20#Terluka untuk Menjaga

7.4K 680 896
                                        

Pada gercep amat, baru juga kemarin up 😭tapi karena target sudah terpenuhi, kita up lagi sesuai janji^^

Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Ada yang lebih menyayat dibanding sebuah cinta tak terbalas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada yang lebih menyayat dibanding sebuah cinta tak terbalas.

Yaitu menemukan seorang kawan yang selama ini kamu percayai, berdua bersama seseorang yang kamu sukai.

Matanya memanas. Dengan napas terengah, Julian menghampiri Marsha di sela-sela gadis itu menangis keras. Julian mengenyampingkan emosinya dengan melangkah lebar menghampiri Marsha. Lalu menarik kepala gadis itu masuk ke dalam dekapannya.

"Its okay.. ada gue di sini. Lo nggak sendiri."

Tepukan halus hadir di lengan Marsha berulangkali. Beriringan dengan suara merdu Julian menyusup lembut diantara lingkaran trauma yang membuatnya tak terkendali.

Marsha masih terlihat sesenggukan di dalam dekap hangat Julian hingga membuat kaos hitam lelaki itu basah oleh air matanya. Samar-samar ia bisa mendengar beberapa orang masuk mengerubungi Gentala.

Perlahan Julian melerai pelukan. Lelaki itu merangkum wajah Marsha dan bertanya sarat akan kekhawatiran. "Ada apa? Lo kenapa? Bilang sama gue, Sha."

Tidak ada jawaban yang terlontar selain sepasang mata sembab Marsha mengarah sepenuhnya pada Gentala yang mulai dibantu beranjak. Sikapnya yang tak luput dari Julian membuat lelaki itu turut mengikuti arah pandang gadisnya. 

Satu hal yang membuat panas dalam dirinya semakin membara. Dia tidak pernah menduga jika keadaan memprihatinkan Marsha yang terus menyilangkan kedua tangan di dada persis seperti seorang gadis yang nyaris dilecehkan berdua bersama satu kawannya yang tak juga memakai pakaian.

Pintu juga tampak terkunci tadi. Jelas ada yang tidak beres di sini. Darahnya seketika mendidih. Kedua tangannya terkepal di sisi.

Sehingga dengan begitu saja, Julian berbalik membelah kerumunan semua anggota yang membantu Gentala. Bersimpuh dengan satu kaki terlipat. Sementara Gentala yang sudah setengah  duduk memandang Julian dengan satu mata yang lebam.

Apakah lelaki itu ingin membantunya? Tetapi Julian memandangnya dengan sorot mata kecewa.

Bugh

"JULIAN!" Gama memekik.

Terbukti dari semarah apa Julian sekarang, tanpa berpikir panjang dia sudah menerjang Gentala dengan pukulan. Tanpa peduli jika saat ini lelaki itu masih menanggung perih atas balasan Marsha tadi.

Seisi ruangan terkesiap. Meski was-was ketuanya akan marah, mereka tidak pernah menduga Julian akan langsung memukuli Gentala dengan membabi buta.

"Julian stop! Gentala juga kesakitan!" seru Abrisam lantang.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang