"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Selain komen, vote nya juga jangan lupa yaaaa. Biar ak makin semangat up-nya<33
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dalam kurung waktu lima belas menit saja, halaman luas sebuah bangunan besar berlantai dua dipenuhi kerumunan para lelaki berjaket hitam dilengkapi logo tengkorak membentuk huruf X dengan tampang-tampang sangar.
Segala jenis motor besar telah berjejer rapi di sisi tanah lapang. Di depan bangunan tua berdesain klasik itu, mereka-mereka yang baru meninggalkan Pandawa lekas bergegas mengisi barisan yang telah diatur persis seperti para murid yang akan melaksanakan upacara. Terlihat rapi dan banyak sekali.
Arsenal, lelaki tinggi bermata hazel tajam berdiri gagah di depan para pasukan di atas pijakan semen tinggi. Di sampingnya, Gentala—yang kini telah mengganti seragam menjadi kaos hitam berkacak pinggang mengatur barisan.
Gama berkeliling guna mengabsen ratusan pelajar. Abrisam berdiri di ujung membagikan jaket kebesaran yang sengaja ditinggalkan sebagian anggota di markas besar. Sementara Madhava bertugas mengatur motor dari para anggota yang baru sampai. Sejak ketua mereka membagi pesan untuk mengumpulkan semua pasukan, para anggota inti nampak sibuk. Sedang sebagian besar dari mereka masih planga-plongo terhadap panggilan ketua yang terbilang dadakan.
"Ini ada apaan sih kita dikumpulin begini?"
"Mau perang bukan?"
"Lah emang The Zurrel berulah lagi? Bukannya kemarin masih tenang-tenang aja? Kalau emang mau nyerang, gue lupa bawa sabuk besi anjim!"
"Coba tanya Bang Gama."
"Bang, Bang." Seorang adik tingkat memanggil Gama yang memang kebetulan tengah berkeliling barisan sambil membawa buku panjang berisi nama seluruh pasukan.
Gama menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali mencatat. "Apaan?"
"Pak ketu Julian ngapain sih ngumpulin kita di sini? Mau nyerang apa gimana? Kalau iya, kita izin pulang dulu, Bang. Belum siapin senjata soalnya. Yang ada di markas pasti kurang."
Pergerakan tangan Gama terhenti. Pena yang semula berada di genggamannya di selipkan di daun telinga. Lalu dia menoleh pada anak itu. "Gue juga nggak tau."
Lah? Ini inti anggotanya saja tidak tahu. Lantas apa yang akan dilakukan Paketu Julian? Apakah sepenting itu?
"Tapi pokoknya lo pada nurut aja. Soalnya kita nggak tau apa yang terjadi di antara dua kubu. Cuma Paketu doang yang tau," kata Gama begitu.
Adik tingkat yang barusan bertanya akhirnya mengangguk paham. Berbeda dengan satu temannya yang tampak berpikir keras. "Apa mungkin udah ada titik terang dari kasus pembunuhan? Itu cuma akal-akalannya The Zurrel aja buat jebak Xavior bertahun-tahun lamanya, dan sekarang ketahuan makanya Pak ketu Julian ngajak pasukan buat nyerang?"