realita yang terjadi begitu jelas. Hari dimana Julian ingin menyatakan cinta untuk kesekian kali, Marsha malah memilih Allucard. Kemudian hari-hari selanjutnya Julian tampak menjauh. Apa ia begitu sakit hati sampai tega menidurinya begini?

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang