Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3

Sesaat Marsha memberinya jarak. Di bawah derasnya hujan yang berjatuhan, ia berdiri sepenuhnya di hadapan Julian tanpa berniat membuka suara. Bukan tidak ingin, Marsha hanya bingung harus berkata apa.
Marsha mendadak gugup begitu mendapati kedua alis Julian yang bertaut juga sepasang mata tajam lelaki itu seakan mengintimidasi. Ini bukan kali pertama gadis itu menemukan tatapan penuh kebencian Julian karena sayatan luka yang dibuatnya sendiri. Dan ia tahu resikonya apa nanti.
Julian pasti akan marah. Marah sekali.
Hal itulah yang lagi-lagi membuat Julian menarik napas panjang. Cowok itu memperhatikan ekspresi Marsha yang tampak panik dan ketakutan. "Are you okay?"
Lantas Marsha yang semula merunduk dalam-dalam mulai mengangkat pandangan. Di sanalah ia menemukan sepasang netra cokelat gelap mulai menatapnya teduh. Napasnya memburu. Rambut hitamnya berantakan. Wajahnya basah oleh tetesan air hujan.
No. Rasanya capek. Mau nangis, i just wanna end this sadness. I'm tired. I'm broken, but i'm still trying my best.
Akan tetapi, susanan kata merintih yang sudah terukir jelas dalam hatinya hanya bisa didengar oleh Marsha seorang. Dia menelan untaian kata itu bulat-bulat dan memilih mengalihkannya pada Julian. "Im okay."
"Enggak." Julian menggeleng kuat. "Pasti ada apa-apa. Lo nggak mungkin ngelakuin hal itu lagi kalau lo nggak ada masalah."
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu respon Marsha lebih dulu Julian menyambar pergelangan tangan Marsha dan mengecek goresan luka yang tercetak jelas di atas urat nadinya.
"Ini apa?" tanya Julian menatap Marsha sangsi. Sedangkan raut wajah gadis itu langsung berubah pucat pasi. "Gimana lo bisa jelasin ini sama gue?"
Marsha terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari Julian yang tampak seperti akan marah besar. Inilah alasan mengapa dirinya lebih memilih menyembunyikan lukanya sendiri.
Marsha tidak mampu menanggapi kemarahan milik Julian yang seperti ini.
"Marsha."
Tatapan kosong Marsha tetap terarah ke depan.
"Gue lagi ngomong sama lo. Liat mata gue," pinta Julian dengan intonasi merendah.
"Enggak."
Hujan perlahan mulai mereda. Tapi tidak dengan luapan emosi dalam diri Julian kini. Melihat bagaimana darah mengering di anggota tubuh Marsha membuatnya semakin mengeratkan cengkraman pada pergelangan tangan gadis itu. Dadanya bergemuruh.
Julian mengusap wajahnya kasar. "Lo udah lama nggak ngelakuin ini setelah ketemu Dokter Anya. Sekarang kenapa lo ulangi lagi hal yang seharusnya lo hindarin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
LIMERENCE
Fiksi Remaja"Kalau lo tau gue depresi, gimana?" "Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona." ****...
