"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baru banget update nih Paketu receh kita wkwk
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🦋🦋🦋
"Julian, sekarang ini Marsha tinggal-"
"Nadin!"
Sontak, keduanya tersentak. Nadin tak sempat melanjutkan perkataannya lantaran sebuah seruan menyela. Baik dirinya dan Julian menoleh kompak ke sumber suara. Dimana Marsha mendekat dan membuat mereka menatap waspada.
"Eh, Sha." Nadin menyengir begitu Marsha sampai di hadapan dirinya dan Julian. "Lo kok kesini? Kenapa nggak istirahat aja di kamar?"
Marsha menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Merasakan kecanggungan yang berlebihan. "Tadi gue haus. Jadi ke dapur buat ngambil minum." Dia menjeda hanya untuk duduk di tengah-tengah mereka. "Terus gue liat kalian lagi di sini"
Kemudian Marsha menoleh pada Nadin dan Julian secara bergantian. "Lagi pada ngomongin apaan sih?"
Meski terdengar santai, saat ini Nadin menyadari jika Marsha seolah memberi sinyal padanya untuk mengakhiri obrolan terkait dirinya pada Julian. Tentu bukan tanpa alasan ia datang. Sejak Marsha menapaki rumah sang sahabat bersama Julian, dia sudah berpirasat Julian akan bertanya dan Nadin akan membongkarnya membuat Marsha kian merasa was-was.
Oleh karenanya Nadin kini merasa tidak enak sekarang. Gadis itu bergumam tidak jelas dengan tatapan mengedar. Merutuki dirinya dalam hati. Mengapa ia nyaris kelepasan begini.
Marsha mengernyit. Menyadari jika Nadin mati kutu ditanya olehnya, ia kemudian menoleh pada Julian. Lelaki itu juga tengah menatap ke arahnya.
Senyumnya mengembang. "Lian, ngomongin apa?"
Julian tidak langsung membalasnya. Melainkan matanya menangkap sosok Nadin yang terlihat merasa bersalah, lalu tersenyum lembut ke arah Marsha. "Bukan apa-apa."