"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
KURANG DARI 3 PART LAGI MENUJU ENDING! VOTE DAN KOMEN KARENA KITA NGGAK AKAN KETEMU LAGI🥺🫶🏻
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di depan sebuah gedung sekolah dengan banyak lukisan anak-anak dan bising yang menyeruak, sepasang sepatu hitam mengkhilap turun dari mobil. Diikuti dengan hal serupa oleh sepatu kecil. Mulanya, kaki mungil itu mengambang tapi kemudian dia melompat dan mengeratkan pegangan tas nya.
Jenderal sudah sekolah.
Di taman kanak-kanak itu Julian mengantarnya setiap pagi. Tak jarang, Marsha juga ikut andil dalam mengantar jemput sang anak tetapi pernah suatu hari dia lupa menjemput Jenderal. Alih-alih menangis, anak itu justru bilang pada gurunya bahwa... "Ibu sedang sakit."
Jadi ia ingin memaklumi kebiasaan ini, lalu menunggu Ayahanda yang akhirnya menjemput di sore hari. Ya, Jenderal tumbuh menjadi anak yang kuat, pintar dan suka mengoceh seperti Julian.
Siapapun itu yang bertanya "Kemana ibumu Jenderal? Kenapa ibumu kayak gitu?" Ayahanda Julian selalu memberitahunya bahwa dia hanya punya satu jawaban satu, yaitu... 'Ibu sedang sakit.'
"Woi, Janda!"
"JENDREEEE!!"
Arsenal dari arah lapangan sekolah menyengir setelah menggoda Jenderal dengan panggilan andalannya. "Iya, Maaf, Ketua."
Julian hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat interaksi Arsenal dan putranya yang selalu bertengkar seperti dengannya dulu. Jenderal memang lebih sering memanggil namanya sendiri dengan sebutan 'Jendre' sebab waktu masih cadel dulu, dia sering mengeluh bahwa dia kesulitan memanggilnya namanya.
"Papa muda, udah stand by aja lo," sapa Julian yang dihadiahi oleh hembusan napas berat oleh Arsenal.
"Iya nih, gue ngeri Jul digaplok pake pantat panci lagi sama Lucia."
Ya. Setelah lima tahun berlalu, Arsenal menikahi seorang gadis cantik dengan karakter tegas bernama Lucia Madrid. Berawal dari godaan buaya daratnya karena nama mereka sama-sama berbau sepak bola dan rupanya kedua ayah mereka pun teman semasa SD dulu, terjadilah perjodohan yang juga membuat keduanya merasa pas. Dan Arsenal pun tobat.
Kedua anak mereka kembar. Gemuk dan doyan makan. Bernama Selina dan Santiago.
"Lo jangan ngeledek Jendre terus, Nal. Ntar dia bales manggil Santiago dengan panggilan 'Santi' lo mau?"
Bugh
Secepat pertanyaan bernada candaan dengan kekehan ringan milik Julian keluar, Santiago memukul paha Julian kencang. "Aduh, sorry, Bos Ago."