"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pulang dari rumah Claudia, Julian lekas menuju markas. Ia memarkirkan motor, kemudian langkah besarnya berlarian masuk ke dalam. Info yang didapat dari Gama adalah satu hal yang meledakan benaknya. Ia jadi tergesa-gesa, tidak sabar dengan penjelasan selanjutnya dari para anggota.
Sebab ini berkaitan dengan anaknya, Jenderal Marma Perkasa.
Begitu Julian membuka pintu, seluruh pasang mata tertuju pada lelaki itu. Dengan napas terengah dia masuk dan satu anggota berdiri menyodorkan potongan kertas lusuh dimana itu berisi tulisan Rainer. Ya, Julian begitu mengenal tulisan mata-matanya itu. Tulisan itu berisi...
Anak itu bukan anak Julian.
"Ini semua berasal dari Darian, Jul." Abrisam berdiri untuk menjawab kebingungan Julian pertama kali.
"Lo tenang dulu, Jul. Duduk dulu," ujar Gama ikut bersuara. Melihat Julian tertegun dengan bercucuran keringat membuat mereka berinisiatif bergeser agar ketuanya bisa lebih dulu duduk di atas sofa.
"Darian?" Kening Julian berkerut heran.
Gama mengangguk. "Darian frustasi karena kematian Rainer bikin dia ngerasa bersalah. Terus satu hari, dia pergi ke lapas buat ketemu si rambut merah. Dia berniat numpahin rasa kecewanya tapi pas dia sampai di sana... Ternyata si rambut merah atau Gerry udah dalam keadaan babak belur dikeroyok tahanan lain."
Satu fakta itu membuat Julian menelan salivanya. Dia dengan sabar menunggu kelanjutan cerita.
"Dan karena mungkin The Zurrel nggak bisa ngeluarin dia dari penjara dan cuma jadi kambing hitam, Gerry ngasih tau sesuatu kalau sebenarnya sebelum Darian dan Rainer dikepung, Rainer udah nulis surat di ruangan dia. Mereka rebutan sampai akhirnya kertas itu robek. Belum sampai ngerebut lagi, Rainer lebih dulu dikejar karena Darian dikeroyok di luar ruangan itu. Mereka lari, kertas yang dipegang Gerry juga diamankan para anggota The Zurrel. Cuma sisa robekan kertas ini yang berhasil diamankan Gerry buat jadi bukti."
"Tunggu." Gentala menyela tepat setelah Gama selesai menjelaskan. "Gerry belum sempat baca suratnya?"
Gama mengangguk. "Darian udah maksa Gerry buat ngaku dan terus terang, tapi dia memang belum baca. Keadaan waktu itu kacau balau sampai untuk sekedar foto aja dia nggak bisa. Seandainya dia udah baca pun, dia bakal ngaku karena dia juga merasa dijebak oleh geng nya sendiri."
Gentala menghela napas gusar. "Pergerakan mereka terlalu cepat. Tapi mereka diam dan mencoba tenang seolah nggak ada apa-apa."
"Licik banget emang."
"Kita harus apresiasi juga karena pada akhirnya Gerry mau ngaku. Kalau dia nggak ngaku, kita tetap di sini sini aja," tambah Abrisam dengan tatapan terarah pada Julian yang masih termangu.